Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 21 Februari 2026

Antisipasi Dampak Corona Terhadap Sektor Pariwisata

Tajuk
Redaksi - Kamis, 20 Februari 2020 11:43 WIB
218 view
Antisipasi Dampak Corona Terhadap Sektor Pariwisata
suara.com
Ilustrasi
Tugas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada periode kedua Jokowi makin berat. Sebab sebelumnya telah dicanangkan untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa nomor satu di Indonesia. Selama ini pendapatan negara masih ditopang sektor perkebunan dan pajak.

Upaya tersebut telah dimulai pada periode pertama dengan menetapkan sepuluh destinasi prioritas, dan kemudian tiga super prioritas. Dana yang sangat besar ditumpahkan untuk melakukan pembenahan di sana sini. Terakhir dirancang Labuan Bajo menjadi destinasi wisata premium, dengan andalan Komodo.

Capaian sektor pariwisata sudah sangat positif dalam beberapa tahun terakhir. Gambarannya terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal tahun lalu. Selama Januari 2019 turis asing yang datang ke Tanah Air tercatat mencapai 1,16 juta kunjungan, naik 5,22 persen dari periode yang sama 2018, yaitu 1,10 juta kunjungan.

Wisatawan dari Cina terbanyak berkunjung sepanjang Januari tahun lalu. Kunjungan wisatawan Negeri Tirai Bambu itu melesat 73,01 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Namun, akibat virus corona yang mewabah di awal tahun ini angka yang dicapai tersebut kemungkinan besar menurun. Kondisi saat ini makin berat karena Indonesia telah menghentikan sementara waktu penerbangan dari dan ke Cina.

Indonesia harus bergegas mengantisipasi dampak virus corona ini. Jika dibiarkan, maka sektor pariwisata akan ambruk ke titik nadir. Sebab ada analisis, wabah yang pertamakali menyebar di Wuhan ini, akan bertahan lama, lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Dari sisi kesehatan, tentu upaya pencegahan akan terus dilakukan. Semua pintu masuk dari luar negeri mesti siaga 24 jam. Jangan sampai virus itu masuk ke Indonesia karena aparat lengah. Walau hingga kini belum ada laporan virus tersebut telah menyebar di Indonesia.

Dari sisi pariwisata, harus ada terobosan agar pariwisata Indonesia bisa bertahan, bahkan memanfaatkan masalah yang ada, menjadi peluang. Pemerintah berencana akan membuat diskon di sektor pariwisata. Diskon tersebut bersifat komprehensif, dari harga tiket pesawat, landing fee , harga avtur, hingga tarif hotel.

Diskon tersebut terutama diberikan untuk destinasi wisata yang terpengaruh akibat penyebaran virus corona dan destinasi wisata unggulan, antara lain Bali, Kupang, Sulawesi Utara, Bintan, Batam. Dipertimbangkan juga untuk destinasi lain seperti Yogyakarta, Lombok, dan Labuan Bajo.

Kemenparekraf telah bertemu dengan Kementerian Perhubungan dan mengumpulkan 33 maskapai yang beroperasi di Indonesia. Direncanakan memberikan bantuan promosi dengan membuat "bundled package" penerbangan, akomodasi, dan atraksi dengan harga yang kompetitif, bekerja sama dengan online travel agent (OTA) dan juga travel agent/tour operator (TA/TO). Ada juga bantuan promosi berupa skema "joint promotion" yang diharapkan akan memperkuat pemasaran paket wisata.

Kreativitas memang dibutuhkan demi membuat sektor pariwisata Indonesia tetap bergairah. Selain menggelar diskon, pemerintah perlu menyiapkan langkah lain, misalnya menggarap pasar Asia lainnya seperti Jepang, Korea, dan India setelah Cina menurun. Selain itu, pasar alternatif lainnya perlu dimaksimalkan seperti dari Australia dan Eropa. (**)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru