Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 29 Oktober 2026

Teknologi AI Mampu Deteksi Kapan Orang akan Meninggal

- Kamis, 08 Juni 2017 20:47 WIB
500 view
Ilmuwan Australia telah membangun sebuah sistem kecerdasan buatan (AI). Sistem AI tersebut mampu memprediksi apakah seseorang akan segera mati, dengan melihat gambar organ tubuh.

Periset di University of Adelaide, menggunakan AI untuk menganalisis pencitraan medis dari 48 dada pasien. Sistem ini mampu memprediksi pasien mana yang akan meninggal dalam lima tahun ke depan dengan akurasi sekira 69%.

Berdasarkan pembelajaran mendalam, AI menarik kesimpulan didasarkan repositori besar data yang sebelumnya dimasukkan.

"Meskipun dalam penelitian ini hanya sebagian kecil sampel yang digunakan, penelitian kami menunjukkan bahwa komputer telah belajar mengenali pencitraan kompleks dari berbagai penyakit, sesuatu yang memerlukan pelatihan ekstensif untuk ahli manusia," kata pemimpin penulis Dr Luke Oakden-Rayner.

AI bisa menjadi penting untuk software machine learning medis masa depan karena kebanyakan sistem saat ini hanya dapat mendiagnosis penyakit dan tidak memprediksi kematian. Selain itu, memeriksa organ individu bisa memakan waktu. AI seperti yang digunakan oleh peneliti dapat menentukan kesehatan organ lebih cepat dan membantu dokter membuat rencana perawatan dengan rinci.

"Alih-alih berfokus pada diagnosis penyakit, sistem otomatis dapat memprediksi hasil medis dengan cara yang tidak dilatih oleh dokter, dengan memasukkan data dalam jumlah besar dan mendeteksi pola halus," kata Oakden-Rayner.

Di London Institute of Medical Services, AI serupa baru-baru ini dikembangkan untuk meneliti jantung. Alat tersebut diklaim mampu memprediksi apakah pasien akan meninggal tahun depan dengan akurasi 80% dibanding dengan akurasi 60% oleh dokter manusia biasa. Demikian seperti dilansir IB Times, Senin.

Bantu Deteksi Penyakit Kebutaan
Al Juga disebut-sebut dapat membantu untuk melawan komplikasi diabetes yang memengaruhi mata. Sejumlah periset dari Byers Eye Institute di Stanford University membuktikannya.

Studi yang dipublikasikan di jurnal American Academy di Ophthalmology, periset menggambarkan bagaimana mereka menggunakan metode pembelajaran mendalam untuk menciptakan algoritma otomatis untuk mendeteksi retinopati penyakit diabetes.

Retinopati diabetes adalah suatu kondisi yang merusak pembuluh darah di bagian belakang mata yang menyebabkan kebutaan. Keuntungan algoritma ini tidak memerlukan peralatan komputer khusus, teknologi ini bisa dijalankan di komputer pribadi biasa atau smartphone dengan prosesor rata-rata.

Theodore Leng, MD penulis utama penelitian ini mengungkapkan bahwa AI algoritma besutannya dapat mengidentifikasi semua stadium penyakit, mulai dari yang ringan hingga berat dengan tingkat akurasi 94%.

Sekira 45% pasien diabetes cenderung memiliki retinopati, namun kurang dari separuh pasien menyadari akan kondisinya. Deteksi dan pengobatan dini merupakan bagian integral dari memerangi epidemi penglihatan yang dapat dicegah di seluruh dunia. Demikian dikutip dari Science Daily, Minggu (4/6/2017). (Okz/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru