Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 01 Agustus 2026

Curhat Dameria Sianipar, SMAN 1 Siantar Narumonda

Kita Lebih Baik Berteman saja, Ya!
- Minggu, 11 Januari 2015 17:50 WIB
310 view
Aku dipertemukan dengan Joseph dalam satu keharusan. Keharusan yang diawali ketaksengajaan. Kebetulan aku dan dia sama-sama satu sekolah. Kemudian, ketika memilih jurusan, kami sama-sama satu kelas. Secara tak sengaja pula, kala pemilihan fungsionaris kelas, Joseph jadi ketua.

Andilku ada di situ. Aku ikut memberi suara agar pria tampan itu menjadi pimpinan. Terus terang, jika suaraku tak memilihnya, kemungkinan besar Joseph tidak jadi bos. Soalnya, ada kawan lain yang punya kemampuan seimbang dengannya tapi lebih luwes. Karena suaraku dan kawan-kawan satu kelompok untuknya, akhirnya Joseph beroleh akumulatif paling tinggi.

Itu di kelas pertama. Naik ke kelas selanjutnya, begitu juga. Beda kali ini, karena reputasi Joseph sudah baik, pada pemilihan kali ini akumulatif suaranya lebih maksimal. Aku pun juga tetap memilihnya.

Karena tiap hari ketemu, di samping komunikasi antara aku dan dia lancar, kami semakin dekat. Tetapi, sungguh mati, aku kurang suka dengan gaya dan kesehariannya.

Joseph memang orang berada. Sifat sosialnya tinggi, tapi selalu ingin menang sendiri. Selain itu, kalau melakukan sesuatu, ingin beroleh pujian lebih  dari yang lain. Apa yang dilakukannya selalu pamrih. Memang bukan ingin dapat imbalan materi, tapi ingin dipuji.

Seperti kemarin. Joseph menjadi bandar kawan-kawan. Hal yang biasa baginya melakukan itu, tapi selalu saja mengumbar kebaikannya. Sudah begitu, apa yang dilakukannya harus dibalas dengan cara ngebos oleh  kawan-kawan. Singkat cerita, Joseph ingin dipuja-puja dan diperlakukan istimewa. Padahal, sesuai ajaran yang kuketahui, kebaikan apapun yang dilakukan, tidak boleh orang lain tahu. Seperti yang ditulis di nats, tangan kanan memberi  tangan kiri jangan sampai tahu.

Tetapi, aku harus fair. Joseph itu baik padaku. Bahkan sangat baik. Apa pun yang kuinginkan, selalu dipenuhinya. Bahkan, di luar sepengetuhan dan keinginanku, ia selalu memberikan yang terbaik. Joseph memang memiliki otak tergolong encer.

Aku sempat berpikir, mungkin perangainya sedemikian karena ego seorang kaya dan pintar. Tetapi, sekali lagi, tidak cocok buatku. Soalnya, aku tidak terlalu bodoh. Tak suka pula dibandari orang lain. Apalagi ditraktir lelaki. Sekelasnya...

Hanya saja, Joseph itu pria istimewa sebab selalu bersikap kesatria. Tengoklah apa yang dilakukannya hari ini. Ia menungguku di depan gerbang saat injuri time. Masalahnya cuma sepele.

Joseph meminjam buku matematika yang ada PR. Karena belum dikembalikan, aku tak bisa mengerjakan tugas di rumah. Joseph yang mengerjakan di buku itu. Sebelum dikumpul pada jam pelajaran pertama, ia menunggu di depan gerbang. Begitu melihat aku, langsung minta maaf sambil menjelaskan apa yang sudah dilakukan.

Kemarin pun demikian. Saat mata pelajaran olahraga, Joseph berperan amat besar. Aku lagi kedatangan tamu bulanan. Tanpa sadar, justru Joseph yang tahu duluan.

Dicarinya segala macam keperluan terkait haid. Mulai dari pembalut hingga tisu. Aku sampai heran kenapa tiba-tiba Joseph memberi barang-barang itu padaku. Karena aku sungguh tak tahu, Joseph membisikkan lembut di telingaku dan membuatku ketakutan.

Bukan soal tamu bulanan tersebut, tapi berani-beraninya Joseph melekatkan bibirnya ke telingaku. Apa kata dunia? Saking geramnya aku, Joseph pucat takut dan benar-benar minta maaf.

Ada seribu kebaikan lain yang dilakukan Joseph padaku. Salah satu yang paling membahagiakan, Joseph orang pertama yang mengucapkan ulang tahun lengkap memberi tart amat sangat nikmat di tengah malam saat pergantian hari.

Saat itu, aku pikir ada hal mendesak seperti tabrakan atau bahkan meninggal. Tetapi, ya itu tadi... aku merasa lebih baik cuma berteman. (i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
‎Harga Timun Melonjak Tinggi

‎Harga Timun Melonjak Tinggi

Medan(harianSIB.com)Dua pekan terakhir, harga sayur mayur pelengkap yakni timun di sejumlah daerah, termasuk Kota Medan mengalami kena