Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Ke Depan, Para Siswa SMP-SMA Akan Hadapi Lapangan Kerja Berbeda dari Saat Ini

Redaksi - Rabu, 22 Januari 2020 19:22 WIB
167 view
Ke Depan, Para Siswa SMP-SMA Akan Hadapi Lapangan Kerja Berbeda dari Saat Ini
Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro
JAKARTA (SIB)
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, para siswa sekolah menengah akan menghadapi lapangan pekerjaan berbeda dengan situasi saat ini.

Itu sebabnya, metode pembelajaran STEAM (science, technologi, engineering, art, mathematics) diharapkan bisa menyiapkan SDM Unggul untuk lapangan pekerjaan yang di masa depan sudah terlihat sejak sekarang.

"Siswa-siswi SMP dan SMA hari ini ketika mereka masuk ke universitas atau nanti ke pasar kerja, benar-benar akan berhadapan dengan kondisi yang benar-benar berbeda dengan yang kita hadapi hari ini. Karena itu para siswa dan siswi harus dibiasakan menimba ilmu yang sesuai, untuk bisa mengantisipasi masa depannya," ungkap Menteri Bambang, Jumat (17/1).

Dia menambahkan, akan ada pekerjaan yang hilang saat para siswa nanti bekerja. Namun ada juga pekerjaan baru yang muncul, salah satunya adalah pilot atau pengendali drone dari jarak jauh di atas tanah.

"BPPT dan PT DI, LAPAN dan TNI dalam konsorsium teknologi pertahanan, dalam koordinasi Kemristek/BRIN juga mengembangkan drone Elang Hitam Indonesia untuk bidang pertahanan. Namun, drone hanyalah drone yang memerlukan pengendali/pilot (dari ruangan kontrol). Generasi milenial bisa mendaftar menjadi pilot drone di masa depan," ungkap Bambang.

Selain menjadi pilot drone, para siswa nanti juga diperkirakan bisa menjadi pembuat konten untuk realitas virtual. Untuk bisa menjadi content creator virtual reality yang baik, jelas Bambang, tidak bisa hanya menjadi ahli matematika, fisikawan, ahli kimia.

Dibutuhkan juga kreativitas, perlu mengerti apa yang orang-orang mau, serta selalu mencermati teknologi yang berkembang.

"Setiap kelompok usia, akan punya keinginan berbeda dalam menggunakan VR (virtual reality). Para siswa harus bisa menerjemahkan preferensi orang-orang menjadi konten, dan untuk itulah perlu art," ungkapnya.

Bambang berharap sekolah negeri dan swasta di Indonesia, juga membuat konsep pengajaran STEAM. Di mana terdapat satu ruangan inter aktif yang dapat menunjukkan kemajuan teknologi.

Kemudian siswa siswi tersebut dapat membedah purnarupa teknologi dari berbagai jenis bidang STEAM. Selanjutnya siswa diminta membuat kembali atau menciptakan teknologi tersebut berdasarkan kreativitasnya.

"Kami melihat upaya memasukkan art/seni ini adalah untuk mendorong kreativitas, karena science, technology, engineering, mathematics menunjukkan penguatan background maupun kemampuan dasar, tapi untuk berbuat sesuatu, mereka butuh kreativitas. Yang membuat kita menang dalam kompetisi kadang-kadang kreativitas. Akan lebih baik kalau kreativitas didukung oleh kemampuan dasar yang kuat," tandas Bambang. (jpnn/c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru