Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026

Soccer Tujuh Belasan

* Karya Nicky Wijaya, SMA Methodist 2 Rantauprapat
- Minggu, 14 Agustus 2016 18:25 WIB
231 view
Soccer Tujuh Belasan
Ragam pertandingan digelar memeringati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Aku bingung, mau ikut yang mana. Soalnya, dari cabor yang dipertandingkan, rata-rata olahraga favoritku. Mulai futsal, basket, badminton, tenis meja hingga soccer.

Kawan-kawan umumnya sudah mendaftar untuk ikut seleksi lokal. Siapa yang berhasil memenangi pertandingan, berhak mewakili sekolah. Mereka sudah latihan tekun, aku pun ikut.

Sambil melatih kekuatan fisik, pikiranku terus berputar. Mana yang harus kuikuti. Futsal emang populer tapi aku selalu tampil sebagai pemenang. Bukan aku, maksudnya tapi tim dari sekolahku yang di dalamnya termasuk aku. Basket... ah, seantero kota sudah tahu sekolah kami mendominasi tiap ada pertandingan bola keranjang. Badminton pun sama saja. Siapa sih yang tak mengakui keunggulan sekolahku. Tenis meja? Segudang gelar juara yang dikumpulkan oleh kami.
Sesungguhnya aku melirik sepak bola. Banyak pertimbangan. Sekolah kami belum pernah juara pertandingan soccer. Jangankan meraih posisi puncak, masuk final saja tak pernah. Ironinya, dari sekian ratus siswa, bila ada kesempatan bertanding olahraga si kulit bundar, paling hanya belasan yang bersedia ikut.

Atas pertimbangan itu, aku memilih olahraga paling populer di dunia tersebut. Aku ingin sekolahku diperhitungkan. Lagian, penonton sepak bola banyak ceweknya. Meskipun kehadiran mereka cuma seperti fashion show semata.

Begitu ide kukemukakan, tantangan silih berganti datang. Wali kelas bilang, banyak makan biaya. PKS 3 mengatakan, perlu waktu menyeleksi. Tapi aku ngotot. Tak peduli ragam aral. Jika aku sudah bertekad, langit pun kupanjat.

Kubentuk tim. Kutentukan posisi. Kuundang pelatih paling top. Soalnya, coachnya tulangku sendiri.

Harus kuakui, beratnya persiapan ikut bertanding di kelompok ini. Maklumlah, biasanya kawan-kawan main basket atau maksimal futsal. Sekarang main bola di lapangan terbuka. Di terik panas matahari pula.

Aku sih enjoy aja. Apalagi tiap latihan, banyak fan nonton. Karena di luar jam sekolah, mereka datang dengan dandanan istimewa. Sudahlah, meski tak maksimal, nekat ajalah. Harus ikut.

Ketakutan tiba-tiba menimpaku. Sekolahku berada satu pool dengan jawara bertahan. Dengan posisi itu, yang terbayang adalah kekalahan. Bagaimana mau ke final jika di penyisihan grup saja keok.

Aku dan kawan-kawan pasrah bila hasil terburuk yang kami dapat. Tetapi, aku ingin kami kalah terhormat. Itulah sebabnya, tiap pertandingan, aku mita kawan-kawan menjadi suporter. Plus cheerleaders sebagai penggembira.

Aku justru bangga karena pemandu sorak dari sekolahku adalah yang paling jago. Hasil pertandingan, lumayan. Kesebelasan kami berada di posisi runner-up grup. Artinya, masuk ke babak selanjutnya dan tidak berada lagi dalam grup neraka.

Berkat kegigihan anggota tim, kesebelasan sekolah masuk perempat final. Ini pencapaian luar biasa. Yang paling istimewa, aku sudah mulai populer di sekolah. Cewek-cewek pun makin banyak mendekat. Cihuy.

Keberhasilan itu membuatku banyak berubah. Aku tak suka lagi keluyuran karena lebih suka latihan. Kalau malam di rumah saja. Berdoalah... minta kekuatan padaNya.

Pertandingan kali ini adalah hidup mati. Kalau kalau, out. Artinya, jika hendak diperhitungkan lagi, menunggu setahun. Itu pun jika masih dipertandingkan. Jika tidak, julukan ayam sayur pasti terus tercap pada kesebelasan sekolahku.

Demi menguatkan mental kami, aku  bermohon agar semua guru menyaksikan pertandingan bahkan PKS juga ikut. Bila perlu kepala sekolah. Aku pun minta orangtuaku menonton. Semua demi mendukung keberhasilan kesebelasan kami.

Luar biasa memang. Kesebelasan sekolahku masuk final. Tapi, kemenangan tersebut harus ditebus dengan harga mahal. Penyerang kami menderita geser engsel kaki karena adu bodi dengan pemain lain.

Meski bersemangat, tapi permainan di final, pincang. Bintang di kesebelasan kami, absen karena masih cidera. Hasilnya pun sudah dapat ditebak, sekolahku cuma berhasil sampai runner-up. Tetapi, aku jadi pemain terbaik. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru