Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Mendikbud Didesak Umumkan Hasil Evaluasi UN

*Guru di Daerah Mulai Gelisah
- Rabu, 21 Januari 2015 21:35 WIB
543 view
Jakarta (SIB)- Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyampaikan kegelisahan para guru di daerah terkait belum adanya kepastian mengenai Ujian Nasional (UN) 2015.

Guru khawatir sulit beradaptasi dengan sistem UN baru jika pengumuman disampaikan terlalu dekat dengan waktu pelaksanaan UN. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo, mengaku mendapatkan banyak keluhan dari guru-guru di daerah tentang belum keluarnya kepastian mengenai kebijakan UN 2015.

Guru-guru mengaku gelisah jika kebijakan baru soal UN disosialisasikan terlalu dekat dengan waktu penyelenggaraan UN yang biasa digelar April setiap tahunnya. Kegelisahan muncul terutama terkait pelaksanaan teknis yang harus disiapkan guruguru menjelang kelulusan siswa. Sebab apa pun keputusan Mendikbud terkait fungsi UN, akan berpengaruh pada kesiapan teknis dan proses penilaian kelulusan siswa.

"Terutama soal teknisnya, guru pasti membutuhkan waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan sistem UN yang baru," tegas Sulistyo, saat dihubungi, di Jakarta, Senin (19/1). Seperti diberitakan, sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Rasyid Baswedan, berencana membuat kebijakan baru pelaksanaan UN di 2015.

Sejumlah perubahan digadang-gadang akan dilakukan, terutama tentang fungsi UN yang akan dihapuskan dari komponen kelulusan siswa. Rencana tersebut masih terus digodok bersama tim evaluasi UN.

Namun, rapat yang sudah berlangsung cukup lama itu belum membuahkan hasil sampai saat ini. Padahal, dua pekan lalu, Anies menjanjikan akan mengumumkan hasil evaluasi UN pada pekan lalu. Namun setiap kali ditemui, Anies masih belum menjelaskan apa pun, bahkan terus menjanjikan pengumuman tanpa menyebut waktu yang pasti.

"Kami masih membahasnya, rapat terus berlangsung, detailnya nanti akan kami sampaikan pada waktunya," kata Anies ditemui akhir pekan kemarin. Kepala Pusat Penilaian dan pengembangan Pendidikan, Kemdikbud, Nizam Zaman, saat dihubungi hanya mengungkapkan bahwa kemungkinan hasil evaluasi akan diumumkan pekan ini.

"Insya Allah dalam minggu ini kalau tidak salah Kamis (22/1) akan ada pers release dari Pak Menteri, kami minta kesabarannya," kata Nizam. Menurutnya, pembahasan yang terhitung alot tersebut dilakukan agar persiapan UN 2015 menjadi matang. "Agar persiapannya matang dan tidak ada siswa yang dirugikan," ungkap Nizam.

Dia menyampaikan bahwa pematangan terus dilakukan oleh tim evaluasi bersama Mendikbud. Terutama terkait pelaporan hasil UN agar lebih bermakna dan bermanfaat bagi siswa, guru, orang tua, sekolah, pemerintah daerah maupun masyarakat luas. "Yang lama itu pada proses revisi peraturan peraturan terkait mbak," ungkap Nizam.

Kurangi Tekanan
Sementara itu, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli Zakaria, mengatakan bahwa UN 2015 akan menitikberatkan pada pengurangan tekanan terhadap anak didik dan sekolah.

"Guru dan siswa tidak tertekan karena kelulusan sepenuhnya ditentukan sekolah," kata Ramli. Dia berharap dengan berkurangnya tekanan ini pelaksanaan UN akan jauh dari kecurangan sehingga dapat menghasilkan UN yang jauh lebih kredibel dibanding sebelumnya.

"Meskipun nilai UN juga masih akan digunakan untuk syarat nilai di Seleksi Nasional Masuk Peguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2015, kita akan analisis pelaksanaan kejujuran UN di setiap daerah," tegas Ramli. Terkait indikator dari pola jawaban siswa akan menunjukkan apakah UN jujur atau tidak, pihaknya akan menggunakan rumus statistik," tegasnya.

Selain itu, untuk menjaga kredibilitas UN, panitia juga melibatkan Majelis Rektor PTN Indonesia dalam proses pemindaian, dan penyiapan bahan- bahan ujian.

"Sudah kita tentukan orang-orangnya dari PTN, sesuai dengan bidang studi, hanya saja belum dilaksanakan," tutupnya. Secara terpisah, psikolog Poppy Amalya mengatakan sebaiknya UN dihapus karena kurang membawa manfaat pada anak. "Saya setuju UN dihapus. Kecerdasan anak tidak bisa diukur melalui UN," katanya. (KJ/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru