Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026

BPPT: Kawasan Wisata Perlu Alat Pendeteksi Tsunami

- Kamis, 31 Januari 2019 12:16 WIB
275 view
BPPT: Kawasan Wisata Perlu Alat Pendeteksi Tsunami
SIB/T/Khory
JELASKAN MITIGASI BENCANA:Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Hammam Riza saat menjelaskan mitigasi bencana di Kantor BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Oktober 2018.
Potensi bencana alam, seperti tsunami yang menerjang kawasan ekonomi khusus (KEK) Tanjung Lesung pada akhir 2018 lalu, menjadi perhatian pemerintah terkait ketentuan pengembangan KEK zona pariwisata. "Kawasan Ekonomi Khusus dalam hal ini kami usulkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana melalui pemanfaatan teknologi," kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/1).

Menurut Riza, Kawasan Ekonomi Khusus, seperti kawasan pariwisata penting untuk memerhatikan potensi dan kerawanan bencana. Sehingga, mitigasi sangat penting untuk dilakukan. "Perlu perangkat teknologi deteksi dini terhadap kerawanan bencana di wilayah tersebut. Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah ring of fire, memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, gunung meletus dan tsunami," katanya.

Untuk itu, kata Riza, diperlukan adanya mekanisme yang dapat mengantisipasi bencana serta menanggulangi pasca terjadinya bencana. "BPPT dalam hal ini akan berperan dalam memberikan rekomendasi teknologi yang tepat sebagai perangkat deteksi dini bencana. Seperti BUOY Tsunami, Alat deteksi kabel bawah laut atau CBT, serta teknologi lainnya," ujarnya.

Agar KEK dapat berperan maksimal, kata Riza, diperlukan adanya instrumen teknologi multi bencana untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman fenomena alam. "Terkait keberadaan BUOY, aksi vandalisme dan pencurian membuat BUOY rusak atau bahkan ditarik masyarakat setempat ke perairan terdekat," ungkapnya.

Pengembangan BUOY kali ini dilengkapi dengan sensor khusus untuk mengetahui keberadaan BUOY, serta dibuat dari bahan yang tidak berpotensi untuk dicuri di tengah laut. "BUOY merah putih ini nantinya akan dibuat dengan menggunakan bahan polimer. Kemudian kami lengkapi dengan berbagai instrumen termasuk sensor lokasi dan tekanan (pressure gauge) supaya BUOY bisa bekerja secara realtime," ujarnya.

Riza juga mengatakan bahwa saat ini BPPT tengah merevitalisasi beberapa buah BUOY untuk dapat segera dipasang di berbagai lokasi. Untuk dipasangnya nanti akan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya BPPT. "Kami harap dukungan berbagai pihak untuk bersama berkomitmen untuk menjaga BUOY di perairan nusantara. Demi kesiapsiagaan dan keselamatan kita bersama," kata dia. (T/q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru