Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Berawal dari Bawah Tanah Rumah, Carl Rodrigues Bangun Perusahaan IT Bernilai $1 Triliun

- Minggu, 16 Juli 2017 22:22 WIB
1.468 view
Kanada (SIB)- Tidak peduli apa kata orang, begitulah prinsip pria Kanada ini. Meski seluruh keluarga dan sahabatnya mengatainya "sinting", Carl Rodrigues tetap teguh pada keyakinannya dan berhasil membangun satu perusahaan perangkat lunak Informasi dan Teknologi  (IT).
"Semua orang berpikir saya benar-benar sudah kehilangan akal sehat," demikian ujar pria yang juga sukses sebagai konsultan IT di perusahaan besar tersebut. 

Seakan tidak ingin bertahan di zona aman dan nyaman, suatu hari Rodrigues bangun dari tidurnya dan memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Bukannya melakukan kegiatan yang mungkin membantu orang lain, Rodrigues malah pensiun di ruang bawah tanah rumahnya dan memutuskan mengembangkan produk komputer yang kini mendulang penjualan terbaik.

Awalnya, Rodrigues terbentur dengan minimnya ide. Namun, karena khawatir dengan tekanan istri dan cibiran ibu mertua yang tinggal bersama mereka, Rodrigues membulatkan tekadnya. Dimulai pada 2001, mengurung diri di ruang bawah tanah rumahnya di kota Mississauga, Kanada, Rodrigues mewujudkan impiannya. "Tujuan saya adalah untuk berinspirasi memproduksi sesuatu yang benar-benar saya sukai. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tapi saya berpikir saya harus membuat terobosan," papar pria berusia 55 tahun tersebut seperti dilansir dari BBC, Senin (10/7).

Setelah berbulan-bulan bekerja tanpa kenal waktu, Rodrigues berhasil melengkapi idenya untuk pertama kali, berupa sistem perangkat lunak (software) yang memungkinkan penggunanya bisa mengendalikan telepon pintar mereka dari laptop. Rodrigues kemudian mendirikan perusahaan bernama Soti. Penjualan software buatan Rodrigues saat itu berjalan lamban, hingga 12 bulan kemudian Rodrigues mendapatkan panggilan telepon dari grup supermarket terbesar di Inggris.

Perusahaan Rodrigues tidak ingin menjual produknya kepada pemakai langsung, sebaliknya Soti lebih memilih perusahaan agar para staf mereka bisa berkomunikasi dan membagi data serta informasi dengan baik dan benar. "Saya masih bekerja di ruang bawah tanah ketika mendapatkan panggilan telepon tersebut, yang mengatakan mereka ingin memesan hasil inspirasi saya," ungkap Rodrigues.

Rodrigues tidak pernah melihat ke belakang-walau kebanyakan orang tidak begitu mengenal perusahaan IT miliknya karena tidak menjual produk langsung kepada konsumen-saat ini Soti mampu mengumpulkan pendapatan tahunan senilai $80 milliar.

"Saya rasa mereka tidak sadar sedang berbicara dengan pengusaha yang menjalankan usahanya dari bawah tanah. Jadi ketika ada seseorang menelepon menanyakan penjualan, saya menjawabnya dengan nada sangat jauh berbeda," tutur Rodrigues.

Menjadi perusahaan besar, Soti sepertinya belum membutuhkan investor luar. saat ini saham Soti 100 % dimiliki oleh Rodrigues dan istrinya. Terus menolak suntikan investasi, termasuk tawaran tertutup dari Microsoft pada 2006, pebisnis Kanada tersebut berambisi ingin membuat Soti mempunyai nama besar di dunia teknologi komputer setara Microsoft.

Mewujudkan ambisi tersebut, Rodrigues hanya terkendala oleh sulitnya merekrut programer bagus dan berdedikasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Soti telah membuka lowongan bagi programer walau belum memiliki pengalaman atau kualifikasi untuk mencoba keberuntungan mereka berkreatifitas di Soti.

Sejauh ini Soti telah merekrut 16 calon programer yang harus melalui serangkaian ujian. Soti juga mengontrak 20 programer dari Ukraina, yang juga membiayai kepindahan keluarga mereka ke Kanada.

Saat ini nilai Soti telah mencapai aset lebih dari $1 triliun dan mempunyai 17.000 rekan bisnis di seluruh dunia, serta mempekerjakan 700 karyawan di 22 negara. Tidak lagi berbasis di ruang bawah tanah, perusahaan Rodrigues saat ini bermarkas di dunia bangunan terpisah di Mississauga, Ontario, Kanada.
Lahir di Pakistan dari keluarga Katholik Roma, Rodrigues bermigrasi ke Kanada bersama orangtua dan empat saudaranya ketika masih berusia 11 tahun. Tidak lagi menjalankan usahanya dari ruang bawah tanah, ibu mertua dan istri serta dua anaknya masih tinggal bersama Rodrigues.

Rodrigues memutuskan meninggalkan Pakistan karena ibunya. Dia mengaku sangat prihatin dengan ketidakstabilan politik dan sosial di negara berkemampuan nuklir tersebut pada era 1970an. (BBC/R17/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru