Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Cerpen

13 Hadiah untuk Sahabatku

* Karya: Aprila Umara SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
- Minggu, 10 Juli 2016 17:52 WIB
360 view
13 Hadiah untuk Sahabatku
Namaku Michelle. Aku sangat beruntung memiliki seorang sahabat. Adelia namanya. Kami memulai pertemanan sejak usia 5 tahun, saat masih di Playgroup.
Kedekatan tak hanya sebatas aku dan Adel tapi juga pada keluarga. Soalnya, sebelum pulang ke rumah, aku dan Adel terus bermain.

Hitung-hitung, sudah 8 tahun kedekatan tersebut terajut. Yang semakin menyatukan kami, aku dan Adel punya hobi sama yakni suka membaca serta jalan-jalan ke mal.

Kalau ke toko buku, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Hanya saja aku cepat bosan. Baru tiga lorong kutilik, langsung mau pergi. Saat Adel duduk fokus membaca, diam-diam pergi ke luar dan menyusuri toko demi toko hingga lantai demi lantai swalayan tersebut.

Ketika kulirik jam sudah hampir Maghrib, cepat-cepat aku lari kembali ke toko buku. Kutemui Adel terduduk lemah di kursi. "Kamu ke mana aja?" serbunya. "Nanti ibuku marah, lho."

Aku tak menjawab, cuma mengelus-elus pipinya biar Adel jangan marah. Cara itu sebagai bentuk permohonan maafku. Sampai di rumah, mamanya Adel sudah menunggu. Aku berbohong. Kubilang, ada tugas dari sekolah untuk mengambil bahan pelajaran. Karena tak ada uang, mencatat saja. Mendengar alasan itu, ibuku merasa kasihan. Yang beruntung ya aku karena esoknya aku dikasih sejumlah uang untuk membeli buku.

Duitnya kugunakan untuk kegemaranku. Kuajak Adel ke mal yang kemarin kami kunjungi. Cepat-cepat aku menarik tangannya dan memilih aksesoris yang kami suka.

Semua isi toko kucermati. Gaun yang dipajang, kucoba. Lumayanlah. Aku pun selfie dan memosting di akun medsosku. Benda-benda yang lain tak lepas dari keusilanku.

Pramuniaganya saja sampai bosan meladeni kami. Sebenarnya, aku naksir sama cowok simpatik yang menjaga toko itu. Orangnya ramah, sepertinya tidak pernah marah. Kulitnya putih, kayaknya tidak pernah kena cahaya matahari. Senyumnya menawan, pasti tidak pernah makan pedas.

Setelah lama di toko, kami ke luar. Pamit. Aku dan Adel masuk ke toko lain dan melakukan hal serupa. Adel marah padaku tapi aku tidak peduli.
Ujung-ujungnya, kembali ke toko yang dijaga cowok tampan tadi. Aku cuma membeli bandana putih dan sepatu biru.

"Lain kali ke mari lagi ya, dek," ujarnya yang membuatku hampir jatuh keriangan.

Tetapi Adel justru mencubitiku. Tetapi aku tidak peduli. Kuajak Adel makan cepat saji. Meski menolak, aku ngotot. Adel memang terlalu sering mengalah atas seleraku.

Aku ingat hari jadinya. Diam-diam aku sudah mengoleksi 12 item benda sebagai hadiah ulang tahunnya. Ada topi, syal, gelang, kalung, komik, bingkai foto besar berisi gambar kami berdua, album foto kami, boneka Teddy Bear, cokelat berbentuk hati, kaos couple yang bertuliskan nama kami, jam tangan, buku diary. Untuk genap 13, aku ingin memberi Adel tas. Aku kembali mengajak Adel ke mal.

Mendengar mal, Adel menolak tapi aku maksa. Kutarik ia masuk ke toko dengan penjaga cowok keren itu.

Sama seperti yang dulu-dulu. Setelah mencoba beberapa item, tas pilihan Adel yang kubeli.

Cepat-cepat kami pulang. Di pojok seberang mal, tiba-tiba tubuhku diserempet sepeda motor yang melaju kencang. Kupikir mereka adalah gerombolan begal. Tubuhku terpental. Adel tak apa-apa.

Digendongnya tubuhku menepi. Berteriak-teriak Adel minta tolong hingga sekuriti mal ikut membawa tubuhku ke klinik.

Aku sadar semua yang terjadi, tapi aku tak membuka mata. Adel yang menemaniku diantar ke rumah hingga ia pulang.

Begitu Adel pergi. Aku langsung ketawa-ketawa bersama kakak dan mamaku. Sengaja kulakukan itu agar Adel esok datang lagi.

Kubungkus semua 12 item barang yang selama ini sudah kusiapkan. Kumasukkan ke dalam tas. Begitu Adel sampai, langsung kuserahkan sambil kunyanyikan lagu Happy Birthday.

Saking terharunya, Adel menitikkan air mata. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru