Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 April 2026

Kartini dalam Nafas Tamara Sianipar

- Minggu, 19 April 2015 16:52 WIB
793 view
Kartini dalam Nafas Tamara Sianipar
SIB/Dok
Tamara Asuanna Sinaulan Sianipar bersama mama, kakak dan adiknya.
Medan (SIB)- Raden Ajeng Kartini memperjuangkan emansipasi pada kaumnya, perempuan Indonesia. Nafas tersebut diaktualisasikan oleh Tamara Asuanna Sinaulan Sianipar. 

Meski masih duduk di SMP St Thomas Medan namun sudah mampu melahirkan kreativitas berbasis kearifan lokal.  Kepiawaiannya tersebut bahkan mampu menambah pundi-pundi keuangan pribadinya karena sejumlah pelaku industri pariwisata nasional mengontrak cewek empatisme itu menelurkan kemampuannya. Salah satunya hotel di Balige minta hasil kreativitas Tamara dalam bentuk souvenir dan lukisan menjadi ikon wilayah terebut. “Sudah tidak lagi. Kami, orangtuanya, ingin Tamara fokus pendidikan formal. Nanti, jika sudah selesai, dalam usia yang tepat dan mandiri, terserah ke mana mengalirnya,” ujar MR Banuara Sianipar SH CPR di Kantor Pengacara Banuara Sianipar & Rekan di Jalan Brigjen Katamso - Sei Mati, Kamis.

Tamara punya kemampuan lebih ketimbang anak-anak seusianya. Mulai dari melukis bergenre naturalis. Hasil goresan imajinasinya sudah seperti pelukis profesional. Pelukis Joshua Tobing dari ISI Yogyakarta menilai hasil lukisan Tamara sudah proporsional. Hasil coretannya tersebut sudah tak tergolong karya anak SMP. 

Selain melukis, Tamara pun jago merancang busana, tas tangan unutk orang dewasa. Apalagi untuk kelompok seusianya. Jika ide-ide keluar, seketika juga harus dituangkan dalam bentuk sket. Jika ada kesempatan, langsung mencari bahan untuk dipolakan dan kemudian dijahit.

Urusan humaniora pun Tamara jagonya. Simaklah puisi-puisinya, baik sesuai perasaan hati maupun yang tematik. Misalnya kalau ada yang ulang tahun, Tamara akan menuangkan ide-idenya melalui syair bahkan membuat kerajinan tangan untuk hadiah hari bahagia kawan-kawannya.

Kuliner pun dikuasainya. Kalau nasi goreng, mi goreng dengan ceplok telur adalah hal biasa. Masakan njelimet pun dikuasainya. Bahkan untuk cake sekaliber black forrest hingga ice cream seperti mainan saja. Uniknya, pengetahuan Tamara tersebut berdasar otodidak. Lihat dan belajar dari mikrobglog, kemudian dipraktikan di rumah. Klar deh.

Sharing praktik atas permintaan kakak dan adiknya — Ugani Sri Miquen, 6 September 1995 dan Meisa Angelie Christy, 15 Mei 1997 yang kini studi di Bandung, Jawa Barat serta Panagi Masakti Hasuluman Sianipar, 2 Oktober 2002 — menjadikan Tamara semakin terlatih untuk menyuguhkan yang terbaik.

Di hari-hari besar agama, seperti menjelang Idul Fitri, Natal, Imlek atau Nyepi, kesibukan Tamara bertambah. Soalnya ide-ide kreatifnya diwujudkan untuk bentuk barang. Sama seperti saat Paskah. Krativitasnya mengalir seperti air.

Buah pikir yang selama ini dituangkan di kertas untuk busana, di kanvas untuk lukisan, beralih ke telur. “Ada sejumlah lukisan kanvas Tamara menghiasi ruang publik,” cerita Banuara Sianipar sambil mengatakan lukisan putrinya itu pun bertabur di komunitas keluarga besarnya.

***
Tamara lahir di  Medan, 21 November 2001. Meski punya kepintaran atraktif namun proses kreatifnya tersalur sedemikian rupa. Menimba ilmu di SD di St Antonius tapi tamat St Joseph dan melanjut ke SMP St Thomas. Saking punya kegiatan pribadi yang demikian padat, waktu istirahatnya nyaris tak bersisa. “Kalau tidur, harus diingatkan,” ujar mamanya Br Tobing. (r9/h) 








SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru