Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026
Curhat

Ingin Terbang Seperti Merpati

* Ferawaty, SMP Budi Murni 3 Medan
- Minggu, 12 Maret 2017 21:56 WIB
402 view
Hidupku biasa-biasa aja. Datarrr. Maksudnya, tidak seperti rekan-rekanku di sekolah. Mereka, tiap Senin atau seusai libur, selalu menyodorkan cerita indah pergi bersama orangtua. Misalnya, ke luar kota bahkan ada yang ke luar negeri.

Mendengar celotehan libur sehari diisi dengan pelesiran saja, aku sudah ngiler. Apalagi menyimak liburan tersebut jalan-jalan ke luar negeri. Menyaksikan konser artis favorit. Aku pun kepingin.

Beda dengan aku. Jangankan janjalan ke Danau Toba atau apalah, nonton saja tak pernah. Jangankan menyaksikan film yang dibintangi artis idola, menginjakkan kaki di gedung bioskop saja hanya sekali seumur-umur. Rasanya, sayang banget membuang uang membeli tiket.

Meski begitu, aku tetap bersyukur. Hidupku serasa lengkap.  Walau ayah-ibuku berpisah, aku harus bersyukur karena orang-orang yang kusayangi tersebut masih hidup. Sehat wal alfiat. Jika kangen sama ayah, aku mengunjunginya. Meski aku selalu sungkan karena ayah sudah bersama ibu tiriku.

Rasa bersyukur itulah yang membuatku terus tersenyum. Bukan tak ada luka di hati tapi karena tak ingin mengumbar cerita rumah-tanggaku pada kawan-kawan.  Bukan tak ada air mata, tapi biarlah hatiku yang merintih tanpa perlu termehek-mehek. Aku punya Tuhanku, sebagai tumpuanku yang mahasempurna.

Jika mengikuti perasaan hati, tiap malam aku merintih perih. Bahkan mungkin tiap jam aku menangis, tapi untuk apa? Bagiku, perjalanan hidupku adalah takdir dariNya. Perjalanan hidup itu pasti akan berubah bila aku terus berusaha. Caranya, ya... harus makin giat belajar dan meraih prestasi.

Karena cara itulah membuat kawan-kawanku selalu ingin seperti aku, yang seolah riang terus. Bahkan mereka menjadikan aku sebagai tempat curhat. Soal apa aja tapi yang paling banyak karena naksir cowok. Ketemu lelaki tampan saat liburan di Singapura tapi tak berani terus terang. Untuk cerita demikian, aku menyarankan agar biasa-biasa saja. Jangan terlihat banget suka sapa pria karena nanti jadi simalakama.

Terus terang, aku saja bingung pada diri sendiri. Entah dari mana perbendaharaan kata-kataku bisa mengalir begitu. Padahal, aku saja tak pernah berpacaran. Gak berani karena kondisiku yang seperti ini.

Apalagi mengingat ibuku hendak menikah lagi. Yang kutakutkan, perhatian ibu pada kami anak-anaknya menjadi berkurang. Atau bahkan mungkin hilang. Aku pun tak dapat membayangkan bagaimana nanti tinggal serumah dengan ayah tiri.

Membayangkan semua itu, air mataku menitik. Aku terus berdoa, mohon padaNya agar pernikahan itu batal. Atau, jika mungkin, aku diberi sayap hingga bisa terbang ke mana saja, meninggalkan bayang suram hidupku. Meski pergi jauh, suatu waktu nanti pasti pulang untuk memenuhi janjiku yang ingin membahagiakan ayah-ibu. Merpati kan tak pernah ingkar janji. (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru