Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 10 April 2026

Mak, Jodoh Terbaik Bagiku Harus dari Tuhan Allah

* karya Terry Simanjuntak, Tigabalata - Pematangsiantar
- Minggu, 04 September 2016 16:30 WIB
337 view
Mak, Jodoh Terbaik Bagiku Harus dari Tuhan Allah
Malam ini, aku nangis lagi. Terus terang, pertanyaan omak tentang jodoh semakin menikam perasaan. Aku akui, usiaku sudah menuju ke angka tiga. Bagi kerabat di kampung, sudah riskan.  Aku pun merasakan hal itu. Tetapi bukan aku tak mau berkeluarga.

Kalau memakai model lalu, dikenalkan langsung jadian... terus terang aku tak sanggup. Tak sedikit kawan-kawanku berada di zona tak nyaman ketika harus menikah atas dasar penjodohan. Namun, sekali lagi kutegaskan, aku bukan menolak penjodohan. Aku juga tak mau dibilang melawan orangtua. Jika itu yang terjadi, risikonya besar. Aku bisa kuwalat.

Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Orangtuaku hidup dari menyewakan lahannya untuk ditanami padi. Sumber penghidupan adalah berdagang jajanan. Apa saja didagangkan demi mendapat uang.

Penghasilan pas-pasan dibagi untuk membiayai 6 anaknya. Mulai dari untuk biaya makan sehari-hari hingga keperluan sekolah. Orangtuaku memang sangat perhatian tentang pendidikan putra-putrinya. Misalnya omak. Ia lebih mau menunda jalan-jalan atau membeli ice cream demi mengumpul membayar uang sekolah anaknya. Dari upaya mereka, semua kami sekolah. Bahkan adikku bisa menimba ilmu di FKIP UHM Pematangsiantar.

Kakakku memang sudah menikah. Dialah yang menjadi kebanggaan bapak dan omak. Soalnya, anaknya menjadi pahoppu panggoaran. Sekarang posisiku sebagai boru tertua.

Seperti kukatakan, aku tak mau dicap pelawan. Tetapi, aku juga punya cita-cita ingin membalas semampunya jasa orangtuaku. Itulah alasanku mengapa aku mau merantau.

Setamat SMAN Tiga Dolok, aku merantau ke Batam bersama adikku. Kami berjuang sekuatnya di tanah orang. Tetapi, gaji belum maksimal hingga empat tahun berkarier di pulau yang berdekatan dengan Singapura itu, tidak menghasilkan apa-apa. Aku memilih kerja di Seremban, Malaysia.

Di sini, aku dapat mengumpul. Gaji minimal RM1.700 RM dengan biaya pengeluaran maksimal RM 500. Sisanya kutabung dengan mengirim ke kampung. Sudah tahun keempat di negeri tetangga. Tabungan sudah lumayan banyak.

***
"Tidak! Setelah kontrak ini selesai, kau harus pulang. Menikah. Tabunganmu gunakan untuk usahamu di kampung," kunci omak dengan suara setengah memelas, dari seberang sana.

Aku menangis lagi. Bingung. Kalau tidak telepon ke kampung, rindu tak tertahankan. Jika berkomunikasi, pasti soal menikah. Berkali-kali kubilang, aku bukan tak ingin menikah tapi belum ada yang mau menikahiku sesuai pilihan hati.

"Tak perlu kau tabung uang segudang karena itu tidak membahagiakan kami," ulang omak lagi. "Kami takut nanti tidak dapat lagi menyaksikan kau bahagia di pelaminan. Aku ingin menggendong anakmu!"

Omak benar tapi ya itu tadi... mana jodohku. Kini, bila menelepon ke omak, topik-topik hangat kusampaikan bahkan membicarakan bagaimana mengolah sawah dan ternak. Tetapi, ya... omak ngotot pula bicara jodoh. Ia bahkan memaksaku untuk segera pulang.

Aku tak menjawab, tapi diam-diam aku pulang. Caranya memanfaatkan cuti pendek. Ketika sampai di Pematangsiantar, omakku heran. Bertanya kenapa aku pulang tidak bilang-bilang.

Setelah seharian bercerita tentang semua anak-anaknya, omak ngotot lagi soal jodoh. Ia sudah menyiapkan lelaki calon pendampingku.

Lelaki yang dimaksudkan sudah kukenal sebelumnya. Hanya saja, karena aku merantau, komunikasi tidak selancar ketika masih SMA dulu, 10 tahun lampau.

Omak memuji-muji lelaki itu. Menurutnya, banyak perempuan yang naksir padanya tapi calonku itu bersikukuh menungguku. Singkatnya, menurut omak, pria itu yang paling cocok buatku.

Aku tak menjawab. Hanya senyum. Semua pembicaraan menjurus ke arah sana, aku alihkan. Syukur rekan-rekanku berdatangan ke rumah. Mereka memang sudah menikah. Dari teman dekatku kuketahui pria yang dijodohkan buatku pernah berkeluarga saat di rantau tapi pisah karena tidak ada kesesuaian. Karena terpojok, aku berlari ke kamar.

Seperti kala di kamar kost di Malaysia, aku memilih berdoa. Minta petunjukNya. Air mataku menitik lagi. Dalam doaku, pria itu tak cocok buatku.

Minggu aku pulang. Pagi-pagi, sebelum ke gereja, omak ngotot tentang jodohku pilihannya. Aku mengiyakan tapi kukatakan aku takut menghadapi persoalan seperti yang dihadapi istri pertama pria itu.

Omak terkejut. "Dari mana kautahu itu?" (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru