Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Mendikbud: Kompetensi Inti dan Dasar Kurikulum 2013 Harus Diselaraskan

- Rabu, 07 Januari 2015 19:44 WIB
639 view
Jakarta (SIB)- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam Kurikulum 2013 banyak yang tidak selaras sehingga kurikulum akan dievaluasi menyeluruh.

"Awalnya yang ingin dievaluasi hanya dokumen saja. Tapi ternyata kompetensi inti dan kompetensi dasar banyak yang tidak pas," ujar Mendikbud Anies di Jakarta, Senin.

Dia memberi salah satu contoh perpaduan dua kompetensi itu untuk tingkat SMP, yakni "menunjukkan sifat disiplin dan bertanggung jawab melalui ekspor impor yang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik".

"Ini tidak nyambung. Seharusnya dibuat selaras," katanya.

Selain dalam penerapan kurikulum itu juga ada sekolah yang menerapkan pelajaran matematika selama empat jam.

Anies berpendapat hal itu terjadi karena tak ada perbaikan dalam penyusunan kurikukum itu. Kurikulum 2013 seakan dipaksakan.

"Ini semua bukan kesalahan guru, tetapi pemerintah yang tidak menyiapkannya dengan baik," ujar dia.

Mendikbud menjelaskan bahwa pihaknya butuh waktu untuk menyelesaikan persoalan kurikulum itu.

"Kita perbaiki  sampai selesai," ujar dia.

Disinggung mengenai penerapan kurikulum ganda, Anies membantah dan mengatakan bahwa sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013 hanya tiga persen dari jumlah sekolah di Tanah Air.

"Jadi tidak benar kalau disebut menggunakan kurikulum ganda. Kalau yang menerapkan Kurikulum 2013 itu separuh jumlah sekolah baru bisa disebut sebagai penerapan ganda," kata dia.

Sebelumnya, pada awal Desember 2014, Mendikbud Anies memutuskan penerapan terbatas Kurikulum 2013. Hanya sekolah yang sebelumnya dijadikan proyek percontohan yang melanjutkan kurikulum yang menelan biaya fantastis itu.

Padahal kurikulum itu baru diterapkan di semua sekolah pada pertengahan 2014 atau awal tahun ajaran 2014/2015.

Mengundurkan Diri

Banyak pihak sekolah masih bingung untuk memilih tetap menerapkan Kurikulum 2013 atau kembali ke Kurikulum 2006. Hal tersebut banyak dialami oleh sekolah di pedesaan juga sekolah dalam kota. Seperti yang terjadi di Singaraja, Bali sampai banyak guru mengundurkan diri.

Banyak guru di kabupaten Buleleng, Singaraja yang mengundurkan diri dan memilih mencari pekerjaan lain. Hal ini disebabkan karena belum siap atau bentuk protes terhadap kebijakan pendidikan yang diterapkan.

"Guru punya tugas yang lebih dalam menerapkan Kurikulum 2013, jadi kebanyakan dari mereka mundur. Terlebih lagi, guru yang masih status mengabdi, gaji mereka kecil ditambah tugas berat, ya lebih baik mereka mundur dan mencari kerja lain," kata Kepala Disdikpora Buleleng Wayan Lugraheni.

Atas kondisi ini, pihaknya menyarankan kepada setiap sekolah untuk segera menentukan penerapan Kurikulum, tetap menerapkan Kurikulum 2013 atau kembali ke Kurikulum 2006, sesuai dengan kemampuan guru di masing-masing sekolah.

Memang Kurikulum 2013 memiliki kelebihan tersendiri. Wayan menerangkan kelebihan tersebut terletak pada proses pembelajarannya yang menuntut siswa untuk aktif. Setiap guru pun bisa langsung mengenali sikap murid-muridnya satu per satu.

Sungguh ironis, di tengah kondisi perlunya guru pengajar ataupun bantuan, banyak guru memilih mengundurkan diri. Semoga kondisi ini tidak terjadi pada sekolah lainnya. (Ant/kesekolah.com/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru