Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026

Infrastruktur Pendukung Mudik

- Senin, 29 Desember 2014 11:07 WIB
345 view
Mobilisasi manusia cukup tinggi memasuki Tahun Baru 2015 ini. Volume kendaraan yang tinggi  sangat rentan terjadi kecelakaan. Untuk itu kesadaran berlalu lintas sangat penting sebagai upaya mencegah terjadinya kecelakaan. Ingat, keselamatan di atas segalanya. Dalam berkendaraan perlu kita memahami filosofi biar lambat asal selamat, karena keselamatan di atas segalanya.

Penyakit berlalu lintas seperti mengebut, tidak menghiraukan rambu-rambu harus dibuang agar semua pengguna jalan bisa selamat sampai ditujuan masing-masing. Sisi kesadaran berlalu lintas oleh pengguna jalan merupakan variabel yang paling utama agar tidak terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan. Tetapi ada variabel lain yang juga tidak kalah penting, bagaimana infrastruktur pendukung arus mudik yang sangat besar ini?

Infrastruktur pendukung seperti kesiagapan aparat polisi lalu lintas, tim medis di jalan, sampai pada antisipasi longsor atau kerusakan di jalan harus dipersiapkan 24 jam. Sudah merupakan tanggung jawab negara melalui aparatnya untuk memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat agar semua pengguna jalan dan arus mudik berlangsung dengan aman dan tertib.

Terlebih saat ini kerusakan karena longsor sering terjadi. Beberapa ruas jalan di Pulau Jawa bahkan di beberapa titik lokasi di Sumut ada yang longsor. Bagaimana pemudik bisa nyaman jika kemacetan total terjadi hanya karena longsor. Untuk itu manajemen lalu lintas saatnya dikelola dengan profesional. Aparat Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Polisi  dan aparat dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) harus  bersinergi 24 jam untuk memperlancar arus mudik sehingga masyarakat bisa mudik dengan tenang.

Hasrat masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga merupakan hal yang patut dihargai. Keinginan berjumpa dengan keluarga merupakan bentuk dari kasih, cinta, loyalitas, patuh dan hormat. Pada saat masyarakat mudik melepas rasa rindu dengan keluarga, bisa kita simpulkan betapa nilai-nilai kebaikan itu masih melekat kuat dalam diri masyarakat kita. Masalahnya, bagaimana kita mengelola modal sosial (social capital) yang sangat bagus ini untuk mendorong masyarakat kita punya karakter yang bagus?

Dengan adanya tradisi mudik juga mampu mampu mendongkrak ekonomi keluarga karena pemudik akan mengeluarkan uang yang bisa membuat perputaran uang dalam jumlah besar. Adanya transfer dana ke desa atau kampung halaman oleh pemudik tentu sedikit banyaknya mendongkrak ekonomi desa. Tetapi lebih dari itu, mudik atau pulang kampung ini sebagai sarana untuk menjalin betapa persatuan (unity) dan kebersamaan (egality) itu masih terpelihara di negara ini.
 
Tentu momen ini harus kita jaga sebagai tradisi yang kaya dengan kearifan lokal. Untuk itu, tugas utama pemerintah adalah mempersiapkan infrastruktur mudik  agar masyarakat pemudik bisa sampai selamat dan bisa berkumpul bersama keluarga besar mereka dengan penuh kebahagiaan. Untuk itulah, antisipasi harus dilakukan. Jangan setelah terjadi permasalahan semua sibuk mencari solusi dan kesalahan orang lain. Saatnya kita punya visi yang jauh ke depan dalam segala hal. Hanya dengan demikian, kita terbiasa melakukan kebijakan antisipatif sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk kebijakan membangun infrastruktur mudik atau pulang kampung yang bisa mendorong kebahagiaan masyarakat kita.(#)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru