Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026
Siswa SMA Santo Thomas 2 Medan Kunjungan Belajar ke Rumah Bolon Simalungun

Simalungun Memiliki Peninggalan Budaya yang Besar

- Rabu, 22 Juni 2016 18:22 WIB
813 view
Simalungun Memiliki Peninggalan Budaya yang Besar
SIB/Dok
Peserta dan guru pendamping dari SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan foto bersama pada kunjungan belajar ke Rumah Bolon Simalungun Kecamatan Pematang Purba Simalungun.
Simalungun (SIB)- Meningkatkan kecintaan terhadap budaya lokal, siswa SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan,  mengadakan kunjungan belajar bertajuk "Kajian sosial budaya rumah Bolon Simalungun", Sabtu (11/6) diikuti sekitar 78 orang siswa kelas XI IPS.

Kepala SMAS Santo Thomas 2 Medan Drs Nelson Nababan MSi mengatakan, kunjungan belajar ini sangat penting untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman para siswa untuk mengenal budaya lokal Batak Simalungun melalui peninggalan sejarah dari Rumah Bolon Pematang Purba Simalungun.
Diharapkannya, kunjungan ini bermanfaat bagi siswa  sehingga menambah  kebanggaan bagi mereka sebagai generasi muda. Pengetahuan yang diperoleh dan dilihat secara langsung dapat melekat dalam pikiran para siswa.

Acara dipimpin Pembantu Kepala Sekolah (PKS- II) Freddy J Situmorang SPd dengan guru pendamping Dra Florentina Sihombing (guru Sosiologi), Marita Damanik SE (guru Ekonomi), Darwin E Simanjuntak (guru sejarah) dan Amran Sinaga (guru agama).

Menurut Freddy Situmorang para siswa juga melakukan kajian dan analisis kebudayaan Simalungun dari rumah Bolon melalui sudut pandang antropologis, sejarah, ekonomi dan agama. Seperti berdasarkan kajian sejarah bahwa rumah bolon Simalungun menjadi bukti nyata bahwa peradaban kebudayaan Simalungun besar dan memiliki landasan historis yang kuat yang menunjukkan bahwa Batak Simalungun memiliki peninggalan budaya yang besar.

Dalam kunjungan itu, narasumber Jaipin Purba menjelaskan, konon rumah Bolon Pematang Purba merupakan bangunan warisan Pangultop-ultop, Raja Simalungun pertama.  Istana yang dibangun pada 1515 di Kecamatan Purba ini berjarak sekitar 170 kilometer dari Medan dan 70 kilometer dari Pematangsiantar. Istana yang diyakini telah berusia ratusan tahun ini merupakan tempat bagi sang raja beserta Puang Bolon (permaisuri) dan selirnya.

Sebenarnya sang raja mempunyai istri lainnya, tinggal di kampung-kampung di wilayah kerajaannya di Simalungun. Pangultop-ultop atau yang juga dikenal sebagai Tuan Raendan ini merupakan raja yang sangat piawai dalam memimpin sehingga sosoknya pun sangat disegani masyarakat. Bahkan Tuan Raendan dikenal sebagai raja yang berjasa dalam membangun kejayaan kebudayaan di Simalungun dan telah diakui kepemimpinannya.

Jaipin juga menjelaskan bahwa di dalam Rumah Bolon Pematang Purba ini terdapat beberapa buah tanduk kerbau, tanduk kerbau tersebut merupakan tanduk kerbau yang pernah digunakan pada upacara adat Simalungun yang dipimpin langsung oleh sang raja. Bahkan jumlah tanduk yang ada di rumah Bolon mencerminkan jumlah raja yang telah memerintah. Rumah Bolon dibangun dengan menggunakan kayu hutan dan tidak memakai paku, namun sampai saat ini masih dapat berdiri kokoh.

Menurut Darwin  Simanjuntak SPd, guru Sejarah, bahwa Rumah Bolon, selain merupakan istana tempat tinggal raja, masih memiliki sembilan bagian bangunan lainnya yang masih satu kesatuan dengan dengan rumah utama atau istana raja. Bangunan lainnya yang masih merupakan bagian dari Rumah Bolon yaitu, Lopou yang merupakan kamar tidur raja, tempat menerima tamu-tamu terhormat serta sidang-sidang terbatas yang bersifat khusus. Kemudian ada lagi Balei Bolon tempat mengadakan musyawarah atau peradilan. Selanjutnya Jabu Jungga adalah kediaman Panglima tentara kerajaan yang disebut Raja Goraha.

Seorang peserta Mega Nadeak kelas XI IPS 1 mengaku mengenal Rumah Bolon setelah kunjungan belajar ini, mungkin  hal ini disebabkan masih minimnya promosi terhadap keberadaan Rumah Bolon, sehingga hanya menjadi objek wisata lintasan bagi wisatawan yang akan menuju Tanah Karo atau Dairi. Selain itu pengelolaannya yang belum maksimal menyebabkan Rumah Bolon sebagai peninggalan sejarah yang harus dilestarikan, belum menjadi tujuan wisata.

Padahal dari sisi potensi, seharusnya layak menjadi objek wisata unggulan, karena keunikannya yang masih mampu berdiri meski telah berusia ratusan tahun walau hanya terbuat dari kayu. (A01/y)




SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru