Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Kekurangan Gizi Berdampak Pada Terjadinya Kegagalan Pendidikan

* Indonesia Peringkat ke-4 Dunia Jumlah Anak Kondisi "Stunting"
- Rabu, 18 Mei 2016 21:14 WIB
321 view
Jakarta (SIB)- Satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting, atau tinggi badan yang tidak sesuai usianya. Buruknya gizi dan kualitas sanitasi serta lingkungan menjadi pemicu utama tingginya angka tersebut.

Direktur Eksekutif Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia), Bonaria Siahaan merilis data, sebanyak 37,2 persen atau 1 dari setiap 3 anak di Indonesia mengalami stunting. "Bahkan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia untuk jumlah anak dengan kondisi stunting," kata Bonaria, di Jakarta, Senin (16/5).

Stunting adalah tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan umurnya. Hal ini mengakibatkan tidak maksimalnya perkembangan otak anak, meningkatnya angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah terjangkit penyakit tidak menular (darah tinggi, obesitas), dan memiliki postur tubuh yang tidak maksimal.

Bonaria menjelaskan, stunting terjadi karena kekurangan gizi kronis dalam waktu yang sangat lama. Selain itu juga ada faktor buruknya sanitasi serta pola asuh orang tua dalam memperhatikan kesehatan makanan dan kebersihan lingkungannya.

Ia mengatakan, kaitan stunting dengan pembangunan Indonesia meliputi aspek sumber daya manusia, kapasitas ekonomi masyarakat, serta penanggulangan penyakit tidak menular yang diderita oleh manusia yang hidup dengan kondisi stunting.

Dalam studi komprehensif yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia), setiap 1 dollar AS yang diinvestasikan dalam pencegahan stunting, akan memberikan keuntungan 42 kali lipat pada masa depan negara nantinya.

Hal itu juga, kata Bonaria, yang membuat Millennium Challenge Account - Indonesia (MCA-Indonesia) mendukung usaha Pemerintah Indonesia untuk pencegahan stunting melalui kerjasama dengan Kementerian Kesehatan. "Kerja sama ini dilaksanakan lewat Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) untuk mencegah stunting," jelas Bonaria.

Dengan kesadaran perlunya peran serta semua pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta, MCA-Indonesia meluncurkan panggilan proposal untuk Hibah Kemitraan Sanitasi Masyarakat sejumlah 3 juta dollar AS atau sama dengan 40 milliar rupiah.

Hibah ini bersifat pendanaan bersama (co-funding), sehingga pihak pemohon perlu menyediakan dana patungan yang rasionya 1:1 dengan jumlah hibah dari MCA-Indonesia. Secara umum, proyek ini berupaya mengurangi dan mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah, stunting, dan kekurangan gizi di lokasi proyek, serta meningkatkan pendapatan keluarga melalui peningkatan produktivitas dan penghematan pengeluaran.

SASARAN GLOBAL
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy mengatakan, menurunkan proporsi balita stunting sebesar 40 persen menjadi sasaran global hingga 2025. Selain itu, menurunkan proporsi balita menderita kurus menjadi kurang dari 5 persen. "Juga menurunkan angka anak yang lahir dengan berat badan rendah sebesar 30 persen," sebutnya.

Ia menambahkan, bahwa kekurangan gizi tidak hanya berdampak pada stunting. Namun juga dapat berdampak pada terjadinya hambatan kognitif, dan kegagalan pendidikan. "Berdampak pada rendahnya produktivitas di masa dewasa," jelasnya.

Selain itu, dapat memicu resiko gangguan metabolic yang berujung pada penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, dan jantung pada usia dewasa. (KJ/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru