Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026

Lima Langkah Dari Jembatan Transparan

* Karya Hotmarulitua Siagian - SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 28 Agustus 2016 17:51 WIB
374 view
Lima Langkah Dari Jembatan Transparan
Lima tahun telah berakhir. Lima kali bunga-bunga berguguran, lima kali juga bunga-bunga itu bermekaran. Aku selalu membawa bunga yang dia suka dan selalu kuletakkan di dekat kepalanya. Berharap suatu saat dia akan datang, walaupun hanya dalam mimpi.

Lagi asyik melamunkan tentangnya, kurasa seperti ada yang membisik. Tanpa kata aku langsung membalikkan badan. Akan tetapi tak ada seorang pun yang terlihat. Jantungku berdegup kencang tak karuan. Aku tahu, suara itu mirip dengan suara orang yang baru saja kutangisi. Bulu-buluku merinding, seperti ada seseorang didekatku dan dia ingin berkomunikasi denganku.

Aku membuka kalimat, komunikasi. Berulang-ulang dan tanpa henti. Ujung-ujungnya, tiap pulang bersama aku memilih jalan kaki, tak naik angkot
Kami pulang bersama. Yang biasanya naik angkot, aku jadi lebih memilih berjalan kaki bersamanya. Kami bercerita satu sama lain. Bercerita mengenai kejamnya dunia ini. Betapa sakit dan sedihnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Walaupun Marel kehilangan pendidikannya tetapi masih punya pengetahuan dan wawasan yang luas. Dia juga tidak malu menawarkanku untuk belajar bersama membahas tugas-tugas. Betapa beruntungnya aku dapat bertemu dengan dia. Dan aku tidak akan pernah memandang kesederhanaannya. Karena yang terpancar darinya hanyalah kebaikan dan ketulusan.

***
Pagi ini aku sungguh terkejut melihat jarum yang ada di jam dindingku. Aku sudah terlambat. Aku langsung mempersiapkan segalanya dan langsung pergi tanpa sarapan. Aku sudah rela untuk mendapatkan hukuman dari guru BK karena terlambat. Tetapi nasib baik kali ini berpihak padaku. Aku datang tepat waktu. Bertepatan dengan lonceng apel, kakiku berlari ke dalam pembatas sekolah dan langsung menuju barisan tanpa mengantar tas ke kelas. Setelah baris aku langsung menuju kelas. Aku duduk dan terdiam sejenak. Tiba-tiba aku teringat dengan Marel. Aku termenung.

Aku dikejutkan Elisa hingga jantungku berdegup kencang. Jantungku semakin memukul sakit ketika ia menanyakan PR Fisika dari Pak Laban sebanyak 200 soal? Aku kok jadi pelupa begini?

Tanpa mikir apa-apa, aku berdoa kiranya Pak Laban tidak murka karena aku belum selesai mengerjakannya. Tetapi, memang sedang terhindar dari amarahnya, Pak Laba tidak datang dan digantikan guru yang lain. Seharian aku riang.

Aku semakin bahagia karena  berjumpa dengan Marel. Sungguh kesempatan emas , aku akan minta bantuan tugas yang tak kumengerti. Kami belajar di sebuah halte didekat pemakaman. Betapa strategis tempatnya. Tapi tidak mengapa, asalkan tugasku aman. Dia pun menjelaskan dengan detail. Setelah selesai mengerjakan tugas aku menawarinya minum di sebuah warung kecil. Aku bermaksud untuk mengucapkan terimakasih.

Seminggu telah berlalu dan aku pun mengumpul PR fisikaku. Ternyata, jawaban yang dikerjakan Marel benar semua. Dan Pak Laban mulai meragukanku. Tapi bapak itu juga mengagumi kegigihanku dalam mengerjakan PR, walaupun dengan bantuan orang lain.

***
Tak lebih sebulan lagi aku berada di sekolah ini. Aku telah mempersiapkan menuju perguruan tinggi dengan matang. Tetapi semuanya menjadi tidak bergairah karena saudara tercinta sekaligus motivatorku yang terhebat telah pergi meninggalkanku dengan sejuta kepedihan. Sore ini aku memutuskan berjalan-jalan dengan Marel.

Sebulan berlalu, aku tidak tahu ingin melanjut ke mana. Dari SMP aku hanya ingin kuliah di STAN. Tapi sekarang tak ada yang bisa kuminta pendapat.
Tak tahan menanggung semua beban pikiran, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman kota. Memberi bantuan sekadarnya pada pengemis berpenampilan sangat jorok. Saking tersentuh hati, aku berencana memberikannya beberapa lembar uang dari dompet.

Aku memotivasi diri untuk maju dengan memperjuangkan tekad hidup. Aku juga harus mempersiapkan untuk menjalani ujian masuk STAN.

***
Aku terkejut dan heran sebab dinyatakan lulus. Seketika aku teringat Marel dan saran-sarannya. Dan sangat disayangkan karena saat pergi mengunjungi Marel ke rumah kecilnya, dia sudah tidak ada di situ. Tak ada satu orang pun yang tau kemana dia pergi. Dia pergi tanpa meninggalkan jejak sekecil debupun. Aku menangis. Menangis sejadinya karena pria hebat yang selama ini memotivasiku, pria yang  menjadi pengganti abang mendiangku,

menghilang begitu saja dan pergi meninggalkanku setelah keberhasilanku. Aku menatap langit; Saat Tuhan menutup semua pintu, Dia juga membuka jendela kecil yang menuntutku untuk berusaha semampuku." (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru