Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Cerpen

Oedipus Alam

* karya Maurits Pardosi, Tandang Buhit-Balige
- Minggu, 30 Agustus 2015 15:37 WIB
363 view
Oedipus Alam
Tampaknya, alam enggan untuk mengatakan sesuatu pada hari ini. Mereka merasa malu untuk menunjukkan keindahannya yang tergores oleh kerakusan manusia. Raung buldozers terdengar riuh dari kejauhan pertanda belantara sedang menangis. Hujan lebat mengguyur bumi dan merontokkan batuan yang menumpang pada dinding jalan.

Alamku menangis. Mentari mulai enggan menampakkan taringnya oleh kepulan asap yang menyelimuti bumiku. Ciap kecil anak burung berubah menjadi raungan pohon tumbang. Aku ingin menemukan tempatku bermain bersama teman sebaya, namun kini menjadi perumahan para budak zaman. Kini, mereka sedang masturbasi kekayaan.

Sore itu, aku tiba di desa kelahiranku. Rasanya, aku berada di tempat yang sungguh aneh. Aku mulai heran melihat sekeliling. Hiruk pikuk menyerang telingaku. Aku tidak terlalu banyak bertanya pada ayah yang sedang asyik menghisap cerutu. Keraguan terbentang di pelupuk mata dan aku ingin memungkiri situasi yang sedang kualami. Aku tidak sanggup melihat kenyataan yang menghinggapi desaku. Tidak banyak tanya dan ramah-tamah. Apakah aku salah tempat?, tanyaku dalam hati. Aku ingin bertanya pada ayah, namun aku menjadi sungkan. Tatapan ayah mengubah rencanaku untuk berpikir lebih dalam perihal perubahan ini. Sesekali, dia melemparkan pandangannya, seakan-akan dia berpartisipasi dalam kebingunganku.

Aku mengantarkan kopor ke dalam kamar tua, yang menjadi tempatku untuk mengingat keindahan alam desaku pada masa anak-anak. Di kamar, aku tidak mendapatkan ingatan akan sejuknya air sungai dekat pematang sawah yang terbentang luas. Aku tidak memperoleh ingatan akan ciap kecil anak burung pada pagi hari. Sekumpulan buku dan album foto yang masih tersisa menjadi jawaban terakhir akan pertanyaan yang  menggerogoti alam sadarku. Buku gambarku yang dulu masih memuat keindahan alam. Aku lupa darimana inspirasi itu datang, sebab aku tidak menemukan lagi tempat itu di desaku. Gunung yang kulukis telah menjadi gundukan tanah yang siap meratakan desaku. Sawah yang menjadi tempat bermain, kini menjadi perumahan para buruh Oedipus. Kumpulan foto-foto desaku semakin membuatku semakin asyik untuk mengutuki realitas desaku. Aku yakin bahwa aku menghabiskan masa kecilku di tempat itu. Aku tidak menemukan inspirasi lagi. Aku dipenuhi oleh keraguan akan kebenaran pengalaman pada masa lalu.

Ayah mendekatiku karena aku mengurung diri di kamar tua itu. "Kenapa, nak!" kata ayah sambil merangkulku.

"Aku tidak menemukan desaku lagi, aku tidak pernah dilahirkan di desa ini,” jawabku penuh kekecewaan dan kesedihan.

"Semenjak mereka datang dengan kepiawaiannya, desa ini telah menjadi kepingan harapan,” kata ayah sambil menunjuk cerobong asap yang mengepul tebal.
"Siapa mereka?" tukasku dengan cepat.

"Para pemodal besar," jawab sang ayah dengan lesu. "Mereka adalah putera daerah ini, namun dia berani menghisap darah ibunya demi kepuasannya."

"Apakah ayah juga tinggal diam dengan situasi ini?" tanyaku. "Tidak mungkin ayah berani berjuang seorang diri. Semua keluarga di sini diam. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Empat  minggu yang lalu, hujan asam turun, semua tanaman menjadi kering dan atap rumah menjadi berkarat, bahkan kerbau yang diberikan kepada mereka menjadi mati!”

Ayah menggelengkan kepalanya sambil mengingat apa yang akan dikatakannya. "Dia berani memutus urat nadi keluarganya demi kepentingan pribadinya.
Aku mencoba membayangkan kekejaman Oedipus itu.

Aku mulai mencari oknum yang dimaksudkan ayah. Mereka ingin mengubah desaku menjadikan pusat ekonomi. Katanya, mereka adalah penikmat hidup, ternyata mereka adalah penyumbat hidup. Mereka menggembor-gemborkan tentang kemajuan, namun yang muncul hanyalah penderitaan akibat hujan asam.
Kini, hidupku seperti kodok yang berada dalam sebuah ember. Air dalam ember lama-kelamaan menjadi panas. Aku harus berani keluar dari ember walaupun kulitku terkelupas. Aku akan merelakan kulit bagian luar terkelupas demi hidup yang lebih baik. Keindahan dan keharmonisan adalah masa lalu yang tak pernah terulang lagi. Terlalu sakit untuk mengenangnya kembali. Mengenangnya sama halnya dengan menambal luka baru di atas luka lama. Foto-foto itu rasanya menanyakan sesuatu yang tak mungkin kujawab. Mereka butuh kehadiran mereka dalam eraku sekarang. Foto itu ingin hadir pada situasi yang sedang runyam ini. Foto itu ingin mengatakan bahwa adanya pengulangan mimpi yang pernah ada. Rasanya, hal ini hanyalah sebuah ilusi yang pernah ada.

Kembali aku membolak-balik foto-foto kenangan di masa lampau. Aku sempat menitikkan air mata. Aku hanya mengingat kembali masa yang silam. Suram. Aku mau menemukan keindahan di tengah keboborokan. Aku ingin menemukan kesejukan di dalam kering kerontang. Foto itu mengatakan bahwa desaku dihuni oleh Oedipus Alam. Hadirnya perusak alam membuatku tidak menemukan jati diri desaku yang pernah berdiri kokoh. Kini pesona desaku telah tertancap di kubangan egoisme. Kini, alamku direnggut para Oedipus serakah. Mentari menjadi malu memancarkan panas dan sinarnya. Ciap kecil anak burung berhenti dan digantikan umbaran para pebisnis. Kini tanahku digantikan oleh tanah longsor dan gempa bumi. Riuh suara bambu ketika desiran angin datang digantikan oleh jeritan para petani yang penuh peluh untuk mencari sumber air. Hujan asam silih berganti mengguyur tanaman dan ternak hingga mereka menjadi korban sia-sia. Kini sungaiku mengalirkan limbah pabrik, yang menjadi sarang penyakit. Limbah siap menelan korban jiwa anak-anak yang tak berdosa. Hari-hari silih berganti hanya sebagai rutinitas semata, tanpa memberikan hal yang berarti bagi mereka yang mau menikmatinya.

Perjalananku tadi pagi telah mengantarku pada kenyataan bahwa desaku sudah dihuni oleh para Oedipus. Aroma busuk sudah mulai menyengat hidung saat aku berada di desaku. Semakin aku memasuki desa, semakin banyak keanehan yang terjadi. Awalnya, aku berpikir tentang sebuah perang, namun realitas ini tercipta oleh tangan-tangan durjana yang membunuh alamku demi kuasa dan popularitas. Aneh! Aku mulai menahan sakit saat melihat dinding jalan yang longsor. Bebatuan yang tertancap pada dinding jalan tidak mempunyai tempat berpijak hingga mereka harus pergi dari peraduannya. Alam tidak mau menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka sudah tidak bersahabat lagi. Alamku telah murka. Alamku telah menjadi musuh terberat yang pernah ada. Kemurkaan alam membuatku malu untuk bertanya pada rumput yang bergoyang. Alam akan menelanku ketika ia butuh tumbal kekecewaannya. Kerinduanku tidak terjawab. Aku harus mengganti kerinduanku agar aku dapat berdamai dengan diriku yang penuh tanya akan desaku. Aku tidak menemukan keindahan dan keharmonisan. Aku hanya menemukan kepahitan akibat keserakahan para Oedipus Alam. ***
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru