Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Demi Biaya Sekolah, Desi Jualan Tenteng

* Sejak SD Tak Pernah Dapat BSM
- Rabu, 27 Agustus 2014 14:33 WIB
1.428 view
  Demi Biaya Sekolah, Desi Jualan Tenteng
SIB/Usni Pili Panjaitan
Desi Soliha Nasution siswi SMAN 3 Tanjungbalai yang masih berseragam sekolah mengemasi dagangannya untuk dijual demi kebutuhan biaya sekolah dan uang jajan. Gadis remaja dari keluarga pemegang KPS ini sejak SD hingga SMA tak pernah menerima bantuan BSM
Tanjungbalai (SIB)- Sejak SD hingga duduk di bangku kelas III SMA Negeri, Desi Solihan Nasution (16) tak pernah menerima program bantuan siswa miskin (BSM). Anak pertama dari keluarga kurang mampu pemegang Kartu Perlindungan Sosial (KPS) ini tetap tabah dan sabar.

Siswi kelas III SMA Negeri 3 Kota Tanjungbalai yang tinggal bersama kedua orang tua dan keempat saudara kandungnya di rumah kontrakannya, Jumat (22/8), sepulang sekolah terlihat asyik mengupas aneka buah untuk ditenteng dan dijual di depan rumahnya.

Gadis manis buah hati pasangan Solehuddin Nst dan Lina ini, berjualan buah tenteng untuk biaya sekolah. "Belum rezeki. Kawan sekolahku banyak yang dapat bantuan BSM. Setiap pendataan tetap diminta sekolah melengkapi persyaratan, namun tak pernah terdaftar sebagai penerima," ujar Desi menjawab pertanyaan SIB.

Keluarga Desi salah satu keluarga pemegang KPS program bantuan pemerintah. Ayahnya seorang nelayan sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Saat ia dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan, pasca kebakaran yang menghanguskan rumahnya dan ratusan rumah warga yang terjadi pada bulan Januari 2014 lalu.

Sebelum tinggal di rumah kontrakan, Desi dan keluarganya tinggal di Jalan Rukun Lingkungan V Kel. Kuala Silo Bestari Kec. TB Utara Kota Tanjungbalai. Tidak ada yang dapat diselamatkan saat peristiwa tragis pada pagi minggu kelabu itu.

Demi mewujudkan impiannya menjadi seorang dokter, Desi tak kenal menyerah. Meski tidak terdaftar sebagai penerima BSM, dirinya tak menyerah dan memilih mandiri. Bermodalkan uang jajan yang dikumpulkannya selama ini, Desi menggunakan uang yang dikumpulnya itu untuk modal berjualan buah tentengan.

Rutinitas kesehariannya, sepulang sekolah usai membantu ibunya memasak, Desi mengupas aneka buah segar yang dibelinya di Pasar Suprapto sepulang dari sekolah. "Buah ini saya potong beberapa bagian. Selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik kecil dan diberi air manisan, lalu plastik berisi buah direkat menggunakan api, biar tak keluar airnya lalu dijual seharga Rp 500 per bungkus," kata Desi sambil melanjutkan kerjanya.

Desi dibantu adik dan ibunya mengemas buah tenteng jualannya. Selanjutnya buah tenteng seperti pepaya, kedondong dan lainnya dijual di depan rumahnya. Hasil yang didapat tak seberapa, namun hari demi hari uang dari hasil jualannya mampu untuk mengurangi beban orang tua dan dapat memenuhi kebutuhan uang jajannya sehari-hari.

"Kalau tak begini, maulah tak ada jajan. Orang tua susah, sekolah butuh jajan. Syukurlah hasilnya memang tak seberapa tapi dapat membantu meringankan beban orang tua," tandasnya penuh semangat.

Ibu kandung Desi, Leni kepada SIB mengaku heran. "Saya heran kenapa anak sulung saya ini tak pernah dapat bantuan dari sekolah sejak SD sampai SMA. Padahal adik-adiknya dapat bantuan dana BSM. Sering diminta sekolah supaya melengkapi syarat seperti Kartu KPS dan lainnya, tetap juga tak dapat," ujar Lina berharap pemerintah adil dalam menetapkan penerima BSM. (D20/q)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru