Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026
Fasilitas dan Kualitas Pengajar Antardaerah Timpang

UN Belum Dapat Menjadi Barometer Pendidikan

- Rabu, 06 April 2016 17:35 WIB
207 view
Jakarta (SIB)- Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Center for People Studies and Advocation (Cepsa) menyatakan ujian nasional (UN) saat ini masih belum dapat menjadi barometer pendidikan karena masih terjadinya ketimpangan fasilitas dan pengajar antardaerah.

"Kualitas guru dan fasilitas pendidikan belum setara di setiap daerah. Bahkan di dalam satu daerah yang sama, kesenjangan mutu sekolah masih sangat terasa. Hal ini dapat dilihat dari adanya sekolah unggulan dan non-unggulan di setiap daerah," kata Direktur Eksekutif Cepsa Sahat Martin Philip Sinurat dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Selain itu, ujar dia, kualitas dan kuantitas pendidik juga tidak seimbang antara di kota-kota besar dan di daerah sehingga para siswa yang lulus ujian nasional belum tentu memiliki standar pendidikan yang sama. 

Ia berpendapat, ketika siswa-siswa tersebut melanjutkan pendidikan ataupun masuk ke dunia pekerjaan, mereka dinilai tidak mampu bertahan menghadapi permasalahan yang lebih kompleks. 

"Standarisasi mutu pendidikan melalui UN dapat berlangsung dengan baik apabila fasilitas pendukung pendidikan seperti sarana prasarana dan kualitas dan kuantitas pengajar sudah ideal," katanya.

Karena fasilitas pendidikan yang belum memadai di banyak daerah, Sahat mengusulkan sebaiknya pemerintah perlu meninjau ulang pelaksanaan ujian yang dilakukan secara nasional. 

Dengan kata lain, lanjutnya, pemerintah perlu mencari pendekatan metode baru untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, seperti pendidikan yang melatih minat dan bakat dari para siswa dan tidak hanya menjejali siswa dengan pemahaman yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan siswa tersebut. 

Dia menegaskan, pendidikan Indonesia seharusnya membentuk manusia-manusia Indonesia yang dapat berpikir mandiri, kritis, dan mau belajar.

"Sehingga setelah lulus, para insan intelektual ini tidak sekedar menjadi robot-robot pekerjaan, namun dapat berinovasi dan berkarya bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara," katanya.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, hasil Ujian Nasional memetakan mutu pendidikan madrasah karena memiliki tolok ukur nilai akhir yang dapat menjadi pedoman evaluasi proses belajar-mengajar.

"Ujian ini untuk mengetahui pemetaan sesungguhnya dari mutu satuan pendidikan, baik siswa, pendidik dan struktur dalam pendidikan termasuk kami di Kementerian Agama yang membawahi sekolah keagamaan," kata Lukman di sela-sela peninjauan pelaksanaan UN 2016 hari pertama di Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta, Senin.

Menurut Lukman, terdapat perbedaan UN tahun ini dibanding tahun sebelumnya di  antaranya ujian akhir ini bukan sebagai penentu mutlak bagi siswa untuk lulus dari jenjang pendidikan. Penentu kelulusan dari siswa Madrasah Aliyah adalah sekolah itu sendiri. Hal ini juga berlaku di sekolah-sekolah umum lainnya.(Ant/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru