Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Kalahkan Iran, Siswa Asal Medan Juara Olimpiade Astronomi Dunia

* Indonesia Juara Umum Kedua
- Rabu, 05 Agustus 2015 16:48 WIB
495 view
Kalahkan Iran, Siswa Asal Medan Juara Olimpiade Astronomi Dunia
Sleman (SIB)- Siswa Indonesia berhasil menjadi juara International Olympiad on Astronomy and Astrophysic (IOAA). Bahkan dalam penutupan IOAA 2015 di Candi Prambanan, DIY, negara yang juga berperan sebagai tuan rumah ini berhasil menyabet perolehan medali terbanyak setelah Iran.

"Ini adalah sejarah baru bagi Indonesia. Karena untuk pertama kalinya kita memiliki juara astronomi dunia,"tutur Sekjen IOAA, Chatief Kunjaya, Senin (3/7). Pria yang juga WNI itu menyampaikan demikian, karena jumlah peserta olimpiade astronomi saat ini bisa mewakili keseluruhan dunia, lantaran diikuti 41 negara dengan lebih 300 peserta.

Juara pertama IOAA berasal siswa Indonesia, Joandy Leonata Pratama dengan perolehan nilai 101,14 poin. Sedangkan posisi kedua ditempati Amran Vasighzade Anssari dari Iran, dengan perolehan nilai 100,46. Lalu diperingkat ketiga ditempati Chanita Tubthong dari Thailand, dengan nilai 98,44.

Dalam pagelaran ilmiah ini, Iran menjadi juara umum. Negara persia itu mampu mengumpulkan 11 medali. Di antaranya tiga emas, empat perak, dan tiga perunggu. Sedangkan di posisi ke dua, Indonesia mampu meraih 10 medali, dengan rincian dua emas, enam perak, satu perunggu, dan satu penghargaan The Best Observational Test. Di posisi ketiga ditempati Rusia dengan delapan medali. Terdiri dari satu emas, dua perak, tiga perunggu, dan dua penghargaan.

Atas prestasi tersebut Chatif menyampaikan rasa bangganya terhadap anak-anak Indonesia. "Ini adalah tahun dimana kita mendapat perolehan medali terbanyak," ujarnya. Ia berharap ke depannya IOAA dapat terselenggara lebih baik lagi. Selain itu, Chatief pun menyampaikan apresiasinya kepada panitia dan tuan rumah IOAA 2015, yakni Jawa Tengah, yang telah melancarkan acara hingga selesai.

Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Harris Iskandar menyampaikan apresiasinya terhadap prestasi Indonesia. Baik sebagai juara, maupun sebagai tuan rumah yang telah sukses menyelenggarakan acara. "Pada agenda ini kita bisa menunjukkan pada dunia bahwa bangsa Indonesia memiliki daya saing yang tinggi," tuturnya.

Dia mengemukakan, putra putri Indonesia memiliki potensi yang hebat. Karena ada dua orang anak Indonesia yang masuk dalam sepuluh besar perolehan nilai olimpiade dunia ini. Selain menempati posisi pertama, Rafif Abdussalam berhasil menduduki peringkat ketujuh dengan nilai 92,81.

Menurut dia, jika seluruh anak di Indonesia dikelola dengan serius dalam pendidikan yang baik, mereka semua bisa menjadi generasi yang unggul. "Selain juara astronomi sekarang, kita juga sering menjadi juara olimpiade matematika, biologi, dan sebagainya," ungkap Harris. Maka itu sudah selayaknya bangsa ini diperhitungkan dalam persaingan dunia internasional.  

Siswa Medan
Juara Pertama International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2015, Joandy Leonata Pratama mengaku syok saat mendengar namanya dipanggil sebagai peserta dengan perolehan nilai tertinggi. Pelajar dari SMA Sutomo Medan itu rupanya memang tidak menyangka akan menjadi juara, meski tahun lalu ia sempat memperoleh medali perunggu dari event yang sama.

"Pas dengar nama saya, bingung, syok, tapi bangga juga," ujarnya saat ditemui di Komplek Ramayana Candi Prambanan.

Joandy menuturkan perjuangannya untuk belajar selama empat bulan tidak sia-sia. Jika tahun lalu proses karantina hanya berlangsung tiga bulan, persiapan lebih lama pada tahun ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Joandy menuturkan, sejak kelas VIII ia memang tertarik pada dunia astronomi. Bahkan sedari awal masuk SMP di sekolah yang sama ia langsung mengikuti ekstra kulikuler astronomi.

"Saya memang suka mengamati sekitar. Bosan dengan apa yang ada di bawah, saya beralih mengamati langit," katanya sambil menenteng medali emas yang baru saja diraihnya.

Joandy mengatakan, dengan mengamati benda langit ia merasa takjub dengan ciptaan Tuhan. Karena manusia rupanya begitu kecil. Namun pada waktu yang bersamaan ia pun merasa manusia begitu besar. "Kita besar karena kita bagian dari bintang-bintang,"paparnya dengan wajah ceria.

Sebagai juara dunia untuk ilmu astronomi dan astrofisika, Joandy bertekad untuk membimbing adik-adiknya di tim nasional IOAA tahun depan. "Saya dan teman-teman juga dibimbing oleh kakak-kakak yang pernah mengikuti olimpiade astronomi tahun sebelumnya," ujar Joandy. (Rol/y)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru