Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 10 April 2026

Sekolah Idealnya Dijadikan Tempat Mengasah Adab

- Minggu, 04 September 2016 16:29 WIB
331 view
Sekolah Idealnya Dijadikan Tempat Mengasah Adab
SIB/Dok
Pemerhati pendidikan Jones Celnov Lubis dan RO Choky Sitorus dalam posisi sebagai ketua dan sekretaris sekretaris 1st North Sumatera International Choir Competition 2016.
Medan (SIB)- RO Choky Sitorus mengatakan, sekolah idealnya menjadi tempat mengasah adab. Ironinya, kondisi yang dinilai ideal tersebut semakin hari semakin jauh dari sasaran. Buktinya, banyak siswa yang berlaku negatif, mulai dari hal kecil hingga menghebohkan seperti terlibat penghilangan nyawa orang lain. "Sekolah tempat menuntut ilmu, ya. Tetapi, sekolah harus pula memrioritaskan penempaan siswa yang memiliki kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan dan akhlak. Dengan memiliki adab maka pribadi seseorang menjadi peka. Dalam posisi itu maka akan gampang mengisi ilmu ilmiah," ujar praktisi pendidikan di jeda reuni per kelas Alumni SMA Methodist Medan angkatan 1986 di De-Palaz Jalan DI Panjaitan Medan, Jumat, (2/9).

Choky Sitorus yang Ketua Panitia Reuni Akbar  SMA Methodist Medan Angkatan 1986 tersebut mengatakan, ide-ide dalam upaya peningkatan kualitas anak didik, mulai dari menambah jam pelajaran dan muatannya, adalah baik. Tetapi, ujarnya, yang sangat ideal menambah muatan pendidikan adab.

Menurutnya, pengetahuan dan ejawantah adab dalam kehidupan, bukan dengan pelajaran formal seperti pendidik di depan kelas menghadapi murid tetapi sesuai pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. "Artinya, pendidikan dan pengayaan adab mencakup seluruh manusia. Kalau di sekolah mulai dari pendidik, seluruh pihak yang terlibat dalam organisasi sekolah dan siswa. Pelajar pun jangan dijadikan obyek pendidikan adab tapi menjadi subyek," tegas Choky Sitorus didampingi didampingi Wakil Ketua michael Kitong, Sekretaris Totot, Wakil Sekretaris Betty Marbun, Bendahara Endah Sriwardhani, Wakil Bendaraha Ellis dan seksi-seksi.

Ia menunjuk kegiaan reuni-reuni yang rutin dilakukan banyak pihak. Pertemuan sedemikian, lanjutnya, baik tapi jangan dijadikan ajang ngumpul-ngumpul semata tapi harus sebagai bentuk silaturahim adab. "Bila waktu di sekolah beroleh pengamalan adab menjadikan para alumni ingat pada sekolahnya, mengingat dan menghargai jasa para pendidiknya," tegasnya sambil mengatakan tekad seperti itu direalisir alumi SMA Methodist Medan dengan mengunjungi sekolah dibarengi kegiatan sosial seperti menyumbang kursi untuk aula yang baru, menyantuni para guru sebagai bentuk tanggung jawab sosial. "Menyayangi guru kan sama dengan mencintai orangtua sendiri," tegas pria yang sekretaris 1st North Sumatera International Choir Competition 2016 tersebut.

Mengenai alumni 1986 SMA Methodist Medan memiliki 9 kelas dengan kisaran 400 siswa yang kini tersebar ke sejumlah pelosok dunia. Dalam kegiatan dihadiri lebih 200 orang yang datang dari Afrika, Amerika dan Australia termasuk dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Reuni tersebut diadakan secara maraton. Diawali reuni antarkelas yang diarahkan menjadi akbar di Hotel Danau Toba Internasional Medan. Minggu, (4/9) dilanjut dengan kegiatan khusus  Lunch Gathering with Teacher yang klimaksnya kongkow terbuka di eks Bandara Polonia Medan. "Dalam tiap pertemuan tetap membicarakan apa yang disumbangkan untuk almamater," tutupnya. (T/R9/ r)

teks foto


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru