Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Curhat

RencanaMu Membuatku Terhempas Tapi...

* Daniel Efraim Markodeta Pardede - Puangaja Sibolangit, Deliserdang
- Minggu, 18 September 2016 13:56 WIB
367 view
RencanaMu Membuatku Terhempas Tapi...
Aku hadir lagi di ruang ini. Dua bulan lalu ceritaku tentang kepergian ayah-ibuku, yang dipanggilNya bersamaan dalam rentang bulan. Akibatnya, hidupku yang penuh kasih sayang, tiba-tiba jadi terhempas. Aku remuk dalam kepedihan panjang. Duniaku jadi hitam tak berwujud.

Aku merasa Tuhan Allahku tidak adil. Aku protes pada Yesus Kristus. Aku sempat ingin berpaling dariNya. Untung ada nenekku. Nama lahirnya Pawen Beru Gurusinga. Warga di sekitar rumahnya di Puangaja Sibolangit, memanggilnya Nande Lowis.  Karena kehadiranku sebagai cucu pertama, keluarga memanggilnya Ompung Marko.

Ompunglah kini merawatku. Demi aku pula ia rela meninggalkan kampung halamannya untuk mandah ke GSJA Tabernacle of Praise Jalan Dame Psr 4, Tanjungmorawa. Menetap di bagian pastori.

Curahan kasih sayang ompung membuatku perlahan-lahan pulih dari ketakutan, berjarak dariNya. Tiap hari selama 24 jam, ompung yang terus memerhatikan. Kadang, muncul pula rasa malu karena pria lajang seperti aku masih terus diperlakukan seperti anak kecil. Saking tak terukurnya kasih sayang ompung, aku memosisikannya sebagai orangtua kandung.

Memang, ompung adalah ibu kandung dari ibuku. Kata orang kasih sayang dan perhatian nenek lebih besar dari seorang ibu. Itu benar. Seperti yang kualami. Aku bahkan sampai tidak merasa ketika ibu-ayahku dipanggilNya aku masih di SMP. Sekarang, aku sudah semester ketiga di satu STT.

Aku pun bertekad, suatu waktu nanti harus 'membalas' jasa baik ompung yang selama ini kuterima dengan sempurna. Itulah sebabnya, apapun kulakukan untuknya. Ke ujung langit pun kutempuh demi memenuhi janji dan untuk menyenangkan hati ompung.

Seperti pekan lalu, kakinya terkena paku. Menurutku lukanya tidak bahaya, tapi karenanya badannya jadi panas. Meski sudah diobati, bukan makin sembuh tapi kondisinya makin parah. Kuusahakan menggendong ompung ke dokter.

Aku masih bersyukur karena luka yang membuatnya titanus. Semua resep yang diamanatkan dokter, kutebus dengan uang ompung.

Disebabkan kuliah, ompung tinggal sendiri di rumah. Itu pula yang membuatnya memakan obat sendiri. Jika aku di rumah, akulah yang telaten menyuapinya.
Malam itu, tiba-tiba ompung sulit bicara. Aku ketakutan. Soalnya wajahnya jadi mengihitam tapi terlihat lemas. Aku semakin takut karena ompung sulit bicara. Lidahnya jadi pendek. Rupanya ompung salah minum obat.

Semakin diterapi, semakin menjadi sakitnya. Setengah hari kemudian, ompung dipanggilNya. Tuhan Yesus, kenapa Kau perlakukan aku begini. RencanaMu membuatku terhempas lagi.

Aku tidak tahu harus memulai hidup dari mana lagi. Tetapi, kuyakin kuasaMu terjadi padaku. (y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru