Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 25 Februari 2026

Guru Adalah Peneliti Kelas, Diminta Ubah Model Pembelajaran

- Rabu, 31 Mei 2017 17:39 WIB
587 view
JAKARTA (SIB) -Keberhasilan menerapkan kurikulum sangat bergantung dengan kemampuan guru yang mengajarkannya. Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Awaluddin Tjalla menuturkan, guru dalam perspektif pendidikan adalah peneliti kelas.

"Dia bisa kelola kelas dengan baik, dia bisa tentukan bagaimana intervensi yang diberikan ke anak," kata dia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurutnya, berbicara tentang gagasan besar, seperti Kurikulum 2013 (K-13), yakni bagaimana guru bisa menginternalisasikan yang ditetapkan akan diterima dengan baik oleh anak. Sehingga, hal itu berdampak pada pembelajaran yang bermakna. Ia mengatakan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan selalu mengkaji muatan kurikulum. Khususnya, apakah muatan mata pelajaran yang selama ini ada, sesuai dengan kompetensi dasar guru, apakah sudah sesuai dengan perpektif kecakapan yang akan disampaikan pemerintah.

"Mengkaji muatan mata pelajaran dan hubungkan dengan abad 21, (tak lepas dari) model pembelajaran mendukung, buku sebagai acuan," jelasnya.

Awaluddin mengatakan, keberhasilan implementasi kurikulum di sekolah, yakni behubungan dengan praktik lapangan. Selama ini, ia mengatakan, kurikulum pendidikan kita memiliki perspektif integratif. Seharusnya, kurikulum harus supporting sisi pembelajaran dan penilaian.

"Konsepnya acuan global, acuan bagaimana anak bisa berpikir kreatif, inovasi dan lain-lain," jelasnya.

Artinya, ia menjelaskan, konsep tersebut menjadi acuan bagaimana peserta didik diterima dengan baik oleh lembaga, perusahaan, masyarakat, saat keluar dari sekolah. Kendati demikian, menurutnya, konteks mempengaruhi implemenetasi. Sebab, SDM di Makassar sangat berbeda dengan Kota Yogyakarta karena faktor budaya juga berperan.

"Kalau bicara bagaimana gagasan besar diimplementasikan dalam mapel, maka bagaimana kesiapan guru kita untuk mengimplementasikan mereka," tutur Awaluddin.

Ubah Model Pembelajaran
Sementara itu, Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta guru mengubah model pembelajaran di kelas. Tujuannya, untuk menyiapkan kemampuan anak berkompetisi di abad 21. "Kurikulum Abad 21 itu, memasuki masa ketidakjelasan," kata Kepala Puspendik Kemendikbud Nizam di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, model pembelajaran Abad 21, yakni, belajar tidak lagi episodik. Selain itu, guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Namun, guru memiliki tugas menjadikan anak penuh dengan kekaguman atas pertanyaan dan jawaban. "Bagaimana anak datang ke kelas kepalanya penuh dengan keingintahuan, dan guru juga harus punya jawaban," ujar dia.

Nizam menyarankan, model pembelajaran harus mengubah kebiasaan penilaian sebagai satu bentuk capaian pembelajaran. Menurutnya, seharusnya penilaian jadi alat pendorong capaian Abad 21.

Artinya, ia menjelaskan, meskipun guru mengajarkan konten pengetahuan, tetapi harus membuat anak berpikir kritis. Ujian sekolah, ia melanjutkan, harus menjadi bukti ada pembelajaran di dalam kelas, tidak hanya tentang nilai. Sehingga, menurutnya, model penilaian pilihan ganda, bukan pilihan tepat untuk melihat kemampuan anak menalar suatu mata pelajaran.

"Aksi ini untuk mengukur kompetensi. Apa yang bisa dilakukan anak dengan kuasai matematika, IPA. Aksi lebih pada mengukur pengetauan yang dikuasai siswa," jelasnya. (Rol/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru