Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026

Kecerdasan Buatan Pengaruhi Peradaban Dunia

- Kamis, 21 Maret 2019 21:29 WIB
467 view
Kecerdasan Buatan Pengaruhi Peradaban Dunia
Ilustrasi
Banyak pertanyaan yang diajukan oleh sekelompok anak berusia lima tahun kepada pakar kecerdasan buatan (AI) terkenal asal Tiongkok, Dr Lee Kai-Fu. Tokoh yang banyak dibicarakan orang ini, ternyata punya lima puluh juta orang pengikut di media sosial di Tiongkok, yang berarti ia memiliki lebih banyak penggemar daripada pembawa acara talk show Amerika Serikat yang diasuh oleh Oprah Winfrey.

Lee, 57 tahun, adalah adalah presiden pendiri Google China periode 2005 hingga 2009, dan sebelumnya ia pernah menjabat sebagai wakil presiden di perusahaan teknologi terkenal seperti Microsoft dan Apple.

CEO Microsoft, Satya Nadella, bahkan menyebut buku Lee yang masuk dalam daftar buku terlaris versi New York Times berjudul AI Superpowers: China, Silicon Valley dan New World Order, sebagai sebuah buku yang wajib dibaca.

Menurut Lee, peran kecerdasan buatan terutama saat diaplikasikan pada robot, bukan serta merta peran robot bisa menggantikan peran manusia, karena robot bagaimanapun juga memiliki keterbatasan.

"Tak perlu mengkhawatirkan bakal terjadinya perkawinan manusia dengan robot, hanya karena sebagian kecil orang mungkin ingin memperlakukan robot sebagai manusia," kata Lee. "Begitu juga untuk perawatan lansia, saya pikir itu justru hal itu menuju ke arah yang salah. Saya percaya bahwa perawatan lansia adalah pekerjaan yang harus kita lakukan anak-anak dari kita terhadap orang tuanya. Ketika kita tidak bisa melakukannya, kita harus mempekerjakan manusia," imbuh dia.

Walau begitu, Lee mengakui bahwa AI dapat digunakan untuk tugas-tugas duniawi, seperti mengingatkan kita untuk minum obat atau memantau keamanan kita. Tetapi bagi ahli AI ini, kehangatan perilaku manusia adalah yang terpenting.

"Ibuku menderita demensia, dan ketika dia masih hidup 15 tahun terakhir, anak-anaknya yang mungkin menghabiskan lima hingga 10 jam sehari bersamanya, yang membuat demensianya tak menjadi lebih parah," kenang dia. "Tidak mungkin robot bisa melakukan semua itu," tambah Lee.

LAPANGAN PEKERJAAN
Lee memprediksi, bagaimanapun juga, AI akan merebut banyak pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya dalam waktu singkat. Menurut dia sekitar 40 persen dari ratusan juta pekerjaan yang ada saat ini akan sirna hanya dalam kurun waktu 15 tahun.

Namun menurut Lee, walau ada banyak pekerjaan akan dikerjakan AI, namun di sisi lain teknologi kecerdasan buatan juga akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru. "Misalnya, ketika internet pertama kali diperkenalkan, tidak ada dari kita yang bisa memprediksi 20 tahun kemudian akan ada 10 juta pengemudi Uber dan Didi di dunia. Maka itu banyak pekerjaan yang sedang diciptakan," jelas dia.

Dalam paparannya, Lee juga menjelaskan bahwa AI juga akan turut berperan dalam membebaskan manusia dari banyak pekerjaan yang membosankan dan apa yang akan diminati adalah pekerjaan di mana kreativitas dan kasih sayang adalah elemen kunci.
"Manusia akan dapat melakukan hal-hal yang ia sukai, kuasai, dan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sukai, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita cintai dan bahkan waktu untuk berpikir tentang apa yang membuat kita menjadi manusia," pungkas dia. (KJ/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru