Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Gerakan Melahirkan Wirausaha Baru

Tajuk
Redaksi - Rabu, 19 Februari 2020 11:32 WIB
750 view
Gerakan Melahirkan Wirausaha Baru
liputan6.com
Ilustrasi
Wirausaha memegang peranan penting dalam menyokong pertumbuhan ekonomi nasional. Mulai dari menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan nasional, menciptakan nilai tambah barang dan jasa, mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial, serta terciptanya masyarakat yang sejahtera. Jumlah mereka menentukan kategori suatu negara maju atau tidak.

Pemerintah berharap jumlah pengusaha di Indonesia terus bertambah. Ditargetkan pada 2030, sebanyak empat persen dari total penduduk berwirausaha.Saat ini, jumlah wirausahawan di Tanah Air baru sekitar 3 persen dari total populasi penduduknya.

Berdasarkan data Global Enterpreneurship Index 2018, dari 137 negara, Indonesia berada di peringkat 94 dalam hal kewirausahaan. Posisi tersebut masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Sebab, Vietnam berada di urutan ke 87, Filipina di posisi 76, Thailand di 71, Malaysia peringkat 58, Brunei Darussalam di 53, serta Singapura berada di urutan ke 27.

Bukan hanya rasio wirausaha saja yang rendah, tetapi juga minim individu berketerampilan sangat tinggi. Indonesia hanya memiliki 0,5 persen dari jumlah penduduk. Sementara warga Korea Selatan yang berketerampilan melebihi 18 persen.

Berdasarkan data, sebenarnya sudah ada peningkatan jumlah wirausaha di Indonesia. Tahun 2014, rasio wirausaha di Tanah Air baru 1,55 persen, kemudian meningkat menjadi 1,65 persen di 2016, hingga akhir tahun 2017 telah mencapai lebih dari 3,1 persen. Angka itu sebenarnya sudah di atas standar internasional yang mematok 2 persen.

Fakta menunjukkan minat orang Indonesia menjadi wirausaha masih rendah. Survei yang dilakukan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyebutkan dari 5 juta mahasiswa yang ada di Indonesia, 83 persen di antaranya bercita-cita menjadi karyawan, 4 persen wiraswasta, dan selebihnya menjadi anggota LSM dan politisi.Fakta itu memprihatinkan di tengah gencarnya era persaingan yang justru mengharuskan Indonesia memiliki lebih banyak wirausaha untuk menopang perekonomian nasional.

Perlu gerakan yang radikal agar keinginan menjadi wirausaha dijadikan kesadaran nasional agar Indonesia mampu membangun bangsanya semakin cerdas dan berdaya saing. Hal itu bisa dimulai sejak bangku kuliah, bahkan sekolah lanjutan. Perguruan tinggi perlu mengubah mindset dari mencari ijazah saja. Melainkan fokus terhadap ilmu dan menciptakan lapangan kerja. Ini menyangkut mindset yang perlu diubah sejak dini.

Diperlukan kolaborasi seluruh elemen bangsa, karena pertumbuhan ini hanya akan dapat dicapai manakala semua stakeholder bergerak. Dalam pengembangan daya saing industri nasional, diperlukan penyiapan kompetensi SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha saat ini. Menciptakan SDM Indonesia yang terampil itu perlu melalui kegiatan vokasi.

Beberapa usaha yang patut dicoba dan mudah untuk dilakukan seperti membuka warung sup buah, waralaba, jualan pulsa, jualan buku, jasa pengetikan, dan jualan ATK (alat tulis kantor). Di era gadget seperti sekarang, di era semua serba digital, bisa membuka online shop. Tidak harus dengan website, karena jejaring sosial bisa dimanfaatkan. Jika semangat wirausaha dimulai sejak dini, maka keinginan menjadi pengusaha akan semakin besar.

Melahirkan pengusaha bukanlah pekerjaan satu malam atau semudah membalikkan tangan. Tak cukup hanya mengampanyekan atau memberi motivasi. Pemerintah mesti menanamkan bibitnya sejak dini dan saat memasuki bangku kuliah sudah bisa memulai bisnis sendiri meski skala kecil. Program melahirkan pengusaha sebaiknya diintensifkan dan melakukan pendampingan.(**)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru