Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 10 April 2026
Cerpen

Cuma Menemui Batu Nisanmu, Asrial...

* karya Porta, Pulobrayan Bengkel - Medan
- Minggu, 02 April 2017 20:42 WIB
527 view
Namanya Asrial. Cuma sepenggal kata. Ya, hanya sesingkat itu. Bahkan, orang-orang menyapa dengan Yal tanpa 'i' tapi aku agak lebai. Menyapanya dengan Mas Iyal. Biar agak-agak romantis, gitu.

Waktu pertama kali mendengar cuitanku, Mas Iyal sempat terheran. Ia bahkan tak mau mendengar pengulangan sebutan itu tapi aku cuek aja. Ia ngerepet. Katanya, darahnya memang berasal dari Jawa tapi lahirnya di Tanah Deli, Sumatera. Jadi, disesuaikan saja dengan petuah 'di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung!'

Aku pura-pura dengar tapi kulanjutkan dengan menyanyi Dekat Di Hati milik RAN. Setiap kali ia protes dengan panggilan 'mas' aku mengulang lagu tersebut. Akhinya, Mas Iyal menerima. Aku pun makin berlebay-lebay dengannya.

Tak hanya hanya memanggil tapi mendekatkan hati, seperti lagu itu. Untuk yang satu ini, Mas Iyal juga risih. Ia merasa aneh diperhatikan lebih dari rekan-rekan lain, tapi aku gak open!

Akhirnya, Mas Iyal menginterogasiku. Ia memanggilku dan bicara heart to heart. Ia minta penjelasan mengenai perhatianku yang berlebih. Kujelaskan selebar-lebarnya tapi ia tetap saja dengan pendiriannya.

Melanjuti sikapnya yang menolak perhatianku, Mas Iyal cuek padaku. Aku terpukul. Sediiih kali karena seperti tak dianggapnya. Tetapi aku bersikukuh juga. Kuanggap saja perilakunya seperti ujian buatku. Aku tetap memerhatikannya. Terusss. Soalnya aku sudah berketetapan hati untuknya.

Lama-kelamaan, Mas Iyal luruh dengan sikapku. Memang, pada kawan-kawan sekelompokku, ia mengaku menyayangiku. Tatkala dipastikannya memerhatikanku, aku seperti melayang. Hanya saja,  aku tiba-tiba berinisiatif mengundur diri karena ternyata orangtuanya menjodohkan Mas Iyal.

Sekarang, ia yang bertanya kenapa aku berubah. Kujelaskan posisiku. Aku pun tak mau bertemu dengannya. Mencari jalan sendiri, sesuai perasaan hatiku. Tetapi, suerrr... aku terus mengikuti perkembangannya.

Bahkan, tatkala Mas Iyal neikah, aku datang meski tak diundang. Tahu aku berada di ujung tenda, ia mendatangiku dan menghidangkan semua makanan favoritku. Mulai dari tape, manisan bahkan dengan busana pengantin, ia memanjat pohon jambu biji hanya untuk menyenangkan hatiku.

Sampai menitik air mataku menyaksikan Mas Iyal memanjat pohon jambu kelutuk dalam sorotan mata orang-orang. Yang marah adalah Bidan Pengantin sebab busana yang disewa darinya jadi rusak.

Ketika disemprit, dengan nada keras pula Mas Iyal mengatakan bahwa pestanya memang spesial ditujukan padaku.

Aku tertunduk karena jadi perhatian orang-orang, khususnya kelaurganya. Sambil dengan air mata berurai, ada rasa bangga di hati sebab Mas Iyal masih ingat dengan omongan kami dulu yang konon masih dikategorikan cinta monyet.

Sejak saat itu, aku tak mau lagi bertemu dengannya. Aku takut kebahagiaannya terusik karena aku. Terus terang, meski berpisah, aku tetap berdoa demi kebahagiaannya. Aku pun bermunajat kiranya Mas Iyal move on dan semakin berpadu dengan pilihan hatinya. Bukan aku lho.

Aku harus jujur pula, setiap berdoa, air mata selalu tumpah. Ya Allah Tuhan, ijabahlah doaku agar aku dapat melupakan Mas Iyal. Aku pun bermohon agar kuasaNya menggerakkan hatinya untuk melupakanku. Kan impas kalau kami sama-sama melupakan.

Beberapa tahun masa-masa galau terlewat. Aku sungguh melupakannya. Kalaupun berkunjung ke dekat rumahnya, tidak tergerak mendatanginya. Bahkan kawan-kawan pun sudah tidak pernah lagi mengingatkanku dengan Mas Iyal. Aku pun menutup rapat semua perjalanan manis berujung pahit tersebut.

Tetapi, tiba-tiba kabar pedih menyengat hatiku. Mas Iyal elah dipanggilNya, pertengahan Maret 2017. Yang memberi kabar bilang, mungkin karena sakit jantung. Aku ingat-ingat perjalanan kami dulu, tak ada riwayat sakit jantungnya. Ia bahkan lelaki terkuat yang pernah kukenal. Ia pria terhebat yang pernah singgah di hatiku.
Aku ingin protes padaNya tapi yang kujumpa hanya batu nisannya. Inalilahi wainalilahi rojiun... (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru