Pelukis melukis. Tiap lembar kanvas ditorehi cat warna-warni. Berulang kali kuasnya diusapkan ke palet. Berulang kali pula tube cat lukis ditekan supaya mau menetes ke palet itu. Lukisannya masih seperempat jadi. Entah sudah berapa tube cat warna hijau dihabiskannya. Tapi lukisan itu bukan lukisan pemandangan. Dicampurnya cat biru, kuning dan merah. Dioleskannya ke kanvas lukisannya. Diulang-ulang sampai lama, bahkan lama sekali. Lukisannya sudah setengah jadi. Diulanginya cara yang sama. Di lukisannya tampak kepala yang belum lengkap, disusul rambut, dahi, alis, mata, telinga, pipi, hidung dan bibir. Bibir yang merona merah, indah sekali. Rambutnya hitam lurus dihamparkan ke punggung. Di bibirnya tersungging senyum yang sungguh manis. Lukisannya hampir selesai. Pelukis kita menghias lukisannya. Sungguh lukisan yang sangat indah dipandang mata.
Dipandanginya lukisan itu sejenak, seakan ingin mencari kekurangan dan kelemahannya. Namun lukisan itu tiada berkekurangan atau cacatnya sedikit pun. Setelah catnya mengering, dibawanya lukisan itu keluar rumahnya. Dibawanya lukisan itu ke tepi sungai tak jauh dari rumahnya. Dipeluknya lukisan itu barang beberapa saat, lalu dilemparkannya sekuat tenaga hingga hanyut dibawa aliran air sungai yang deras menggelora. Begitulah telah terjadi berulang-ulang. Sudah puluhan lukisan bernasib sama.
***Tak banyak yang tahu lukisan siapa yang dilukis si pelukis. Bahkan si pelukis sendiri tak jelas asal-usulnya, keluarganya dan kehidupan sebelum datang ke desa itu. Sepuluh bulan yang lalu dia menjejakkan kakinya di desa Mujana itu tanpa ditemani siapa pun, dengan asa yang telah ditiup angin. Disewanya rumah kecil dari kepala desa dengan sangat murah. Orang-orang di desa itu yang umumnya petani tak pernah dekat dengan si pelukis yang sangat tertutup.
Di setiap acara-acara hajatan maupun pesta-pesta, tak pernah terlihat batang hidungnya. Belum pernah dia menerima tamu di rumahnya. Setiap pagi, dia pergi ke kota terdekat lalu pulang membawa sekarung alat-alat lukis dan sedikit bahan makanan. Sorenya, orang-orang melihat dia membawa sebuah lukisan ke sungai dan melemparkannya. Itulah yang orang-orang desa tahu tentang si pelukis.
Pernah satu waktu seorang tuan tanah menawarkan lahan kepada si pelukis untuk digarap. Si pelukis menanami lahan itu dengan jagung dan pohon-pohon lain. Sudah hampir panen jagung, sang tuan tanah menarik lahannya kembali. Si pelukis sangat kecewa karena belum sempat menuai tanam-tanamannya. Sejak itu, dia tak mau bila ditawari pekerjaan serupa.
* * *
Suatu ketika, datanglah seorang kaya dari kota ke desa Mujana. Dan bercakap-cakaplah dia dengan si pelukis.
"Halo, Tuan ! Saya datang dari kota yang jauh ingin mencari ilmu ke desa ini. Bisakah tuan menolong saya yang sedang tertimpa kesulitan ini?" tanya si pendatang.
"Saya tak berilmu maupun pengetahuan yang tinggi. Saya hanya orang biasa. Kemampuan saya hanya melukis saja. Itupun tak bagus."
"Ajarilah saya ini melukis, Tuan. Saya sungguh sedang dalam kesulitan dan ingin menyegarkan pikiran dengan melukis."
Akhirnya, si pelukis mengajak si orang kaya itu ke rumah kecilnya dan hidup bersama dengan dia. Tiap hari si pelukis mengajari si orang kaya, yang namanya Hedo. Kebiasaan si pelukis tiap pagi ke kota digantikan Hedo. Mereka kemudian sangat dekat dan bersahabat. Si Hedo yang ternyata pandai dalam perhitungan-perhitungan mengajarkan teknik-teknik berhitung kepada si pelukis. Si pelukis mengajarkan semua yang diketahuinya tentang melukis. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Hedo meninggalkan semua kekayaannya di kota asalnya dan tak mau kembali lagi ke situ. Ia memutuskan tinggal bersama si pelukis untuk selamanya. Si pelukis mulai terbuka pikirannya setelah Hedo bercerita tentang kehidupan dan pengalaman-pengalamannya. ÂHedo mulai mahir melukis sementara si pelukis hampir mahir berhitung.
* * *
Mengetahui keberadaan orang baru di Desa Mujana, orang-orang desa mulai ribut membicarakan kedatangan si orang kaya. Tak seorang pun tahu siapa orang baru yang tinggal bersama si pelukis itu. Banyak yang menduga mungkin orang baru itu kerabat atau teman si pelukis. Hingga pada suatu waktu, datang dua orang laki-laki yang penampilannya amat rapi ke desa itu menggunakan delman. Bertemulah mereka dengan seorang penduduk desa.
"Selamat pagi, Tuan! Kami berdua datang dari kota nan jauh dari sini. Tujuan kami tak lain dan tak bukan untuk mencari keberadaan seorang laki-laki teman kami yang tiba-tiba lenyap dari kota asalnya. Katanya dia ingin mencari ilmu ke tempat yang jauh. Kami mencarinya dan sampai di sini. Apakah tuan tahu orang yang saya maksud ?"
"Kira-kira dua minggu yang lalu, telah datang seseorang yang tak kami kenal ke desa ini. Sekarang dia tinggal bersama seorang pelukis. Mudah-mudahan dialah orang yang tuan-tuan cari."
"Di manakah tinggalnya si pelukis yang tuan maksudkan?"
"Saya akan tunjukkan jalan. Ikuti saya."
Sampailah kedua orang itu di rumah pelukis dan menghampirinya lalu mengetuk. Si pelukis membukakan pintu dan bercakap-cakap dengan kedua pendatang itu.
"Siapakah kiranya tuan-tuan ini?"
"Kami datang dari kota yang jauh. Kami mencari teman kami. Seorang penduduk yang kami jumpai tadi mengatakan ada seorang pendatang yang tinggal bersama tuan. Kami menduga bahwa dialah teman yang kami cari. Di manakah dia?"
"Hedo, ada yang ingin menemuimu."
"Siapa?" tanya Hedo sambil menghampiri mereka.
"Hedo, temanku. Kami mencari engkau sudah sekian lama. Kembalilah ke kota asalmu, keluarga dan teman-teman menantimu. Harta yang sudah lama kau kumpulkan apakah hendak kau biarkan saja melapuk dan terbengkalai di kota?"
"Aku tak mau kembali ke kota itu. Di sini lah keluarga, di sini lah teman dan hartaku."
"Tapi Hedo, siapakah nanti yang akan mengurus hartamu di kota?"
"Aku tak perduli. Aku senang hidup di sini. Kembalilah kalian."
Lalu kedua orang itu pergi berbalik ke arah kota asalnya dengan tangan hampa.
Makin ributlah orang-orang desa ketika mengetahui kedatangan orang kota mencari seseorang. Banyak yang menduga orang yang baru datang polisi atau petugas keamanan negeri yang mencari buronan atau narapidana yang kabur dari tahanan.
* * *
Selepas kepergian temannya yang datang dari kota, Hedo meneruskan kesibukannya bersama si pelukis. Hedo mulai melukis wajah si pelukis. Mulai dari bentuk kepalanya di hari pertama, lalu matanya di hari kedua dan selanjutnya.
Tepat seminggu setelah Hedo mulai melukis wajah si pelukis, sang Pelukis menutup mata untuk selamanya. Tak seorang pun berduka kecuali Hedo. Lukisannya dilapis plastik tebal dan diletakkan di makam si pelukis. Beberapa pelayat datang sekedar menunjukkan rasa iba.
Tiga hari sebelum kematian si pelukis yang tiba-tiba, dia menceritakan semua kisah kehidupannya kepada sahabatnya, Hedo. Wajah wanita yang selalu dilukisnya merupakan sosok istrinya yang meninggalkannya 10 tahun lalu. Dia begitu dirundung kesedihan yang mendalam sehingga lebih senang hidup sendiri dan tertutup. Kedatangan Hedo dalam kehidupannya telah merubah dirinya.
(q)