Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Pembuat Soal UN akan Didatangkan dari Luar Negeri

*Dinilai tak Bikin Pandai Siswa
- Rabu, 14 Januari 2015 15:26 WIB
548 view
Jakarta (SIB)- Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan Anies Baswedan ingin mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri untuk mendongkrak kemampuan pembuat soal Ujian Nasional (UN).

Tenaga ahli tersebut nantinya akan bekerja sama dengan tenaga ahli lokal untuk memberikan pelatihan kepada pembuat soal UN. "Ahli dari luar negeri perlu didatangkan guna meningkatkan kemampuan pembuat soal UN kita." ujar Anies di Jakarta, Rabu (7/1).
"Ini perlu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan selama ini."

Anies berharap UN bisa mendorong siswa memiliki //high order thinking//.

"Kalau UN hanya menghasilkan //low order thinking//, ini sama saja tidak ada peningkatan. Makanya kualitas soal UN perlu ditingkatkan," kata Anies.
UN Dinilai tak Bikin Pandai Siswa

Sementara itu, Pengamat Pendidikan, Doni Koesoema menyarankan agar Ujian Nasional (UN) dihapus. Sebab menurutnya secara konsep dan praktiknya, UN tidak membantu peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

"UN tidak membuat anak-anak menjadi lebih pandai. Makanya UN tidak diperlukan," katanya di Jakarta.

Sebaiknya, pemerintah mendesain sistem evaluasi pendidikan sesuai dengan perkembangan mutakhir terkait riset tentang proses belajar individu. UN, kata dia, tidak perlu ada dan tidak dibutuhkan untuk kelulusan.

"Sebaiknya kelulusan siswa diserahkan kepada guru dan sekolah saja. Ini malah bagus," kata Doni.

Ia menyarankan pemerintah fokus pada peningkatan kualitas layanan pendidikan. Antara lain menyediakan pelatihan bagi guru dan mendorong guru membuat soal yang berkualitas.

UN Boroskan Anggaran Negara
Pada sisi lain, Ujian Nasional dinilai akan memboroskan anggaran negara jika dilakukan setiap tahun. Menurut pengamat pendidikan Muhammad Abduhzen menyatakan fungsi UN sebaiknya hanya menjadi pemetaan sehingga tidak perlu dilaksanakan setiap tahun.

UN, kata dia, bisa dilaksanakan beberapa tahun sekali hanya untuk pemetaan kualitas sekolah-sekolah. Apalagi UN juga tidak diperlukan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Sebab menurutnya, untuk masuk perguruan tinggi sebaiknya menggunakan tes diagnostik guna mengetahui minat dan bakat siswa.

"Apalagi nilai UN saat ini tidak valid. Sebab guru sering menaikkan nilai UN siswanya agar lulus," katanya.

Menurutnya Perubahan mutu pendidikan tidak bisa dilakukan secara revolusioner, tapi secara bertahap. Apalagi, ujar Abduhzen, jika intervensi yang dilakukan tidak jelas.

Ia mencontohkan, nilai matematika UN 2014 rata-rata enam. "Tahun depan tidak mungkin nilai rata-rata matematika jadi sembilan," katanya. (Republika.co.id/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru