Jakarta (SIB)- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, bekerja sama dengan PT Telkom akan menyediakan buku elektronik untuk siswa dan guru di daerah terpencil. "Ke depannya buku pelajaran siswa dan guru akan menggunakan electronic book, bukan lagi buku teks," kata Mendikbud Anies Baswedan. di kantornya pada Rabu, (7/1).
Buku elektronik itu akan diberi nama E-Sabak. Disebut Sabak karena ukuran tablet yang akan diberikan mirip papan tulis kecil yang dahulu pernah digunakan sebagai buku oleh para leluhur Indonesia.
Menulis di papan kecil itu, dahulu perlu menggunakan kapur tulis. Saat hendak menulis lagi di saat papannya sudah penuh tulisan, para leluhur pun harus menghapus terlebih dahulu tulisan yang ada di papan itu sebelum akhirnya menulis hal baru lagi.
Dengan menggunakan buku elektronik, Menteri Anies berharap agar para siswa dan guru bisa menjangkau ilmu pengetahuan lebih luas lagi. Selain itu, diharapkan pula, buku elektronik itu bisa menghemat biaya percetakan, serta mengurangi kerumitan faktor logistik.
Dengan pemberian buku elektronik pun diinginkan bisa mengurangi ketimpangan pendidikan yang terjadi antara siswa di daerah perbatasan dengan di daerah kota besar. "Ada lebih dari 57 juta murid dan 3 juta guru di Indonesia. Alat ajar salah satu yang paling penting. Hal itu bisa dipermudah dengan E-Sabak," kata Anies.
Hal ini memang baru tahap awal dibicarakan Kemdikbud serta Keminfo dan Telkom. Namun Anies mengatakan prioritas utama mereka adalah memberikan fasilitas itu kepada tiga daerah terluar Indonesia serta daerah yang memiliki indeks pembangunan manusia yang terbilang rendah. Tiga daerah yang diutamakan adalah Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Semua jenjang pendidikan akan menggunakan E-Sabak.
Anies tidak khawatir para siswa daerah perbatasan itu akan kesulitan menggunakan alat elektronik itu. Ia justru lebih yakin para murid akan lebih pintar mengoperasikan alat elektronik itu dibanding para gurunya. "Justru guru-guru ini yang perlu lebih dikhawatirkan."
Kemendikbud Gandeng Telkom
Anies Baswedan meyakini program ini akan mampu mengurangi biaya kebutuhan para siswa akan penggunaan buku. Namun, Anies menekankan untuk kegiatan tulis-menulis, para siswa masih tetap menggunakan kertas.
Sebelumnya program E-Sabak ini sebenarnya pernah digagas pada kementerian sebelumnya di tahun 2011.
Untuk masalah materi ajar, Muhammad Awaluddin, Director of Enterprise and Business Service Telkom di kantor Kemendikbud menyatakan bahwa Telkom nanti yang akan mengubah materi ajarnya jadi online, tapi materi berbentuk offline itu semuanya disediakan Kemendikbud karena mereka yang punya. Pihaknya sudah punya tim yang memang terbiasa menangani urusan seperti itu.
Secara konsep, program kali ini kurang lebih sama. Perbedaannya, program kali ini tampak lebih serius dan lebih inovatif.
"Saat ini, program telah mulai dicoba pada SMA. Untuk ke depannya, penerapan program ini dimulai dari daerah-daerah terpencil. Pada fase ini, kita fokus pada daerah-daerah yang tertinggal," ujar Anies
Alasan digagasnya ide ini dan mengganti buku pelajaran dengan bentuk digital lewat e-sabak diharapkan nantinya akan membantu pelajar di daerah terdepan, terluar dan terpencil (3T) agar bisa lebih mudah mendapatkan bahan ajar. Sulitnya medan dan akses menuju daerah 3T diharapkan akan bisa ditanggulangi dengan konsep e-Sabak.
FSGI Menilai Kemendikbud tak Paham Lapangan
Sementara itu Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai rencana Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Anies Baswedan tak paham kondisi lapangan. Hal ini karena Anies berencana mengganti buku pelajaran yang menggunakan kertas dengan electronic book atau disebut E-Sabak.
Sekretaris Jenderal FSGI, Retno Listyarti mengatakan, rencana program E-Sabak itu mirip dengan prinsip program Anies Baswedan sebelumnya, yaitu Indonesia Mengajar, dimana sasarannya daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T). Namun, kata dia, ketika Anies mengimplementasikan program ini artinya Mendikbud tidak mengetahui situasi di lapangan.
“Karena sekolah yang berada di wilayah 3T itu rata-rata belum memiliki aliran listrik. Padahal, tablet (E-Sabak) harus menggunakan listrik,†katanya, kepada Republika, di Jakarta, Senin (12/1). Retno menambahkan, mengalirkan listrik ke sekolah bukan perkara gampang, karena ini harus diatasi secara lintas sektoral.
Untuk itu, di desa-desa atau wilayah 3T itu harus dipasang tiang-tiang listrik kalau ingin sekolahnya memiliki jaringan listrik. Tentunya, kata dia, pengadaan listrik ini dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Persoalan kedua, kata dia, mengubah budaya pegang buku dengan budaya pegang tablet E-Sabak bukan perkara mudah. Ketiga, jika terkait anggaran, bisa juga diduga ada kepentingan proyek. Mulai dari jasa provider sampai penyediaan tablet.
“Anies harus transparan memaparkan kepada publik apakah program e-Sabak ini sudah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015?,†katanya. Ia juga menantang Anies menunjukkan perbandingan biaya jika mendistribusikan buku pelajaran dengan biaya kirim tablet. Yang tak kalah penting, kata dia, apakah Mendikbud sudah memikirkan biaya perbaikan jika tablet rusak.
“Kemudian dimana tempat untuk memperbaiki tablet itu?†ujarnya.
(Tempo.co/Republika.co.ID/kesekolah.com/c)