Bisnis rintisannya didaulat sebagai 'The Most
Outstanding Home Health Service in The World untuk tahun 2016 . Ia juga
masuk dalam jajaran nominasi forbes 30 under 30 Asia dalam kategori
Healthcare & Science untuk tahun 2017.
Jika dilihat secara
bisnis, Try memang pantas menerima penghargaan tersebut. Bagaimana
tidak, bisnis yang ia rintis sejak tahun 2013, telah berkembang pesat
dengan perolehan omset hampir Rp 800 juta per bulan. Jumlah perawatnya
mencapai angka 495 orang per Januari 2017, yang terdiri dari lulusan SMK
keperawatan sebesar 325 orang dan perawat lulusan D3 dan S1 sebesar 175
orang.
Dengan gigih, ia giat berkeliling ke sekolah-sekolah
keperawatan guna mencari tenaga-tenaga perawat terdidik. Ia punya visi
besar untuk mengurangi angka pengangguran. "Kami memperkenalkan konsep
homecare kepada sekolah-sekolah di SMK dan mengajak mereka untuk ikut
bergabung, bersama-sama memajukan sektor kesehatan di Indonesia," ucap
dia.
Ia melihat tingginya jumlah lansia sebagai tantangan
sekaligus peluang. Jumlah lansia yang diperkirakan terus bertambah
mengikuti semakin tingginya Usia Harapan Hidup (UHH) di Indonesia,
menurut dia, memberi masalah baru yang juga tidak bisa disepelekan.
Dari
tahun 2004 - 2015, ia mengatakan terjadi peningkatan UHH di Indonesia
dari 68,6 tahun menjadi 70,8 tahun. Pada 2030, angkanya diproyeksi
meningkat lebih jauh mencapai 72,2 tahun. "Salah satu masalah yang
dihadapi kebanyakan lulusan dari SMK Kesehatan adalah mereka tidak tahu
harus kemana setelah mereka lulus. Padahal, seperti yang kita ketahui
kebutuhan akan tenaga kesehatan dan caregiver di Indonesia sangatlah
besar," ungkapnya.
Maka itu, ia yakin, kehadiran Insan Medika,
bisa membawa misi sosial yaitu meningkatkan derajat kualitas hidup
masyarakat, sekaligus mengurangi angka pengangguran. Sejak awal pria ia
memang mengembangkan bisnisnya agar bisa berkontribusi bagi penciptaan
lapangan kerja di daerah-daerah. Ia melihat, di daerah banyak berdiri
sekolah-sekolah keperawatan namun tidak diimbangi oleh jumlah rumah
sakit. Maka itu tak heran, bila kemudian banyak lulusannya menganggur.
"Saya selalu berkeliling ke SMK-SMK di pelosok-pelosok daerah,"
ungkapnya.
Dengan latar belakang keluarga dari kalangan kurang
mampu, ia lebih punya sensitivitas yang tinggi atas ketimpangan ekonomi.
Ibunya ia ceritakan dulunya bekerja sebagai babysitter sebelum
mempunyai usaha penyaluran babysitter sendiri. "Sejak kecil ibu saya
sudah menjadi orang tua tunggal, saya bahkan sempat rencananya akan
dititipkan ke panti asuhan, karena sulit bagi ibu saya bekerja sebagai
baby sitter sambil mengasuh saya," ucapnya mengenang.
Beruntung panti
asuhan, ketika itu menolak, hingga kemudian ibunya, mulai mencari
alternatif lain selain bekerja, yaitu mendirikan usaha jasa penyaluran
baby sitter. "Dari ibu saya, saya belajar tentang bagaimana bisnis
penyaluran," ungkapnya.
Secara tetang-terangan ia mengaku tidak
memiliki latar belakang pendidikan bidang SMA. Malahan ijazah sarjana
pun ia tidak kantongi, lantaran sudah terlalu asik dan menikmati menjadi
pebisnis di usia muda. "Saya lulusan SMA," ucapnya.
Secara umum,
bisnis penyaluran dan perawat memang bukan lah hal baru. Banyak pemain
juga berkecimpung di dunia yang sama. Namun Try, mengungkapkan ada
sejumlah keunggulan yang dimiliki Insan Medika dibanding para
pesaingnya. Dari segi kualitas, ia mengatakan Insan Medika hanya
menerima caregiver yang benar-benar punya background pendidikan
kesehatan. "Semua perawat dan caregiver kami, minimal harus lulusan SMK
kesehatan," ujarnya. Hal ini menurut dia berbeda dengan pesaingnya, yang
beberapa di antaranya, masih menggunakan orang yang tidak memiliki
latar belakang pendidikan kesehatan, untuk merawat para lansia. "Di kami
tidak bisa," ungkapnya.
Kebanyakan pasien, ia kemukakan masih
tersebar 70% persennya di Jabodetabek. Selain Jabodetabek, penyebaran
Insan Medika juga ada di Surabaya, Yogyakarta, Medan Bali dan Bandung.
Total per Januari 2017, ada 780 pasien yang dilayani Insan Medika.
Keluarga pasien, punya hak untuk menukar perawatnya, bila dirasa tidak
cocok, atau tidak sesuai. "Kami memberikan garansi selama masa kontrak
untuk penggantian perawat homecare," ungkapnya.
Adapun Untuk
tarif medis Insan Medika mematok tarif berkisar dari Rp 6-8 juta per
bulan, non medis antara Rp 3-6 juta per bulan. Untuk tarif visit
dikenakan berdasarkan per tindakan antara Rp 100.000 - 250.000 per
tindakan. Selain itu, Insan Medika menerapkan biaya kontrak berkisar 6
bulan sampai 1 tahun. Untuk 6 bulan berkisar di harga Rp 2,5 juta dan 1
tahun Rp 5 juta.
Sebagai bentuk inovasi, Insan medika memiliki
sebuah aplikasi on demand. Layaknya Go-jek atau Go-maid, aplikasi ini
melayani pasien yang hanya memerlukan perawatan medis sekali datang,
dengan mencari perawat yang lokasinya terdekat. Tarifnya dikenakan jarak
lokasi serta tarif per tindakan. Selain layanan homecare visit, Insan
Medika juga menerapkan layanan ambulance atau evakuasi medis,
pengambilan resep obat serta prepat. Untuk layanan ini pihak Insan
Medika sudah bekerjasama dengan beberapa provide lain. "Makin besarnya
permintaan tenaga medis membuat kami berencana menambah jumlah asrama,
yang selama ini ada dua," ungkapnya.
Beberapa orang tersohor ia
ungkapkan pernah memakai layanan Insan Medika, sebut saja artis Riza
Shahab untuk perawatan ayahnya, dan pebulu tangkis Tontowi Ahmad untuk
perawatan kakeknya. "Respon mereka baik," katanya. (Swa.co.id/d)