Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

26,4 Persen Anak Sekolah Menderita Anemia Gizi

- Rabu, 20 Agustus 2014 09:25 WIB
251 view
26,4 Persen Anak Sekolah Menderita Anemia Gizi
Jakarta (SIB)- Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengkhawatirkan kondisi anak sekolah Indonesia yang masih banyak menderita anemia gizi yang dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.

"Dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013, tercatat 26,4 persen anak SD-SMP menderita anemia gizi, yang berarti makanannya tidak memadai dan bisa berdampak kepada kemampuan belajar anak," ujar Menkes ketika berdialog dengan para pemenang Lomba Sekolah Sehat tingkat Nasional tahun 2014 di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin.

Menkes menuding kehadiran mi instan sebagai salah satu penyebab anemia gizi tersebut setelah dia berkunjung ke berbagai daerah.

"Mi instan sudah masuk desa sehingga anak-anak tidak lagi makan sayur dan buah. Asupan makanannya semua karbohidrat," ujar Menkes.

Selain menyebabkan kemampuan belajar berkurang, konsumsi makanan yang kurang bergizi itu disebut Menkes akan menyebabkan gangguan kesehatan bagi anak nantinya, antara lain dapat memicu munculnya penyakit tidak menular seperti diabetes maupun gagal ginjal.

Disamping itu, Riskesdas juga melaporkan perilaku berisiko yang dilakukan oleh kelompok usia anak sekolah seperti merokok yang dilakukan oleh 18,3 persen anak usia 15-19 tahun, kurang aktivitas fisik pada 35,4 persen anak usia 15-19 tahun, kurang mengonsumsi buah/sayur pada 95 persen anak usia 13-15 tahun, tidak menggosok gigi dengan benar pada 92,3 persen anak usia 13-15 tahun dan 80 persen anak usia 13-15 tahun tidak mencuci tangan dengan benar.

Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) disebut Menkes perlu ditingkatkan karena dinilai strategis untuk memecahkan masalah kesehatan terutama anak sekolah.

Sensus Penduduk 2010 menunjukkan kelompok usia anak sekolah Indonesia berjumlah sekitar 66 juta jiwa atau 28 persen dari jumlah penduduk, dengan 46 juta (70 persen) di antaranya bersekolah baik tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.

Menkes memberikan penghargaan bagi para Kepala Puskesmas Pembina, Tim Pembima Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan perwakilan sekolah pemenang Lomba Sekolah Sehat tingkat Nasional tahun 2014 dan berharap bahwa UKS dapat juga mempromosikan kesehatan bagi masyarakat di sekitar anak sekolah.
"Betapa pentingnya UKS sebagai alat untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat dan juga dapat mencegah berjangkitnya penyakit berbahaya seperti malaria," ujar Menkes.

Selain itu, Menkes juga berharap agar UKS dapat digunakan sebagai alat sosialisasi dan edukasi bahaya merokok pada anak.

Rokok merupakan faktor risiko bagi banyak penyakit tidak menular seperti kanker dan penyakit jantung dan saat ini pembiayaan penyakit tidak menular di Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu pembiayaan terbesar.

"Saya khawatir JKN akan bangkrut kalau kebiasaan merokok dan makan terlalu banyak dilanjutkan karena sebagian besar biaya dihabiskan untuk biaya penyakit tidak menular yang diakibatkan oleh rokok," ujar Menkes. (Ant/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru