Waktu sepertinya sangat memburuku. Sedetik saat ini sangat berharga bagiku. Resah menusuk dadaku. Sejenak teringat masa putih abu-abuku. Teringat semua waktu yang kusia-siakan. Kini kurasakan nikmatnya penyesalan yang sangat dalam. Sudahlah! Tak ada arti dari sebuah penyesalan. Kini, semua beban harus kutanggung sendiri. Mandiri! Itu yang terpenting. Tanggungjawab yang besar, dewasa, berpikir untuk masa depan.
Rasanya sulit tak ada yang menegurkan lagi. Tak ada orang yang memperhatikan keseharianku. Teman-temanku kini tak lagi bersamaku. Aku serasa tak hidup. Waktu tegur aku, tegur aku jika aku mulai menyerah. Waktu bersahabatlah denganku. Agar aku mampu menghargaimu.
Tak ingin mengikuti jejak-jejakku yang dulu. Aku sebenarnya sungguh tak sanggup menghadapi ini lagi. Tuhan aku menyerah. Aku ingin hidup di zaman kanak-kanakku dulu. Aku belum sanggup mengatasi masalahku sendiri. Aku harus bagaimana? masa putih abu-abuku yang sudah kulepas kini serasa menjadi sejarah terkenang dalam hidupku.
Waktu tegur aku. Hanya kau yang mampu menegurku. Sekarang kau akan menjadi yang terpenting bagiku. Maaf, dulu ku sia-siakan kesempatan yang tak akan terulang. Kesempatan untuk memperbaiki semuanya di putih abu-abu kini sudah sirna. Waktu, aku berjanji akan menjadi sahabat terbaikmu.
Ini bukan sebuah ungkapan yang mengatakan aku sudah menyerah. Ini ungkapan yang kelak akan membuatku lebih mencintai waktu. Waktu, kau juga yang mempertemukanku dengan sahabat lamaku. Setelah sekian lama berpisah karena unsur pilihan masing-masing. Bersamanya kuulangi lagi kisah yang sudah pernah sirna.
Waktu, kau juga yang mempertemukanku dengan seseorang yang kusebut sebagai motivator di hidupku. Entah mengapa, rasanya sangat nyaman bersamanya. Katanya dia tidak dapat disebut sebagai sahabat atau pacarku. Aku bukan sahabatmu! Karena sahabat adalah orang selalu ada bersama kita di kala kita bersuka atau berduka. Aku takkan bisa bersamamu disaat duka menyelimutimu atau aku bahkan ada ketika suka ada dirimu.
Semenjak masa putih abu-abuku berlalu rasanya aku ingin ditegur seperti dulu lagi seperti biasa yang dilakukan teman-temanku padaku. Sebulan berlalu lepas dari putih abu-abuku kini teguran juga sudah kudapatkan lagi dari sang waktu.
Jangan sebut aku sebagai pacarmu karena aku tak akan bisa membawamu kebulan. Bukankah seorang pacar akan menyebut bulan sebagai salah satu alat untuk membahagiakan pasangannya.
"Lalu, kusebut apa?"
"Sebut aku waktu. Waktu yang selalu ada bersamamu, yang tak pernah hilang dalam segala hal. Aku akan selalu ada dimana kau pun ada. Aku bersamamu. Bagaimanapun keadaanmu aku akan selalu ada untukmu."
Waktu kau juga mempertemukan waktu untukku. Kini aku memiliki seseorang yang kusebut waktu. Aku memiliki 2 waktu. Maksudku satu waktu yang terus menerus berlangsung dan tak terhentikan dan satu lagi seseorang yang kusebut waktu. Kedua waktu yang kusebut tidak jauh bedanya intinya mereka berdua selalu bersamaku.
Ada saat di mana aku harus membagi diriku kedalam kedua waktu itu. Aku tak bisa menolak waktu yang setiap detik, menit bahkan jam. Aku juga tak bisa melepas seseorang yang kusebut waktu. Memang dia tak selalu bersamaku seperti waktu yang lain. Tapi dia selalu muncul dimana aku mulai menyerah dan pasrah.
Aku ingin kalian selalu bersamaku tanpa harus memilih diantara kalian berdua. Aku tak bisa memilih waktu yang selalu berputar tanpa mengetahui apa yang terjadi padaku disetiap prosesnya. Aku ingin bersama waktu! Aku ingin kedua waktuku selalu bersamaku.
Tapi untuk kesekian kalinya aku bahagia karena waktu. Aku memiliki masa-masa yang indah bersama waktu. Tapi jujur waktu yang kusebut ini beda jauh dari waktu yang kusebut sekarang. Aku lebih bahagia bersama waktu yang sekarang. Jarak tak menjadi penghalang bagiku dan bagi waktuku sekarang.
Keseharianku berjalan lebih baik, tapi waktu demi waktu sang waktupun kini perlahan-lahan memudar. Entahlah, perlahan-lahan semuanya sirna. Aku yang terlalu berharap atau waktu yang tidak berpihak padaku. Sungguh aku tidak tahu.
Kabarnya mulai ditelan bumi. Status di akun pribadinya juga sepertinya tertuju pada seorang wanita lain. Tapi ya sudahlah, inilah yang disebut terlalu berharap jauh dan akhirnya terjatuh sakit. Tapi intinya bagiku biarkan waktu yang menjawab semuanya. Mungkin inilah semua jalan cerita yang sudah digariskan untukku.
Kubiarkan waktu berjalan dan kubiarkan waktu juga berhenti. Biarkan semua terjadi tanpa waktu yang kuspesialkan dalam hidupku. Ku ikhlaskan kau sebagai waktu yang hanya sekilas datang dalam kehidupanku. Intinya aku akan tetap bersahabat dengan waktu yang masih ada untukku.
Tak tersadar semuanya telah kutuangkan dalam akun pribadiku. Semuanya telah terpublikasikan. Komentar menghampiri tapi sudahlah biarkan waktu juga yang menjawab semuanya. Kuingin tinggalkan waktu yang telah pergi dan kuperjuangkan waktu yang masih tersisa untukku. Rasanya begitu mengiris hati!
Tapi sepertinya waktu yang sudah pergi merasa tersinggung atas apa yang kutuangkan dalam akun pribadiku. Semuanya kubiarkan berjalan. Dalam hatiku aku sebenarnya ingin dia kembali lagi.
"Aku tidak pergi dan aku hanya memastikan sampai berapa lama kau menunggu waktumu?"
Semua tdak terduga. Pikirku ini hanyalah khayalan. Sudahlah cukup! Biarkan aku pergi waktu, aku hanya ingin lebih menjalani waktu yang masih tersisa. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Biarkan mereka pergi sesuka hati mereka. Aku percaya semua akan terjawab dengan sendirinya.
Yang terpenting sekarang tetaplah bersamaku, waktu. Aku tidak ingin lagi lebih memilih waktu yang hanya sekilas melewati hidupku. Kupercaya hanya kau yang selalu ada untukku. Kau selalu bersamaku saat duka dan suka bersamaku. Kuterima waktu yang telah pergi meninggalkanku dan kuperjuangkan waktu yang masih bersamaku. ***