Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 25 Februari 2026

Sanitasi Sekolah Tak Lagi di Belakang

- Rabu, 09 November 2016 17:51 WIB
435 view
Sanitasi Sekolah Tak Lagi di Belakang
Jakarta (SIB)- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengubah letak sanitasi sekolah yang sebelumnya ditempatkan di bagian belakang sekolah menjadi di depan sekolah.

"Selama ini, sanitasi sekolah ditempatkan di belakang sekolah, gelap dan kotor. Kalau sekarang kita tempatkan di depan supaya terkontrol oleh gurunya. Bahkan ada yang toiletnya jadi lebih bersih dari kelasnya malahan," ujar Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud, Wowon Widaryat, di Jakarta, Selasa.

Hal itu berkaitan dengan budaya bersih dan juga merupakan bagian dari pendidikan karakter. Saat ini, lanjut dia, sudah ada sebanyak 341 sekolah yang dibangun sanitasinya.

Menurut Wowon, hal itu merupakan kerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

"Selain SMK, kami juga melibatkan masyarakat bagaimana merancang jamban di sekolah yang baik dan nyaman bagi anak."

Saat ini, lanjut dia, proyek sanitasi percontohan tersebut baru diterapkan satu sekolah untuk setiap kabupaten. Proyek tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan ideal bagi daerahnya.

Wowon mengatakan yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana membiasakan anak hidup bersih dan menjaga sanitasi sekolah.

"Kalau membangun sanitasinya tidak masalah, tapi yang penting bagaimana guru memberikan contoh dalam membudayakan bersih pada anak. Apalagi kebiasaan anak-anak di desa dan di kota berbeda, sehingga tantangannya juga berbeda," jelas Wowon.

Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Kota Bandung, Susi Darsiti, mengatakan yang paling terpenting adalah bagaimana anak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah.

"Perilaku hidup bersih dan sehat harus menjadi kebiasaan," kata Susi.

Perwakilah dari Unicef, Reza Hendrawan, mengatakan sanitasi sekolah harus ditempatkan sebagai prioritas karena dampaknya besar.

"Kami bekerja sama dengan empat kementerian membuat payung tim pembinaan UKS," kata Reza.

Apalagi, kata dia, di bagian timur Indonesia yang lokasi dan aksesnya lebih sulit. Pihaknya mencoba mengembangkan model sekolah rintisan dengan intervensi yang sangat sederhana. (Ant/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru