Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026
TAJUK RENCANA

Strategi Bertumbuh di Masa Sulit

Redaksi - Sabtu, 22 Februari 2020 11:40 WIB
238 view
Strategi Bertumbuh di Masa Sulit
liputan6.com
Ilustrasi
Ekonomi global sedang suram-suramnya. Cina yang selama ini dikenal hebat, kini ambruk karena virus corona. Kondisi ini berdampak ke seluruh dunia, seperti Singapura yang dikenal kuat, ikut mengalami resesi.

Indonesia memiliki banyak bisnis dengan Cina. Jadi tak berlebihan jika ada analisis bakal berdampak ke Tanah Air. Itu sebabnya, harus ada tindakan antisipatif agar paling tidak eksesnya minimal, bahkan memanfaatkannya menjadi peluang.

Pemerintah malah membuat target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,3 persen pada 2020 ini. Kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap total PDB nasional dibidik hingga 17,8 persen sepanjang tahun ini. Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional akan mencapai 72,2 persen pada 2020.

Pada 2019, nilai investasi industri pengolahan nonmigas mencapai Rp 215,9 triliun dan tenaga kerja industri pengolahan nonmigas sebanyak 18,87 juta orang. Industri pengolahan nonmigas skala besar dan sedang tumbuh sebanyak 1.476 unit, sedangkan industri kecil tumbuh sebanyak 7.986 unit. Adapun, hingga saat ini kawasan industri yang sudah terbangun sebanyak 14 kawasan.

Untuk mencapai target optimistik tersebut, pemerintah menyusun strategi khusus memercepat pertumbuhan sektor industri nasional guna menggerakkan perekonomian dalam negeri. Pertama, koordinasi pembangunan industri dengan kementerian dan lembaga terkait lain. Upaya tersebut, meliputi dua aktivitas utama, yaitu penjaminan pemenuhan kebutuhan bahan baku dan bahan penolong bagi industri manufaktur.

Kedua, implementasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Antara lain melalui optimalisasi belanja modal pemerintah pusat dan BUMN dan pengaturan impor produk yang sudah bisa diproduksi dalam negeri. Kemudian ada rencana pengenaan sanksi bagi yang melanggar ketentuan terhadap kewajiban penggunaan produk dalam negeri.

Ketiga, penguatan ekspor dan substitusi impor, di antaranya melalui diversifikasi industri unggulan untuk ekspor, membuka secara agresif pasar-pasar baru untuk produk industri, melakukan pendekatan terhadap prinsipal-prinsipal otomotif di Indonesia untuk menjadikan Indonesia basis ekspor. Selanjutnya, mendorong investasi pabrik-pabrik komponen di negara-negara yang menjadi target ekspor baru. Kemudian, memastikan penyelesaian impor bahan baku khususnya impor limbah non B3.

Keempat, mendorong investasi di sektor industri, yang meliputi perbaikan kemudahan perizinan, promosi investasi dan fasilitasi pemberian insentif investasi. Kelima, penguatan daya beli masyarakat, sehingga dapat meningkatkan konsumsi produk dalam negeri. Antara lain melalui penurunan besaran uang muka untuk produk pembelian mobil dan motor, mempercepat penyaluran dana bantuan sosial ke masyarakat, serta meningkatkan utilisasi industri dalam rangka penciptaan lapangan kerja.

Kita mengapresiasi strategi yang optimistis ini. Berbagai kemungkinan tetap harus diantisipasi. Fundamental ekonomi yang bersandar kepada kekuatan sendiri harus diperkuat. Kesadaran anak bangsa untuk mengutamakan produk dalam negeri mesti ditingkatkan.
Pertumbuhan industri tanggung jawab bersama. Kondisi ekonomi global mungkin belum membaik dalam tahun ini. Namun, Indonesia tak boleh kalah dan harus selalu berikhtiar. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru