Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Curhat

Sepucuk Surat Terakhir

* Melly Andriani Ginting, SMA Van Duynhoven - Saribudolok
- Minggu, 24 Juli 2016 19:03 WIB
258 view
Sepucuk Surat Terakhir
Suer... seumur-umur aku tak akan pernah rela jika dipaksa melepas Doni untuknya. Kukatakan dipaksa karena langkah dan caranya sangat menyakitkanku.

Bermula dari keramahanku mengenalkan Doni pada Cahaya. Sebagai sahabat, wajar dong kalau aku membawa orang yang terdekatku ke mana pun pergi.
Juga, kan tidak enak bila bepergian tidak saling mengenal. Dari keseringan pergi bertiga, Cahaya semakin dekat pada Doni. Terakhir, kok justru aku yang dipinggirkan. Klimaksnya, tega-teganya Cahaya mengklaim sebagai kekasih Doni.

Aku memang sengaja tidak menerakan kata kekasih untuk Doni. Kami memang berteman, tapi kurasa tidak sekadar berkawan. Buktinya, Doni selalu ada di mana dan kapanpun bila diperlukan.

Dari sikapnya yang welcome itulah membuatku tertarik. Sumpah, aku suka padanya. Aku pun merasa, Doni suka padaku. Hanya saja, kami sama-sama bertahan tidak berterus terang. Aku berpikir, pantanglah kalau perempuan yang mengungkapkan isi hatinya pada pria. Tetapi, ternyata Doni lebih tinggi gengsinya. Ia pun bersikukuh dengan pendiriannya.

Tetapi, Doni kerap mengatakan nyaman berkawan denganku. Aku pun harus mengaminkan, betapa aku seperti dilindungi bila dekat dengannya. Karena kedekatan itulah membuat rekan-rekan menyebut kami pacaran.

Persahabatanku dengan Doni membuat status di akun media sosial kami dipenuhi ucapan congrats... tapi - sekali lagi - aku tidak mengiyakan dan tidak pula membantah.

Suatu kali, ketika pulang jalan-jalan dan diantar Doni ke rumah, aku menemukan satu amplop teronggok di ujung pintu depan. Kuambil tapi kucampakkan ke atas meja. Karena jatuh, kuraih lagi.

Iseng kubuka. Ada selembar kertas. Kupikir, zaman secanggih ini masih bersurat? Kan bisa ngechat atau ngeinbox. Tetapi, ketika kulihat di bagian terbawah ada tanda tangan dan tertera nama Cahaya, aku jadi penasaran.

Di surat itu Cahaya mohon untuk mengikhlaskan Doni menjadi kekasihnya. Seketika darahku mendidih. Kok seenaknya mengklaim bahkan merampas Doni? Kalaupun kuiyakan, apakah Doni segampang itu pindah ke hatinya.

Dasar perempuan pandir, bodoh, serampangan... Aku jadi panas sendiri. Lebih panas lagi ketika status di akun pribadi Cahaya dipenuhi emoji gembira dan simbol-simbol jatuh cinta.

Hal serupa kulihat di akun pribadi Doni. Yang bikin aku terbakar,  imojinya serupa dengan yang diterakan Cahaya.

Saat itu juga kutelepon Doni tapi di sana yang mengangkat Cahaya. Aku seketika bereaksi, memakinya. Tetapi ia sepertinya tidak peduli dan dari seberang sana kudengar suara Doni tertawa. Lho, kapan mereka memulai dan memadu kebersamaan?

Aku tak rela. Aku tak ikhlas dipaksa seperti ini. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru