Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Cerpen

Sampai Jumpa Lagi

* Karya: Marcellus Hia, Bukit Sinaksak-Pematangsiantar
- Minggu, 07 Agustus 2016 18:05 WIB
411 view
Sampai Jumpa Lagi
Semua itu, ibarat aku sedang memegang setangkai erat bunga mawar berduri. Semakin aku memegangnya, semakin aku merasakan betapa perih dan menyenangakan hidup ini. Kutuliskan ini bukan di atas kapal menuju Pulau Nias, bukan juga di atas pesawat menuju Pulau Bali. Tetapi, aku menuliskan ini ketika saat itu datang kembali.

Ini adalah cerita penangkal dingin malam yang mengekang tulang-belulang pada ujung kemarau dataran tinggi di Bukit Senyum. Harus kuperjelas kepadamu karena aku tidak menyimpan dendam apa pun di dalam kisah yang hendak kututurkan ini. Aku hanya minta pengertianmu untuk sepenuhnya percaya pada apa yang kuungkapkan. Seluruhnya. Tapi jika engkau skeptis atau hanya setengah percaya, berhentilah membaca!
***

Saat itu, kudengar angin datang. Senja mulai kelam. Sementara lonceng Gereja di dataran bukit senyum berbunyi rutin. Lalu datang subuh itu. Dan inilah yang ingin kuceritakan kepadamu, bahwa cinta tidaklah lebih tinggi harganya dari sebuah impian.

Seandainya saja aku tidak mengenal siapa dirimu dan siapa namamu, aku yakin, aku juga tidak tahu apa itu cinta dan tidaklah menjadi beban pikiranku sampai saat ini. Bersamamu, aku bisa merasakan bagaimana manisnya cinta. Di dalamnya ada suka dan duka. Kadang cuek dan cemburu. Kadang juga benci tapi rindu.
Tapi, bagiku itu adalah hal yang sangat manusiawi, sebab kita dilahirkan bukan dalam keadaan sempurna.

Lagi, aku merasa senang dan bangga kepadamu sebab dengan kehadiranmu, sebagian aku mengenal siapa diriku di alam semesta ini. Darimu pulalah aku dapat mengerti bahwa cinta butuh pengorbanan, dan aku juga bisa memahami bahwa cinta tak senantiasa menautkan raga, tetapi ia dapat hidup dengan caranya sendiri.
***

"Ratna, aku sangat sedih jika engkau meninggalkanku. Aku tahu, bahwa impian tidaklah lebih besar harganya dari sebuah cinta. Tapi, apakah itu berarti engkau meninggalkanku? Meskipun ada yang lain, namun engkau masih sangat berharga bagiku!" Pernyataanmu dan pertanyaanmu masih kuingat jelas, bahkan masih segar dalam otak kecilku. Itu berarti bahwa engkau tidak mau jika aku pergi meninggalkanmu.

Tapi,  di ujung kemarau dataran tinggi di Bukit Senyum ini, aku ingin minta maaf sebesar-besarnya kepadamu, sebab aku ingin mencukupkan semuanya ini sampai di sini. Aku ingin pergi mengejar impian. Impian yang pernah kuceritakan kepadamu di atas bukit senyum. Aku masih ingat kala itu, engkau sangat bahagia, pertanda engkau setuju dan mendukungku dengan impian itu. Aku yakin, kamu masih ingat dengan peristiwa itu.

Namun, perlu juga kamu tahu bahwa bukan karena cemburu atau karena kamu kurang perhatian kepadaku hingga akhirnya aku pergi, tetapi karena suara hati mengatakan, cinta tidaklah lebih penting dari sebuah impian. Memang cinta itu, mengukir sebuah kisah yang tidak mudah terlupakan. Bahkan, cinta itu dapat kita sebut sebagai tempat kita beristirahat di saat dahaga terasa kering. Tapi, bukankah cinta tidak harus memiliki? Aku yakin kamu pasti mengerti antara cinta dan  impian ini.  Jadi, ijinkanlah aku pergi untuk meraih impian itu. Aku pergi bukan berarti aku tidak akan kembali lagi. Tapi, janganlah juga berpikir bahwa aku seutuhnya milikmu seorang. Seperti yang aku katakan tadi, bahwa cinta dapat hidup dengan caranya sendiri.

Sekarang, aku ingin mengakhiri semuanya ini. Terimakasih atas cintamu yang pernah menjadi milikku. Bawalah aku dalam doa heningmu agar aku dapat mengejar impian ini dengan baik. Yakinlah kita pasti akan jumpa kelak, asalkan Tuhan masih menyimpan nyawaku dan nyawamu di sekujur tubuh kita. Tersenyumlah kepadaku untuk kali ini, dan janganlah cepat menyerah dalam hidup ini, karena manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari setiap Firman Tuhan juga manusia dapat hidup. Bukankah begitu? Jawabnya di dalam hati saja!
***

Secara perlahan kudengar angin datang lagi. Pagi datang membawa hawa dingin yang sangat kuat. Dataran tinggi ini membentang sunyi. Kabut masih menyelimuti Bukit Senyum yang menutupi bukit dan lembah di sekitarnya. Sebentar lagi matahari menghadiahi bumi dengan sinar yang cemerlang.

Angin nyaris membekukan wajah dan mengusap-usap rambutku, namun hatiku tak terpengaruh. Cahaya dalam berkasnya, akan mewarnai cerita hidupku, hadir dalam diriku yang sesungguhnya. Mengukir asa dalam kesendirianku. Mencoba untuk tetap semangat, entah sampai kapan, akan tetap aku jalani. Dan yang terakhir, terimakasih untuk kamu yang pernah menjadi bagian dalam hidupku. Sampai jumpa lagi!
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru