Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Cerpen

Luruskan Jalan Untukku, Cinta

* karya DaNiel ParDeDe - GSJA Tabernacle of Praise Jalan Dame Psr 4, Tanjungmorawa
- Minggu, 24 Juli 2016 19:06 WIB
360 view
Luruskan Jalan Untukku, Cinta
Aku terkesiap. Begitu terbangun dan menatap jam di dinding, sudah pukul 07.00 WIB. Itu artinya aku sudah terlambat 2 jam. Soalnya, biasanya aku bangun pukul 05.00 WIB.

Langsung mengambil Alkitab dan melakukan Saat Teduh. Suaraku parau, nyaris tak terdengar. Tetapi kali ini konsentrasiku terganggu. Soalnya matahari sudah masuk melalui teralis besi dan menembus cermin di kamarku.

Kusesali kenapa adikku tidak membangunkanku. Aku ingin bergerak, tapi badanku sakit semua. Seperti bekas dipukul bandit sekampung. Ketika kuletakkan telapak tanganku di leherku, aku merasakan panas luar biasa. Demam tinggi.

Aneh. Tadi malam ketika hendak tidur, badanku sehat-sehat saja. Meski demikian, aku menguatkan diri untuk duduk dan meraih Injil. Langsung terbuka Yohanes 16: 6. Isinya sudah sangat familiar denganku ...Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Usai mencium Alkitab, aku membaringkan tubuh lagi. Adikku, satu-satunya kerabatku sedarah seibu dan seayah, tiba-tiba muncul dengan segelas teh manis.
Aku coba senyum. Kutilik fisiknya, dari ujung rambut hingga ke sepatu. Ia siap berangkat ke sekolah. Aduh, siapa yang mengantarnya?

"Bang. Abang sakit ya. Istirahatlah. Biar aku minta tolong sama Tulang ngantar ke sekolah."

Aku diam bisu. Tak mampu untuk berkata. Kukuatkan menarik tangan adikku. Ia menyambut.

"Tidurlah, Bang. Abang harus istirahat. Banyak berdoa, Bang," ujarnya sambil berjalan tapi kembali menoleh ke belakang menatapku. "Aku ingin, nanti pulang sekolah, abang sudah sembuh!"

"Amin, Dik."
Begitu ia pergi, aku langsung meraih smartphoneku yang mulai hang. Kutulis status, Yesusku yang kusembah sebagai Allah. Kaudengar permintaan adiku. Aku lelah. Ingin sekali aku ikut ibu dan ayahku yang kini di rumahMu. Tetapi, aku ingin meneruskan cita-cita orang yang kukasihi melayaniMu sebagai gembala di bumi. Amin.

Tak sampai semenit statusku di akun pribadiku, lebih 100 like dan hampir 50 comments berdatangan. Hampir seluruhnya menguatkan, tapi justru membuatku semakin sedih.

Tiba-tiba air mataku jatuh lagi. Padahal, aku sudah berjanji tidak ingin menangis lagi sepeninggal ibuku. Tetapi, kenapa air mataku semakin deras.

Aku ingat nasihat-nasihat ayahku, keinginan ibuku. Kedua orang yang amat kusayangi itu sudah berada di rumah Bapa di surga. Sekarang, aku ingin ikut dengan mereka. Bukan untuk selamanya. Tapi cuma ingin mengadukan nasibku yang hidup sebatang kara di dunia. Tuhan Yesusku, izinkanlah aku bertemu ibu-ayahku. Sekejap saja.

Air mataku semakin tumpah. Kukuatkan kembali tanganku meraih Injil. Sambil baringan kudekap kitab suci itu di dadaku.

Anganku melayang ke gereja, bermain dengan anak-anak Sekolah Minggu. Jadi ikut tertawa dengan mereka.

Tiba-tiba aku dikejutkan hadirnya ibu dan ayahku. Mereka berdua memakai baju panjang, serba putih. Seperti malaikat-malaikat surga.

Dulu, ketika ayahku menghadapNya, tubuhnya kurus. Agak hitam. Sekarang kok gemuk, putih bersih. Wajahnya seperti bercahaya. Sama seperti ibuku. Ketika terakhir kali komunikasi dengan perempuan yang melahirkanku itu, ia kurus. Apalagi saat itu ibuku divonis kanker payudara. Tetapi sekarang kok kelihatan segar sekali. Lihatlah senyumnya yang merekah seperti bidadari dari surgawi.

Aku terbangun karena tangan adikku meraba leherku. Rupanya aku tertidur. Aku langsung duduk.

"Abang sudah sembuh? Puji Tuhan. Doaku dikabulkan Tuhan Yesus."

"Apa rupanya doamu, Dik?"
"Tadi di sekolah aku terus minta pada Tuhan Yesus agar abang disembuhkan," ujarnya. "Soalnya, kalau sakit, siapa yang membelikan baju Pramukaku, Bang?"
Aku tertawa kuat sekali. Tawa itu emang kubuat untuk menyenangkan hati adikku. Dengan semangat aku mengambil baju panas.

Tanpa mandi kuhidupkan kereta bututku. Kupacu kencang agar toko penjual baju Pramuka terjangkau. Soalnya, sudah lewat setengah hari.

Saat menawar baju, aku dikejutkan karena bertemu dengan  orang spesialku. Dari wajahnya kupastikan ia marah padaku karena janjiku tidak tertunaikan.
"Jangan marahlah. Aku sakit tapi sudah sembuh kok!"

Ia tidak menjawab, tapi senyum lebar.

"Mau memaafkanku?"

"Aku paham. Aku justru berdoa untuk kekokohan hatimu."

Aku menunduk. Kupegang jarinya. Ia terkejut karena masih terasa hangatnya karena demamku.

"Aku sudah sembuh kok," ujarku sambil menggenggam erat jarinya. "Dari mana tahu aku ada di sini?"

Ia diam. Ditunjukkannya padaku isi status di akun pribadiku. Aku jadi malu. Tapi sesungguhnya, Tuhan Yesusku menguatkanku. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru