Rahmat tidak ingin perusahaan yang dipimpinnya hanya sekedar mengeruk kekayaan alam perut bumi Batang Toru. Pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana dan berkelanjutan, yang berfokus pada manfaat yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan, mutlak harus dilaksanakan.
Kombinasi pengalaman dan eksplosivitas mulai dimainkan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Kehadiran Tambang Emas Martabe di Batang Toru tidak boleh hanya sebatas penambang yang hanya mengutamakan keuntungan. Tetapi juga harus dapat memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar.
Disisi lain, sosok yang memiliki gaya komunikasi jenaka ini juga sadar jika ribuan karyawan menggantungkan hidup di pundaknya. Nasib dan keberlangsungan ekonomi karyawan sangat dipengaruhi oleh keputusan dan kebijakan yang diambil olehnya. Rahmat menyadari, jika Martabe tutup, ada sekitar 10.000 orang yang terdampak.
Baca Juga:
Tekad bulat, kepentingan perusahaan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan harus diharmonisasi. Etika, moralitas, hingga tanggung jawab sosial tidak boleh diinjak-injak. Untuk mencapai kesejahteraan jangka panjang bagi semua, konsep pembangunan berkelanjutan dengan tiga pilar utama yakni, ekonomi, sosial, dan lingkungan, harus berjalan secara bersamaan.
"Harus menerapkan praktik pertambangan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial," lirih Rahmat, saat menatap langit yang saat itu masih menyisakan cahaya bintang.