Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026
Hasil Survei USAID dan Kemendikbud

75% Siswa yang Masuk TK Membaca Lebih Baik

- Rabu, 02 Juli 2014 15:29 WIB
450 view
 75% Siswa yang Masuk TK Membaca Lebih Baik
Medan (SIB)- Masih adanya orangtua yang mendaftarkan anak-anaknya ke tingkat Sekolah Dasar (SD) daripada lebih dulu belajar di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ternyata berpengaruh kepada kemampuan seorang anak dalam membaca.

Hasil survei yang dilakukan USAID (United States Agency for International Development) menunjukkan sebanyak 25 persen siswa yang tidak masuk TK atau PAUD, tingkat kemampuan membacanya lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak yang masuk TK. “Hasil survei menunjukkan pentingnya seorang anak untuk lebih dulu belajar di TK atau PAUD,” ungkap  Project Management Specialist USAID-Indonesia Ester Manurung dalam jumpa pers di Karibia Boutique Hotel, Jl Timor, Senin (30/6).

USAID bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kemenag dan Myriad Research melakukan survei nasional mengenai Penilaian Kemampuan Membaca Siswa Kelas Awal (EGRA) dan Potret Efektivitas Manajemen Sekolah (SSME).

Ester yang didampingi Konsul AS untuk Sumatera Robert Ewing dan Kepala Seksi Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Sumut Basri Siregar mengatakan survei ini melibatkan 4.800 siswa kelas II di 400 sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dari 80 kabupaten/kota dengan membaginya ke dalam empat wilayah di Indonesia. Dari setiap kabupaten/kota per wilayah diambil lima sekolah. Pengumpulan data dilakukan di bulan Maret-Mei 2014.

Pembagian wilayah dilakukan dengan merata terhadap siswa dan siswi. Keempat wilayah itu yakni wilayah I meliputi Sumatera, wilayah II Jawa-Bali, wilayah III Kalimantan-Sulawesi dan wilayah IV meliputi provinsi Maluku, Nusa Tenggara dan Papua (MNP). Dikatakannya survei nasional dilakukan bertujuan membantu pemerintah dalam memulai proses penilaian seberapa baik anak didik di tingkat SD/MI terampil membaca.

Dari hasil survei di wilayah Sumatera menunjukkan 42% siswa telah lancar membaca dan memahami apa yang dibacanya. Dan 28% lainnya membaca lebih lambat namun memahami apa yang dibacanya. Namun demikian, sepertiga siswa masih memerlukan tambahan dukungan dalam pengajaran membaca. “Dengan adanya temuan survei ini, tenaga pendidik perlu memiliki strategi untuk mengenali dan menyediakan dukungan remedi kepada siswa yang belum bisa membaca,” ucapnya.

Sedangkan hasil survei secara keseluruhan menunjukkan bahwa siswa-siswi di Indonesia mempunyai kemampuan membaca yang relatif tinggi karena hampir setengah siswa atau 48 persen merupakan siswa yang fasih dan memahami apa yang dibacanya. Sementara itu 5,9 persen responden dari seluruh siswa kelas II di Indonesia itu masuk dalam kategori yang terendah atau belum dapat membaca meskipun telah duduk di bangku sekolah dasar.

“Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan, anak-anak Indonesia yang masih kelas I dan II itu punya kemampuan membaca yang cukup tinggi dan itu ditunjang dari beberapa aspek yang mempengaruhi anak didik tersebut,” jelasnya.

Ditambahkannya siswa putri lebih baik kemampuan membaca dan memahami bacaan dibandingkan dengan siswa putra. Ketersediaan dan penggunaan buku memiliki pengaruh terbesar bagi siswa di Sumatera dalam peningkatan kemampuan membaca yakni mencapai 33%.

Menurut Ester, survei kemampuan membaca siswa SD ini sangat penting mengingat survei tidak hanya melihat kemampuan membaca siswa tetapi sekaligus untuk menilai apa yang perlu dilakukan ke depan. “Jadi selain memperoleh gambaran secara nasional, hasil survei bisa menjadi bahan kajian terkait dengan kinerja guru, manajemen sekolah dan kepemimpinan sekolah, serta dukungan masyarakat dalam hal ini orang tua,” ucap Ester. Hasil survei juga menunjukkan 90% guru-guru di Indonesia menggunakan hasil ujian tulis untuk mengukur kemajuan akademis siswa, sedangkan evaluasi akhir hanya 45%.

Peranan kepala sekolah dan orang tua juga ikut membantu dalam peningkatan kemampuan membaca seorang siswa. Survei menunjukkan 60% kepala sekolah di Sumatera melakukan evaluasi di akhir semester, hanya 38% yang memeriksa hasil ujian. Saat ditanya seberapa sering anggota keluarga membacakan bacaan, survei di empat wilayah menunjukkan 37% mengatakan tidak pernah dibantu membaca dan 33% mereka dibantu oleh orang tua. (R15/q)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru