Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026

Lulusan SMK Sebagai Tenaga Kerja Profesional

- Senin, 12 November 2018 13:15 WIB
874 view
Kemendikbud menyebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sampai ini telah banyak berperan mengurangi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Para lulusan SMK dianggap mampu menyelaraskan bidang studi dan kebutuhan dunia kerja. Kenaikan angka partisipasi lulusan SMK dari 2015-2018 selalu mengalami kenaikan menjadi bekerja dan produktif.

Jika pada 2015 ada 10,8 juta, maka di tahun 2018 angka partisipasi kerja lulusan SMK itu 13,7 juta. Pada Februari 2018, tingkat TPT SMK mengalami penurunan. Kemudian hal serupa terjadi lagi pada Agustus tahun ini. Artinya ada tren penurunan dari tahun ke tahun. Presiden Joko Widodo menargetkan TPT di bawah 5 persen.

Partisipasi kerja lulusan SMK, menurut data Satuan Kerja Nasional (Sakernas) 2014-2018, pada pendataan Agustus maupun Februari selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya. Pada Agustus 2015, angka partisipasi kerja lulusan SMK ada di angka 10.837. Kemudian pada Agustus 2018 berada di angka 13.682.
Adapun penghitungan pada Februari 2015, jumlahnya terus naik hingga pada Februari 2018. Jadi, angka partisipasi kerja lulusan SMK dari 11.800, menjadi 14.545 pada 2018.  Lulusan SMK digaransi siap untuk diterima di dunia industri.

Kemendikbud pun telah membuka kesempatan bagi dunia usaha baik BUMN maupun swasta untuk masuk dan menjadi bagian dalam proses pembelajaran di SMK. Hal ini, tentu akan memerbesar kesempatan bagi lulusan SMK untuk diterima bekerja. Contoh Honda yang memiliki bengkel AHASS memerkerjakan mekaniknya anak-anak lulusan SMK.

Konsep Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah memersiapkan lulusan yang siap kerja. Alumninya didesain untuk segera masuk dunia kerja, tanpa harus melanjut ke perguruan tinggi negeri. Itu sebabnya, kurikulum SMK dirancang agar lebih banyak praktik dari teori.

Harus diakui, dulu teori masih mendominasi di SMK, yang seharusnya lebih ke praktik. Ilmu dan ketrampilan guru-guru tertinggal dari perkembangan di dunia kerja. Fasilitas praktik sangat minim, sehingga meski secara teori sudah dipelajari, namun tak bisa diaplikasikan secara langsung.  
 
Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI ) mengharapkan pemerintah serius dalam menyiapkan dunia usaha yang ramah bagi lulusan SMK. Para ulusan SMK mungkin saja memiliki kualitas yang tinggi di bidangnya. Namun, mereka kemudian enggan memasuki dunia kerja karena iklim yang kurang nyaman, misal hanya kontrak.

Keterbukaan dunia industri untuk terlibat mendidik anak SMK sejak awal, patut diapresiasi. Selanjutnya, mereka harus diperlakukan dengan baik selayaknya sebagai pekerja profesional. Diharapkan kualitas lulusan SMK terus membaik sehingga bisa masuk ke bursa kerja internasional. (**)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru