Haerul Bestari Bengardi, Dirut PT Agriculture Construction Company Limited (Agricon) adalah penerus bisnis keluarga yang patut diacungi dua jempol. Betapa tidak, Haerul berhasil menyelamatkan perusahaan keluarganya dari jurang kebangkrutan. Dia dipercaya memegang Agricon pada 1994 dan berhasil mengembangkan enam perusahaan. Langkah pertama Haerul ketika memegang tongkat komando perusahaan adalah melepaskan sejumlah unit bisnis Agricon, seperti bisnis batu bara yang tidak terkait dengan bisnis inti Agricon di bidang pertanian dan pengendalian hama.
Sebelum menapaki keberhasilan, Haerul melakukan berbagai langkah perubahan, antara lain menginventarisasi aspek strength, weakness, objective & target (SWOT), merestrukturisasi utang perusahaan ke bank dan merevitalisasi bisnis Agricon. Dalam tempo setahun sejak memegang bisnis Agricon, Haerul mencanangkan pembangunan pabrik. "Kami fokus untuk berubah yang dulunya hanya sebagai agen, kemudian mulai membikin pabrik dan formulasi pestisida, serta menyiapkan departemen pemasaran di tahun 1995," ujarnya.
Selain itu, Haerul di tahun tersebut sukses membeli lisensi Terminix, perusahaan pest control asal AS. "Tahun 1995 itu menjadi titik balik yang melahirkan Agricon baru," Haerul menandaskan.
Pada 1996, pembangunan pabrik pestisida Agricon di Gunung Putri, Bogor telah rampung. Setahun berikutnya, perusahaan meluncurkan produknya. Tahun-tahun berikutnya, Agricon mengukir kesuksesan meski mengalami jalan terjal ketika dihantam krisis ekonomi 1998. Agricon kini menjelma sebagai perusahaan besar dan memiliki 6 anak perusahaan.
Yang pertama adalah PT Agricon Indonesia yang dijadikan sebagai produsen pestisida. "Perusahaan ini yang menjalankan kompetensi kami sebagai produsen pestisida. Karena kami pindah haluan jadi produsen maka kini kami yang harus membuat demand, create market," ujarnya. Kemudian yang kedua, PT Agricon Sentra Agribisnis Indonesia sebagai distributor infrastruktur pertanian seperti green house, irigasi tetes, hidroponik, hingga benih tanaman organik.
Anak perusahaan yang ketiga diberi nama PT Agricon Putra Citra Optima (APCO) yang memegang lisensi Terminix untuk menjual produk dan jasa pengendalian hama. Cabangnya sebanyak 33 wilayah di berbagai daerah, salah satunya di Jayapura. Menurutnya, beberapa perusahaan besar, seperti KFC, Nestle dan Freeport menggunakan pengendalian hama Agricon. APCO di luar negeri memegang lisensi Terminix untuk Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. "Kami dipercaya menangani pengendalian hama hotel-hotel di Bali, kawasan residensial yang jumlahnya sekitar 50 ribu unit. Itu semua kami handle mulai dari anti rayapnya, anti tikus, kecoa dan lainnya," tukas Haerul.
Perusahaan keempat yakni PT Asia Gala Kimia yang menggarap segmen business to business. Perusahaan ini, misalnya, memproduksi pestisida yang dipesan perusahaan atau mitra bisnisnya. Kemudian si mitra bisnis itu memberi merek produknya. Kemudian perusahaan kelima adalah PT Agro Lestari Nusantara yang bergerak di bidang optimalisasi produk hilir pertanian. Berbagai produk berbasis pertanian dihasilkan anak perusahaan, misalnya Agro Lestari Nusantara memproduksi keset dari sabut kelapa yang bahan bakunya dipasok petani di Lampung. "Kami membeli sabut kelapa petani di Lampung dan sekitarnya untuk kami produksi jadi keset dan dijual ke IKEA internasional, kontraknya hampir US$ 50 juta," ujarnya.
Yang keenam, Haerul mendirikan PT Asian Gala Agri yang berpatungan dengan perusahaan Prancis, 5 Grain, untuk memasarkan benih jagung, mengembangkan peternakan sapi, daging dan susu. "Melalui Asian Gala Agri, kami ingin masuk ke peternakan sapi, daging dan susu. Sekarang yang sudah mulai berjalan adalah memproduksi pakan sapi. Nantinya kami akan menuju bisnis penggemukan sapi," tandasnya.
Sebelumnya, Agricon hanya mengandalkan distribusi produk kimia untuk pertanian. Roda bisnis perusahaan ini nyaris terhenti lantaran di tahun 1995, prinsipal ICI Zeneca, kimia asal Inggris, mencabut lisensi Agricon sebagai distributor tunggal di Indonesia. Walhasil, pendapatan Agricon melorot 80%. Kisah itu hanya kenangan. Sebab, Agricon ditopang oleh enam anak usahanya yang berkontribusi besar terhadap total omzet Agricon. Agricon Indonesia dan APCO, masing-masing menyumbang sebesar 40% terhadap total pendapatan Agricon. "Kalau digabung kontribusi kedua anak usaha itu sebanyak 80%, sedangkan sisanya disumbangkan dari empat anak usaha yang lainnya," Haerul menjelaskan.
Sekedar kilas balik, Agricon didirikan oleh Tatang Bengardi, ayah Haerul pada 1969. Ketika memegang tongkat komando Agricon, Haerul berkonsultasi dengan salah satu pamannya mengenai operasional bisnis. Pamannya yang sudah wafat itu salah satu komisaris Agricon. "Sedangkan mengenai visi dan grand design bisnis, saya mencari referensi sendiri. Cara pandang saya dan ayah serta paman berbeda karena kami berbeda generasi," tutur peraih MBA dari Golden Gate University, San Francisco, California, Amerika Serikat ini. (Swa.co.id/q)