Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 25 Februari 2026

Anak Harus Diajarkan Bertanggung-jawab Gunakan Teknologi

- Rabu, 07 Desember 2016 22:02 WIB
521 view
Medan (SIB)- Anak-anak sejak dini perlu diarahkan agar bertanggungjawab menggunakan teknologi. Anak umur 0-3 tahun jangan diperkenalkan dengan "mainan" seperti HP, gadget dan sebagainya karena mainan itu justru tidak akan dapat membentuk dirinya menjadi mandiri.

Hal itu diungkapkan Gerald Donovan, Kepala Sekolah MIS (Medan Independent School) yang juga penulis buku "English 911" kepada wartawan usai seminar bertajuk "Raising Kids in A Digital World-How Can My Child Learn the 21st Century Skills They Really Need?" yang diikuti orangtua di Clapham Collective,  Center Point Medan, Sabtu (2/12).

Ia menyontohkan banyak orangtua ketika anaknya nangis lantas diberikan HP atau gadget dan semacamnya supaya diam. Hal itu tidak membuatnya menjadi mandiri.    "Kalau anak balita nangis dan didiamkan saja maka si anak akan mampu mengatur emosinya menjadi diam sendiri. Ini lebih baik bagi kejiwaannya," jelas Gerald.

Namun ketika anak-anak sudah menjelang besar maka orangtua perlu mengarahkannya menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia sekitar mereka.

Menjadi orangtua di era digital seperti sekarang, katanya memang tidak mudah karena internet bisa berpengaruh positif dan juga negatif bagi anak-anak.
Gerald memaparkan hubungan antara teknologi dan perkembangan kognitif anak sehingga anak-anak dapat menikmati keuntungan maksimal dari teknologi yang dikuasai seperti gadget, internet, media sosial dan sebagainya.

"Kami berharap anak-anak di masa depan dapat berkontribusi terhadap kemajuan zaman dan bukannya menjadi korban dari kemajuan zaman," ungkap Gerald.
Seminar ini juga mendatangkan Faizol Musa, Regional Development and Recognition Manager, International Baccalaureate Organization (IBO) yang menjelaskan perbedaan pendidikan konvensional dengan IB Curriculum.

Marketing Manager MIS Medan Mery Widiasar menuturkan, MIS  yang berdiri sejak tahun 1969 di Jalan Jamin Ginting Km 10/Jalan Tali Air Medan itu, kini merupakan sekolah Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) yang menerapkan kurikulum nasional dan mata pelajaran nasional seperti agama, PPKN, Bahasa Indonesia dan IPS.

Murid di MIS, jelas Mery, hanya terbatas sampai 8-10 orang saja dengan dua guru dalam 1 kelas. Bahasa di kelas, dominan bahasa Inggeris. Uang sekolahnya 7.000-14.000 dolar AS per kg.

"Tahun depan kami buka sekolah menengah atas," jelas Mery. (A2/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru