Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 25 Maret 2026

Menghalau Keraguan Vaksinasi Covid-19

Redaksi - Jumat, 18 Desember 2020 09:49 WIB
463 view
Menghalau Keraguan Vaksinasi Covid-19
Shutterstock
Ilustrasi vaksin
Ada kabar gembira untuk masyarakat Indonesia. Kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan vaksin Covid-29 akan diberikan secara gratis. Keputusan ini diambil setelah menerima banyak masukan dari masyarakat.

Keputusan ini diikuti dengan instruksi kepada seluruh jajaran kabinet, kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan program vaksinasi pada tahun anggaran 2021. Ia juga meminta Menkeu Sri Mulyani untuk merealokasi anggaran dari pos lain demi memenuhi kebutuhan biaya pendistribusian vaksin corona gratis ke seluruh masyarakat.

Sri Mulyani menyatakan pemerintah menyiapkan anggaran Rp 60,5 triliun untuk pengadaan dan distribusi vaksin corona di Indonesia. Anggaran ini merupakan lanjutan dari pengadaan vaksin yang baru saja masuk ke Indonesia sebanyak 1,2 juta dosis, Minggu (6/12) malam.

Bahkan yang lebih menarik lagi, Jokowi menegaskan akan menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama di Indonesia. Keputusan ini diambil Jokowi guna meyakinkan masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman.

Keputusan ini bukan hal yang main-main dilakukan oleh seorang kepala negara berpenduduk cukup besar di dunia. Bahkan sepertinya, Jokowi adalah pemimpin negara pertama di dunia yang menyatakan bersedia sebagai yang terdepan divaksinasi virus membahayakan itu.

Artinya keputusan ini sebagai suatu sikap yang sungguh-sungguh untuk mengakhiri pandemi Covid-19 yang sudah memporak-porandakan segala sendi kehidupan masyarakat dunia, khususnya bidang ekonomi. Jokowi benar-benar menunjukkan komitmen yang kerap diserukannya pada berbagai kesempatan di ajang kegiatan internasional. Ia berharap dunia bersatu untuk mengatasi masalah pandemi Covid-19.

Keputusan ini juga sangat tepat untuk menghempang gencarnya berita hoaks tentang vaksinasi Covid-19 ini. Akibat berita hoaks yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab, menimbulkan dampak sangat merugikan bagi percepatan pemulihan kesehatan dan perekonomian dunia.

Beberapa waktu lalu, heboh di media sosial soal meninggalnya 6 relawan dalam uji coba vaksin Covid-19 Pfizer tahap akhir. Vaksin Pfizer diketahui memiliki efektivitas lebih dari 90 persen dan mendapat rekomendasi emergency use of authorization (EUA) dari BPOM AS. Hoaks yang beredar menyebutkan, vaksin Pfizer memanipulasi data dan suntikan yang diberikan diklaim seperti racun.
Informasi keliru ini dibagikan dalam laman akun Facebook Timothy Webster, Kamis (10/12/2020), dan tak sedikit yang menyukai postingan tersebut.

Menanggapi itu BPOM AS (FDA) menyebut kematian 6 orang tersebut tidak berkaitan dengan masalah keamanan vaksin corona Pfizer. Hanya ada dua orang yang menerima vaksin dan empat lainnya menerima plasebo.

"Ada total enam kematian dalam percobaan 44.000 orang, dengan dua kematian di antara mereka yang mendapat vaksin dan sisanya pada mereka yang menerima plasebo, dokumen menunjukkan. Tetapi semua kematian merupakan peristiwa yang terjadi pada populasi umum pada tingkat yang sama," kata staf FDA, dikutip dari Reuters.

Namun sayangnya berita hoaks itu sudah menyebar luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang ragu dengan keampuhan dan kehalalan vaksin. Bahkan para tenaga medis juga meragukannya dan menolak sebagai prioritas vaksinisasi. Belakangan juga muncul informasi kalau Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ikut menolak, meski belakangan keterangan itu dibantah.

Mengenai hal ini, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhillah, menilai pemerintah perlu memberikan jaminan keamanan kepada nakes yang akan menerima vaksin.

"Ini mungkin kaitannya, pemerintah bisa meyakinkan masyarakat termasuk tenaga kesehatan, bahwa vaksin ini sudah aman, karena beberapa waktu yang lalu, pertentangan terhadap vaksin ini masih cukup sengit," kata Harif kepada BBC News Indonesia.
Harif juga meyakini pemerintah tak akan gegabah memberikan vaksin terhadap tenaga kesehatan yang ia sebut sebagai kelompok vital dalam penanganan Covid-19.

Kini semua keraguan itu sudah dijawab Presiden Jokowi yang bersedia sebagai orang pertama divaksin Covid-19, sekaligus memutuskan menggratiskan untuk semua masyarakat. Jadi diharapkan tidak ada lagi keraguan masyarakat untuk divaksin massal secara gratis, agar upaya menuntaskan pandemi Covid bisa terlaksana dengan baik. Kehidupan bisa kembali normal, namun kita tetap mengambil hikmah yang baik dari keadaan selama ini. (***)

Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru