Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026

Di Atas Rel

* Karya Muhammad Fria Fachrama Sumitro, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 05 Juni 2016 16:01 WIB
302 view
Di Atas Rel
Ronnie tak menyesali pertemuan, perkenalan dan percintaannya. Tak terasa, Juni genap 2 tahun. Ketika tanpa alasan jelas, kisah kasih berakhir, ia menyesali tapi mau bilang apa. Yang disesalkan, tidak ada firasat akan berakhir tapi harus putus.

Ya sudahlah. Terima kasih karena mau mencintaiku selama ini.

Bersama meremas surat yang diterimanya, Ronnie melompat ke kereta api yang hendak pergi. Buru-buru melangkah, hingga tubuhnya sempat terjepit di pintu, terlewatkan sampai menabrak badan seorang perempuan yang berdiri tepat di kursi paling tepi.

Gubraaak... Karena tabrakan tubuh Ronnie, apa yang dibawa perempuan berusia kisaran 21 tahun itu jatuh berserak. Kartun-kartun berserak. Jika tidak digantungkan di lehernya, mungkin emblim nama itu pun jatuh entah ke mana. "Mari saya bantu membereskannya," tawar Ronnie.

"Terima kasih," ujar si wanita sambil membenahi barang pegangannya yang jatuh. Perkenalkan saya Mirra," lanjutnya sambil menyodorkan tangan yang membuat Ronnie gugup.

Aneh, disakiti kok berterima kasih langsung minta kenal. Ronnie melihat ada cincin di jari manisnya. "Apa yang ada di dalam ini?" tanyanya menunjuk tas kecil Ronnie.

"Oh, ini kejutan untuk seseorang yang ku anggap spesial. Sudah 2 tahun kami bersama dan aku akan bertemu langsung dengannya," jelas Ronnie.

"Benarkah? Beruntung sekali wanita itu berhubungan dengan Anda, Tuan."

"Bukan dia. Aku yang beruntung memiliki dia. Kuharap, kami akan tetap bersama."

Begitu sampai di stasiun berikutnya, Ronnie langsung bergegas hendak turun. Apalagi disambut teriakan memanggil namanya.

Perempuan yang tadi di kerata masih menggotong kartunnya dan menyaksikan Ronnie berjalan keluar bersama. Ada rasa iri. Apalagi dilihatnya Ronnie membuka isi tasnya dan mengambil isi serta memberi  pada wanita yang dijumpainya.

Si wanita terus mendekat. Ditatapnya wajah Ronnie dari jarak sangat dekat.

"Aku sama sekali tidak pantas mendapatkan ini," kata wanita itu, menghapus air mata.

"Tunggu, apa maksudmu ?" tanya Ronnie.

"Seperti di suratku. Kita putus!"

Ronnie tergagap. Ditatapnya perempuan yang baru dikenalnya di kereta. Cepat-cepat diambilnya cincin yang ditolak perempuan yang diidamkannya. Diberinya pada perempuan yang baru beberapa saat menjadi sahabatnya.

Sambil menyerahkan, Ronnie menyaksikan cincin di jari manis perempuan itu.

"Kau kira aku mencintainya? Aku baru saja mengenalnya tapi kurasa cocok untukku."

"Kau akan bahagia bila tidak bersamaku!"

Meski hatinya hancur, Ronnie tak mau tahu dan berusaha untuk tak peduli denan Mirra. Soalnya, nyalinya sebagai pria terkuliti.

Walau hatinya berasa aneh, tapi ditekannya dalam-dalam. Tidak peduli perempuan baru dikenal, yang penting sama-sama cocok. Soal cinta, akan tumbuh dan hidup serta bersemi dalam perjalanan. Yang lebih penting lagi, Mirra tak sepele.

Masih banyak perempuan lain yang baik hati dan menerima cintanya.

Diam-diam Mirra mengikuti langkah Ronnie. Ia mencari tahu siapa perempuan yang tiba-tiba mendapat cincin dari mantannya. Hatinya agak bahagia ketika mengingat bahwa di jari manis perempuan tadi ada cincin. Artinya, apa yang dilakukan Ronnie kan cuma setingan.

Usaha Mirra berhasil. Ia mendapatkan semua hal terkait perempuan itu dan keduanya kini jadi bersahabat. Hanya saja, pertanyaan dalam hati masing-masing tak juga mendapat jawaban. Soalnya, sama-sama menyimpan rahasia.

Terus terang, Mirra masih suka pada Ronnie. Si perempuan itu pun demikian. Ketika janjian untuk tamasya bersama, Mirra mengajak Ronnie ikut. Tapi ditolaknya si pria.

Saat bersamaan Ronnie pun diundang oleh perempuan lain dan disetujuinya. Saat bertemu, betapa terkejut Ronnie karena di janjian itu ada Mirra.

Mirra pun menjadi marah karena Ronnie kini sudah lebih mesra dengan perempuan baru itu.  Ia bertekad, inilah kali terakhir pergi bersama mantan kekasih yang sudah memilih perempuan lain. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru