Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Curhat

Kekuatanku KarenaNya

* Niel Pasaribu - GSJA Tabernacle of Praise Jalan Dame Psr 4, Tanjungmorawa
- Minggu, 17 Juli 2016 15:05 WIB
192 view
Kekuatanku KarenaNya
Aku dilahirkan dari keluarga bahagia, bahkan mungkin paling bahagia di dunia. Ayahku seorang pengembala. Ibuku, tentu saja Ibu Gembala. Yang melengkapi kebahagiaan itu, kami tinggal dalam satu kompleks gereja.

Di lingkungan gereja, hampir seluruh aktivitasku dilakukan di situ. Pulang sekolah, kembali ke rumah dan di lingkungan rumah Tuhan semuanya kutunaikan. Mulai bermain, kawan-kawan dari luar datang. Mengerjakan tugas sekolah, di jeda membaca Alkitab. Bermusik, di gereja. Yang paling menyenangkan, aku setiap saat berada di lingkungan altar. Dalam berdoa, aku merasa lebih khusyuk bila berlutut di depan altar.

Tetapi, kisaran 6 tahun lalu, kebahagiaanku terusik. Dokter memvonis ibuku menderita kanker payudara. Ketika mendengar cerita ibuku, aku teringat dengan mata pelajaran biologi. Terus, Angelina Jolie yang belum terjangkit, harus operasi guna menghindari penyakit yang mematikan itu. Lalu, bagaimana dengan ibuku? Aku bimbang dan ditikam ketakutan. Aku tak ingin hidup tanpa ibu.

Dokter bilang, kankernya sudah stadium 2 tapi kupastikan ibuku tidak terpengaruh dengan sakitnya.

Tengoklah. Ibuku justru semakin kian mendampingi ayahku mengabarkan berita kesukaan. Sampai ke pelosok-pelosok. Ibuku tetap mengurus rumah tangga. Tak hanya mempersiapkan keperluanku sekolah, juga adikku.

Selain berupaya ingin sembuh dengan berobat ke dokter secara rutin, aku terus minta padaNya untuk kesembuhan perempuan yang melahirkanku. Rasanya, tiap saat aku ingin berlutut dan bertelut minta padaNya untuk pulihnya ibuku. Tetapi, sebagai manusia,  aku harus turut pada semua skenarioNya.

Di tengah doa dan madah bakti padaNya, aku dikejutkan bahwa ayahku dilarikan ke rumah sakit. Pembuluh darah nadinya pecah. Dokter bilang, harapan cuma berharap muzizat dariNya. Baru sekejap ucapan itu terngiang, ibuku berteriak. Ayahku sudah tidur dalam damaiNya.

Ya Tuhan Yesusku, kenapa ayahku Kaupanggil secepat ini! Siapa lagi yang mengurus ibuku! Mengurus aku dan adikku. Melanjutkan pengembalaan di gereja ini? Ah, aku merasa ada ketakadilan atasku.

Belum kering tanah menutup liang lahat makam ayahku, ibuku dipanggilNya. Jarak kepergiannya cuma 5 bulan. Duniaku gelap. Aku berteriak, melolong. Kupikir, ayah-ibuku mendengar protesku hingga suaraku hilang dibungkamnya. Karena terus berkurung diri di kamar dan terus menangis, suaraku hilang. Air mataku habis. Meski demikian, aku tetap meratap proses kehidupanku ini.

Uniknya, tiap malam ayah-ibuku datang ke mimpiku. Aku diajarinya menerima semua yang terjadi dengan berserah dan tetap berpegang padaNya. Meski terasa kehilangan tak tergantikan, lambat laun aku mulai menyadari bahwa Tuhan Yesusku menggenapi janjiNya. Aku tak hanya dihibur tapi dikuatkanNya.

Buktinya, aku kini kuat. Aku sedang mengisi diri untuk menjadi manusia menunaikan perintahNya, seperti juga keinginan ayah-ibuku. Tuhan Yesusku, padamu semua kuserahkan kehidupanku. Amin. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru