Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Cerpen

Mantan Guru Jalanan dari Medan

* karya Abadi Sembiring - Ketepul, Kabanjahe
- Minggu, 27 November 2016 21:30 WIB
402 view
Namanya Roberto. Keseharian di kampung membuatnya bosan. Bangun pagi, ke ladang. Sejam saja. Meski dirasanya lama, namun bagi petani waktu enam puluh menit, hanya sebentar. Soalnya, Berto harus sekolah.

Pulang sekolah, kembali lagi ke ladang. Kewajiban memang harus membantu orangtua yang bertani. Sama seperti rekan sebaya, bertani adalah satu kewajiban yang sebenarnya ingin ditolak.

Usai pagi dan petang ke ladang, malam berkumpul dengan kawan-kawan di kedai atau ke warnet. Dari dunia maya Berto tahu kota dengan segala gemerlapnya.
Melihat foto rekan-rekan di sosmed, Berto ingin juga ke sana. Tengoklah gedung pencakar langit bermandi kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan mata. Belum lagi mendengar dentuman musik yang menambah kenikmatan. Kota memang menjanjikan kebahagiaan.

Berto memendam hasrat ingin ke kota. Pilihan tentu Medan. Karena itulah, bila ada waktu luang, langsung ke ibu kota Sumut. Perjalanan hanya maksimal tiga jam.
Belum sampai di daerah yang dituju, kebahagiaan sudah menyembul. Soalnya, mulai dari  meninggalkan wilayah Karo masuk ke wilayah Deliserdang, aroma kota sudah terasa. Apalagi menjejakkan kaki di mulut Medan, suasana kota sudah terasa.

Macet pun membuatnya bahagia. Menapak di wilayah Padangbulan, seperti tergenapi baginya hinggap di kota. Terus ke inti kota, dunia gemerlap semakin menyergap. Apalagi malam.

Di jantung kota, kawasan Lapangan Merdeka begitu meriah. Orang lalu-lalang dengan aroma parfum yang santun membelai hidung. Duduk dengan kopi berhias  buih yang dibentuk macam-macam menjadikannya ingin pula menyeruput. Padahal, kopi yang ditanam di celah Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung, jauh beraroma nikmat. Tetapi, kalau di kampung, minumnya tidak seperti di kota.

Di kota, menyeruputnya sedikit-sedikit. Kalau di kampung kan seperti orang yang kehausan. Soalnya, hanya ada kopi dan rokok. Di kota, kopi diletakkan di meja dengan roti dan makanan lain yang sama lezatnya.

Kendala muncul ketika Berto tidak punya uang. Tidak mungkin terus-menerus minta sama orangtua atau kerabat. Lagi pula, biaya minum kopi segelas di kota terlalu tinggi jika dibandingkan di kampung.

Tetapi karena keinginan tak dapat dibendung, Berto bergabung dengan geng Medan. Mula-mula mengutip uang dengan halal. Jadi juru parkir. Tetapi, pendapatan nyaris tidak bernilai jika dibandingkan dengan kawan-kawannya yang punya penghasilan lebih besar.

Berto punya keahlian bela diri. Ilmu tersebut dimaksimalkannya untuk menambah penghasilan. Tetapi, namanya Medan, semua serba perhitungan. Kesabarannya harus berbenturan dengan kesombongan.

Ada kelompok yang mengganggu yang membuat Berto harus menguji kehebatannya. Meski lawannya menggunakan senjata tajam, dapat ditaklukkannya. Kemenangan tersebut membuat namanya makin sohor. Konsekuensinya, semakin banyak yang minta jasanya untuk pengamanan usaha. Di rumah hiburan inilah Berto kenal dengan perempuan ayu yang berprofesi sebagai pramuria.

Tetapi, begitulah Medan. Tiap ada tantangan harus terlebih dulu uji nyali. Berto pun menjawab semua tantangan dan dimenangkannya. Untuk pertandingan kali ini, Berto harus tega mengeluarkan kemampuan terakhirnya.

Akibatnya, Berto buron. Menghindari hal terburuk, Medan harus ditinggalkannya. Bersamaan dengan itu, Berto pun harus membujuk perempuan idamannya mengikuti langkahnya.

Berto ingin mengajak kekasihnya ke kampungnya tapi si perempuan ingin kembali ke Jawa. Berto malu kalau ikut langkah pacarnya tanpa persiapan. Itu pula yang membuat kekasihnya tak berani ikut bersama Berto.

"Tapi, apapun yang dihadapi, hatiku tak pernah bisa melupakanmu, Mas," bisik kekasih Berto di telinganya.

Janji seperti itulah yang membuat Berto luluh. Ia mengalah. Kekasihnya pulang ke kampung halamannya dan Berto kembali bertani.

"Saya janji, Mas. Kapanpun Mas datang ke Purwakarta, saya tetap sendiri," tambah kekasihnya. "Saya yakin, Mas setia dengan janji kita!"

Menyimak kata-kata itu, Berto tak dapat menahan air matanya. Hangat meniti pipinya. Sama ketika Berto meninggalkan kekasihnya di kampung halaman. Cucuran air mata tak terbendung.

Sepekan pertama, Berto dihantui korban kebengisanannya di Medan. Tetapi, rindu pada kekasihnya pun tak tertahankan. Bulan berganti ke semester. Kekasihnya tetap menanti.

Dari Medan, kawan-kawan memberi tahu bahwa kelompok geng Berto yang ditangkap sudah selesai menjalani hukuman. Artinya, jika Berto ke Medan, sudah aman. Tetapi, sesuai janjinya, Berto ingin tetap menetap di kampung sebagai petani. Nanti, bila panen, ia ingin menjemput kekasihnya.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru