Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Cerpen

Pemulung Seksi di Simpang Jalan

* karya Anggi Triana, SMAN 2 Rantau Selatan
- Minggu, 18 September 2016 13:55 WIB
886 view
Pemulung Seksi di Simpang Jalan
Namanya Raquel. Mamaku bilang nama itu indah, seperti nama bintang seksi Hollywood Raquel Welch. Tetapi ketika kukatakan pemilik nama itu sahabatku yang pemulung, mama terheran. Saking bengongnya, mama ingin kenal padanya.

Tetapi Raquel tidak serta merta mau menemui mamaku. Katanya, malu. Apalagi ia mengaku sama sekali tidak ada urusan dengan perempuan yang melahirkanku itu. Setelah kubujuk-bujuk, Raquel bersedia datang.

Mama menyambut hangat dan tak menduga Raquel seorang pemulung. Soalnya, sahabatku itu pun sekolah seperti siswi kebanyakan. Bedanya, jika yang lain sepulang belajar pergi les atau istirahat, Raquel berjalan menyusuri kota dengan karung goni plastik dan sepeda butut.

Saat memulung, Raquel membungkus tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kuku. Hanya wajahnya saja yang kelihatan. Ketika kutanya kenapa begitu, Raquel mengaku takut hitam legam terbakar matahari.

"Ah, kamu pasti malu karena memulung!"
"Tidak, ah!"
Tetapi, Raquel minta padaku untuk tidak cerita apapun tentangnya pada mamaku. Juga pada kawan-kawan di sekolah. Ketika bertemu mama, Raquel pun tak mau cerita aktivitasnya seusai sekolah. Katanya di rumah saja, membantu ibunya.

Sekali bertandang ke rumah, mama terkagum pada Raquel. Soalnya, ia rajin banget. Usai makan siang, langsung membereskan piring dari atas meja. Mencucinya. Meski dilarang karena ada asisten rumah tangga, tapi Raquel tetap bersikukuh.

"Cara kerjamu, tante salut denganmu, Raquel," puji mama. "Sering-sering ke marilah. Belajar di sini. Tante senang kalau Raquel selalu ke mari. Nanti tante ajari menyalon. Gratis. Gak usah bayar," ajak mama.

"Tapi, di rumah banyak yang dikerjain Tante!"
"Kamu itu seksi lho, Raquel. Kamu harus maksimalkan pemberianNya!"
Pulang dari rumahku, aku marah-marah sama Raquel. Kenapa membohongi mamaku dengan mengatakan banyak kerjaan di rumah. Bukankah Raquel memulung sampah untuk dijadikan tambahan biaya hidup keluarganya.

Raquel menatapku dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. "Kau malu berteman denganku yang pemulung?"
"Tapi kamu berbohong, Raquel. Yang kamu bohongi itu mamaku!"
Raquel minta maaf sambil memelukku erat-erat. Cepat-cepat ia menarik tubuhnya dan membersihkan bajuku tapi aku menolak. Soalnya, tidak ada yang kotor. Cuma perasaan Raquel saja.

Dengan santun ia permisi tapi aku ngotot ikut di boncengan sepedanya. Raquel mohon jangan mengganggunya. "Kamu jangan kuatir. Aku bersedia mengganti penghasilanmu hari ini. Asalkan ikut belajar salon dengan mamaku!"

"Tapi aku lebih suka mendapatkan uang dari keringatku!"

Aku membujuknya. Dengan mahir salon, Raquel bisa dapat uang lebih banyak dan kerja di ruang dingin serta harum. Karena tak bosan mengajak, Raquel bersedia.
Mama pun terherap karena sahabatku itu cepat mahir. Tetapi Mama tidak mengizinkan Raquel menjadi asistennya karena harus sekolah dan les.

Aku yang menjelaskan pada mama bahwa waktu Raquel habis untuk memulung setiap hari, sepulang sekolah. Mama semakin kagum padanya tapi marah-marah juga sebab Raquel tidak jujur. Mama menyimpulkan Raquel harus les dan dibiayainya tapi sahabatku itu menolak sambil menitikkan air mata. Katanya, orangtuanya butuh duit yang didapat dari keringatnya. Alasan itulah yang membuat mama bersedia memerkerjakan Raquel di salonnya.

Ketika ada lomba kecantikan, mama mendaftarkan Raquel. Aku juga ngotot ingin ikut tapi mama memrioritaskannya. Kejadian itu membuatku benci pada Raquel. Kenapa aku anak mama tapi tidak diutamakan? Akhirnya Raquel tahu perasaanku. Ia minta mundur dari kompetisi dengan alasan tidak diizinkan orangtunya.
Mamaku marah dan mendatangi orangtua Raquel. Dari sana mama tahu bahwa tidak ada larangan tapi Raquel yang berinisiatif.

"Raquel. Kamu itu sudah tante anggap seperti anak sendiri. Sekarang, tunjukkan hasil ajaran tante yang sudah menjadi mamamu sendiri!"
Raquel mengaminkan harapan mamaku. Dalam perlombaan mendapat posisi runner-up. Di pentas, ketika diberi kesempatan bicara, tiga kali namaku disebutnya.
Aku ikut bahagia atas prestasinya. (y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru