Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Kapolres Binjai AKBP M Rendra Salipu, Jatuh Cinta di Daerah Operasi Militer

- Minggu, 12 Maret 2017 12:57 WIB
10.175 view
Kapolres Binjai AKBP M Rendra Salipu, Jatuh Cinta di Daerah Operasi Militer
Medan (SIB) -Tak sedikit personil Polri yang pernah bertugas di daerah operasi militer (DOM) mengaku mengalami trauma perang dan memiliki kenangan pahit yang tak akan pernah dilupakan sepanjang hidup. Selain melihat rekannya gugur dalam operasi itu, ada juga yang mengalami luka berbekas hingga kecacatan permanen. Namun dalam hal melaksanakan tugas menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu, banyak juga pengalaman dan cerita menarik.

Kepada SIB di Mapolres Binjai, Kamis (9/3), Kapolres Binjai AKBP Muhammad Rendra Salipu SIK MSi mengatakan, dirinya yang saat itu berpangkat letnan dua (Letda), dipercaya menjadi Komandan Peleton (Danton) Pasukan Rajawali yang memimpin 30 personil Korps Brimob Polri, dalam Operasi (Ops) dengan sandi Sadar Rencong di Bireun Aceh tahun 1999-2000. Kala itu, Rendra dan 10 anggotanya jatuh cinta dengan wanita penduduk setempat, yang kini menjadi isteri (Bhayangkari) mereka.

Dikatakan pria kelahiran Ambon, 31 Mei 1975 itu, tugas di DOM merupakan cara ajaib Allah mempertemukannya dengan Ruchayah, seorang siswi kelas 3 SMA saat itu menjadi isteri sekaligus ibu dari keempat anaknya yaitu Reihana Tasya Vunna Salipu, M Mizam Kasmal Salipu, M Chandra Zauqi Salipu serta M Faiq Abrar Salipu.

"Karena saat itu kami aktif bersosialisasi dan melakukan patroli secara rutin, saya mengenal isteri yang saat itu masih sekolah. Beberapa tahun komunikasi jarak jauh, saya mengajaknya menikah hingga ini dia resmi menjadi Bhayangkari dan ibu untuk keempat anak kami. Tak hanya saya, 10 anggota yang saya pimpin saat itu juga menikah dengan anak gadis di sana," ujarnya.

Berbekal kedisiplinan dari orangtua dan sekolah SMA Taruna Nusantara Magelang, putera kedua dari 5 anak pasangan Alm Ayub Hasan Salipu dan Sri Kuswardani itu berhasil menyelesaikan penugasan seperti Ops Tatoli IV dan Ops Hanoin Lorose di Timor Timur, Ops Cinta Meunasah II dan III di Aceh, Ops Meunasah di Aceh, Ops Mutiara II di Ambon, Ops Sintuwu Maroso I di Poso, Ops Sadar Rencong di Aceh, Ops Sintuwu Maroso IV di Poso, serta menuntaskan tugas sebagai Komandan Kontingen Garuda Bhayangkara FPU Indonesia VII dk Darfur di Sudan, dan selanjutnya dipercaya menjabat Kapolres Binjai pada Mei 2016 lalu.

Meski mengakui tugas Kapolres berbeda dengan saat memimpin pasukan di DOM, Alumni Akabri tahun 1996 itu bersyukur, ia dan program kerjanya dapat diterima oleh masyarakat Binjai yang berakhlak dan bermental baik. Dengan begitu, katanya, tugas Polres Binjai melayani, melindungi mengayomi masyarakat, serta bertindak secara profesional dan proporsional dalam melaksanakan penegakan hukum. Pengalaman tugas di Polda Sumsel sebagai Wakapolres Ogan Komering Ilir dan Wakapolres Muara Enim, menjadi rujukan selama menjabat Kapolres Binjai.

"Setelah berulangkali tugas di daerah operasi dan kerap meninggalkan keluarga, saya dipercaya menjabat Kapolres Binjai. Meski tingginya nilai keagamaan warga mempermudah tugas kami, peredaran Narkoba di Binjai jadi permasalahan yang paling menyedot perhatian. Meski belum didapati peredaran dalam jumlah besar, tapi jumlah korban penyalahgunaan Narkoba di Binjai terhitung banyak. Untuk itu, selain menggalakkan fungsi intel dan Bhabinkamtibmas, perlu dilakukan upaya represif dan penegakan hukum di sejumlah lokasi yang telah dipetakan sebelumnya," tegasnya.

Sebagai Kapolres Binjai, ucapnya, ada 4 program yang diterapkan kepada personil Polres Binjai, terdiri dari program hadir yang berarti ada kehadiran polisi kapan dan dimanapun, program lapor dengan arti personil Polres membangun jaringan ke masyarakat dengan meningkatkan peran Bhabinkamtibmas, program pantau yaitu membentuk tim memantau Medsos, serta program sapa yang berarti personil turun langsung ke rumah warga atau menggelar pertemuan rutin dengan tokoh masyarakat sebulan sekali. Ke-4 program itu adalah representatif Comandder Wish Kapoldasu yaitu peningkatan kinerja dan modernisasi, pembenahan kultur, dan meningkatkan kemampuan mengelola media.

"Selain menerapkan disiplin, ABS adalah program yang selalu saya tekankan kepada anggota. ABS bukan artinya asal bapak senang, tapi gabungan Apearance (penampilan), Behaviour (perilaku) dan servis (pelayanan kepada masyarakat). Pola yang sering digambarkan kepada anggota yaitu iman dan takwa, kompetensi dan kapasitas, disiplin disertai loyalitas dan kehormatan, serta sehat jasmani dan rohani. Saya sangat mensyukuri hidup ini, khususnya pengertian keluarga atas tugas kepolisian yang saya jalani," ucapnya.

Menjawab pertanyaan SIB, lulusan S2 Kebijakan Publik Unsri Palembang itu menyatakan, media memiliki peran penting mendukung pelaksanaan tugas polisi selaku mitra kerja, baik memberitakan keberhasilan atau bahan evaluasi kinerja pihaknya. Selain itu, ia mengakui media merupakan corong penyampaian informasi kepada masyarakat, sehingga pesan dan pelaksanaan tugas kepolisian itu sampai ke masyarakat.

Diketahui, selama pelaksanaan tugas di Polri, Mantan Kaden Gegana Sat Brimob Polda Gorontalo itu telah mendapat sejumlah penghargaan antara lain Satya Lencana (SL) Seroja, SL Ksatria Tamtama, SL Dharma Nusa, SL Kesetiaan 8 Tahun,  SL Kesetiaan 16 tahun, serta penghargaan dari misi perdamaian PBB yaitu United Nation Medal dan SL Bhakti Buana. (Roy Simorangkir/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru