Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Kemendikbud Gelar Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tahun 2015 di Medan

* Mendikbud: Jangan Targetkan Anak Usia Dini dengan Pendidikan yang Rumit
- Rabu, 03 Juni 2015 17:03 WIB
710 view
Kemendikbud Gelar Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tahun 2015 di Medan
SIB/Dok
Mendikbud Anies Baswedan di hadapan siswa PAUD dan Sekolah Dasar.
Jakarta (SIB)- Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal  (Ditjen PAUDNI) Kemendikbud kembali  menyelenggarakan kegiatan Apresiasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Berprestasi. Tahun ini kegiatan akan dilaksanakan di Medan, Sumatera Utara, pada 3 – 9 Juni 2015.

“Acara Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tingkat Nasional merupakan acara tahunan. Sudah delapan kali acara Apresiasi PTK PAUDNI dilaksanakan  sebagai upaya memberikan penghargaan dan memotivasi para PTK PAUDNI berprestasi,” tutur Plt. Direktur Jenderal PAUDNI Taufik Hanafi, saat siaran langsung di salah satu stasiun televisi swasta, Rabu (27/05).

Tujuan diselenggarakannya Kegiatan Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi adalah memberikan penghargaan dan meningkatkan mutu pembinaan serta penyebarluasan hasil karya PTK PAUDNI. Selain itu juga untuk meningkatkan 5K, yaitu Ketersediaan, Keterjangkauan, Kualitas dan Relevansi, Kesetaraan dan Kepastian dalam memperoleh layanan pendidikan.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho menyatakan kesiapan Provinsi Sumatera Utara sebagai tuan rumah pelaksanaan Apresiasi PTK PAUDNI 2015. “Dengan diadakannya Apresiasi ini di Medan, dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pendidikan PAUD dan juga pendidikan Nonformal,” ujar Gatot.

Kemendikbud melalui Direktorat Pembinaan PTK PAUDNI sudah menetapkan jenis lomba dan tema Apresiasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) PAUDNI Berprestasi Tahun 2015. Hal tersebut tertuang dalam surat kepada Kepala Dinas Pendidikan seluruh Indonesia nomor 197/B5.3/KP/2015 tertanggal 16 Februari 2015.

Apresiasi PTK PAUDNI Tingkat Nasional Tahun 2015 meliputi lima belas lomba perorangan dan dua jenis lomba untuk kelompok. Lomba perorangan terdiri dari dua jenis lomba PTK PAUD, tujuh jenis PTK Kursus dan pelatihan, serta enam jenis PTK Pendidikan Masyarakat. 

Jangan Targetkan Anak Usia Dini dengan Pendidikan yang Rumit
Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan mengaku terhenyak saat berjalan-jalan di toko buku menemukan ada kartu baca untuk bayi delapan bulan. Pernah juga ia melihat buku seputar persiapan tes masuk TK (Taman Kanak-kanak) yang dijual di toko buku tersebut. “Anak TK masuk dengan tes?” tanya Mendikbud dalam Seminar Nasional Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yogyakarta, Kamis (28/5).

Di hadapan lebih dari 6.300 pendidik PAUD dari 19 provinsi di Indonesia, Mendikbud mengungkapkan, banyaknya buku semacam itu membuat orang tua merasa takut anaknya akan tertinggal, bahkan terbelakang, jika tidak diberikan materi pendidikan sebanyak mungkin di usia dini. “Jangan sampai anak-anak kita dibekali dengan target-target pendidikan yang rumit.  Tugas kita adalah menyadarkan bahwa ini adalah masa mereka meneruskan karakter pembelajar. Memberikan mereka kesempatan untuk bermain,” tutur Mendikbud.

Dalam buku yang pernah ditulis Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, disebutkan bahwa bermain adalah tuntutan jiwa anak untuk menuju arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani. Mendikbud menambahkan, di Taman Kanak-kanak itulah harus dipastikan kurikulum yang diterapkan membuat proses belajar semakin menyenangkan bagi semua anak usia dini.

“Karenanya kita harus jauhkan anak dari apa yang disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah dasar-dasar pendidikan kolonial, yaitu perintah dan hukuman. Gaya pendidikan semacam itu justru akan mengoyak batin anak, rusak budi pekertinya, karena selalu di bawah paksaan dan hukuman yang sering kali tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan,” ungkapnya membacakan apa yang pernah ditulis Ki Hajar Dewantara.

Sebaliknya, lanjut Mendikbud mengutip tulisan Ki Hajar, mendidik anak seharusnya dengan ketertiban dan tata tentram yang mampu menjaga kelangsungan batin anak. Tetapi anak juga tidak boleh dibiarkan terlalu bebas. Hal yang perlu dilakukan adalah tetap mengamati dan membimbing anak sehingga tumbuh sesuai kondratnya sendiri.  

“Sudahkah kita sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat menyadari konsep Bapak Pendidikan ini? Bukankah kita ingin agar anak-anak kita tumbuh besar sesuai zamannya, bukan tumbuh besar sekadar membuat kita yang mendidik merasa puas. Puas hari ini belum tentu baik di masa depan,” katanya. (Kemdikbud/c)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru